Yoga Andika
  • 44
  • 0
  • 0
  • 0

Tokoh Inspiratif

Foto: (sumber: satu-indonesia.com)

 

Yoga Andika: Sosok di Balik Berdirinya ‘Posyandu Remaja’

 

Posyandu Remaja yang dirintisnya jadi semacam terobosan baru bagi upaya pencegahan pernikahan dini yang angkanya masih saja meningkat. Selain mempermudah akses layanan kesehatan, Posyandu ini juga banyak melakukan penyuluhan yang mencerdaskan remaja di sekitarnya.

 

Setiap tanggal 12 Agustus, para remaja di dunia sebenarnya tengah memperingati Hari Remaja Internasional untuk merayakan berbagai hal yang berkaitan dengan remaja. Ditetapkan pertama kali oleh PBB di tahun 1998, Hari Remaja Internasional baru dirayakan pertama kali di 12 Agustus 2000. Tujuan diadakannya peringatan ini antara lain untuk menarik perhatian masyarakat dunia pada isu dan masalah seputar anak muda, terlebih sehubungan dengan budaya dan hukum.

 

Hari remaja di tanah air, sangat erat kaitannya dengan masalah budaya dan hukum. Khusus soal budaya, remaja Indonesia sesungguhnya masih berkutat dengan masalah pernikahan dini. Bagai dua sisi mata pedang, peristiwa pernikahan dini yang kerap terjadi masih dianut sebagai ketaatan seseorang terhadap adat istiadat bahkan pandangan ajaran agama yang dianutnya, sementara di sisi lain, aneka risiko sebagai akibat dari pernikahan dini tadi juga tidak kalah besarnya. Sebut saja, bertambahnya angka kematian ibu; banyaknya anak penderita stunting; kekerasan dalam rumah tangga; dan yang terakhir, jerat kemiskinan.

 

Persentase pernikahan usia muda (dini) di Indonesia seperti yang tercatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2018 lalu berada di angka 15,66 persen. Angka ini meningkat dari 14,18 persen dari tahun 2017. Kenaikan persentase pernikahan dini ini tentu jadi catatan tersendiri bagi pemerintah yang sedang terus berusaha memperbaiki Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Berdasarkan data BPS, provinsi dengan jumlah persentase pernikahan muda tertinggi adalah Kalimantan Selatan sebanyak 22,77 persen; Jawa Barat, 20,93 persen;  dan Jawa Timur, 20,73 persen.  Dengan data ini, BPS menyatakan, meningkatnya angka pernikahan muda menjadi salah satu penghambat laju IPM nasional di tahun 2018.

 

Terus meningkatnya angka pernikahan dini lantas membawa sosok remaja yang penuh kepedulian bagi sesamanya. Sosok itu bernama Yoga Andika (23 tahun). Remaja asal Pasuruan, Jawa Timur ini dengan segala keprihatinannya dengan kondisi temannya sesama remaja lalu bergerak dan mempepolpori berdirinya Posyandu Remaja di Desa Tosari, Pasuruan, Jawa Timur di tahun 2015 silam. Sasaran program dari gerakan yang disebut ‘Laskar Pencerah’ ini adalah remaja usia SMP hingga SMA. Materi penyuluhan meliputi pernikahan dini, bahaya seks pra nikah, efek negatif  miras dan nikotin serta budaya hidup sehat dan menjaga kebersihan lingkungan.

 

Berawal di satu desa yaitu Wonokotri, Posyandu Remaja telah menjangkau enam desa dengan delapan pos untuk kegiatan Posyandu. Tercatat enam SMP dan tiga SMA yang para siswanya rutin diberi penyuluhan hidup sehat. Para siswa itu juga diarahkan untuk menjadi kader Posyandu Remaja untuk dapat melakukan pemberdayaan kesehatan remaja. Rencananya, Yoga mengupayakan 100 persen remaja di Kecamatan Tosari dapat mengikuti kegiatan Posyandu Remaja.

 

“Posyandu Remaja didirikan oleh remaja untuk mengatasi masalah yang dihadapi remaja. Jika masalah remaja tidak diatasi, ke depan, masalah yang dihadapi remaja akan lebih besar lagi, dan kehidupan remaja akan semburat karit atau berantakan. Padahal remaja adalah ujung tombak kejayaan suatu negara,” kata Yoga. Menurut Penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2016 Astra International di bidang kesehatan ini, Posyandu Remaja didirikan bekerja sama dengan pemimpin desa, Puskesmas setempat, dinas kesehatan dan organisasi remaja Laskar Pencerah yang dipimpinnya. “Tujuan berdirinya Posyandu Remaja adalah memantau kesehatan dan memberikan informasi kesehatan bagi remaja, menurunkan angka pernikahan dini, serta meningkatkan kapasitas dan partisipasi remaja Desa Tosari dalam pembangunan,” ujar Yoga lagi yang lahir di Pasuruan, 30 Juni 1997.

 

“Faktor lain mengapa kami mendirikan Posyandu Remaja karena kondisi geografis yang sulit, terbatasnya sumber daya manusia dan fasilitas kesehatan yang membuat akses remaja terhadap pelayanan kesehatan sangat terbatas,” ucapnya. Yoga mengungkapkan, tingginya pernikahan remaja di usia dini lebih disebabkan oleh minimnya pengetahuan yang dimiliki remaja. “Ada kejadian sangat mengerikan sekali. Seorang remaja melahirkan bayi dengan berat kurang dari 1 kilogram. Bayinya sangat kecil. Lalu, satu minggu kemudian, bayinya meninggal,” katanya. Kejadian ini, kata Dia, tidak hanya sekali terjadi, tapi berkali-kali.

 

Berbekal pengetahuan yang diberikan oleh Puskesmas, Yoga dan Kawan-kawannya di ‘Laskar Pencerah’ memberikan penyuluhan dalam kegiatan Posyandu yang diadakan setiap satu bulan sekali di setiap desa. “Harapannya, melalui materi-materi penyuluhan yang kami berikan, remaja dapat memiliki informasi lebih luas lagi mengenai dampak pernikahan pada usia dini,” katanya.

 

Apa saja kegiatan di Posyandu Remaja? Yoga menuturkan, kegiatan di Posyandu Remaja diawali dengan pendaftaran pada meja pertama, dilanjutkan dengan pengukuran dan pencatatan antropometri pada meja kedua. Setelah itu, konseling gizi pada meja ketiga, lalu komunikasi, informasi, dan edukasi pada meja keempat. “Supaya tidak bosan, saya menyelingi dengan kegiatan senam bersama atau menambahkan materi tentang kewirausahaan. Harapannya supaya remaja bisa punya usaha sendiri,” tambahnya.

 

Yoga juga menuturkan bahwa telah berdiri delapan Posyandu Remaja di delapan desa di Kecamatan Tosari, di mana setiap posyandu memiliki lima kader remaja yang berasal dari desa setempat dan difasilitasi tim Laskar Pencerah. Setiap Posyandu desa telah memiliki struktur organisasi, jadwal rutin bulanan, serta rencana kurikulum komunikasi, informasi, dan edukasi. Selain di Posyandu Remaja, Yoga dan teman-temannya memberikan penyuluhan ke sekolah-sekolah SMP dan SMA mengenai pendidikan seks. “Kader remaja di setiap posyandu sekarang sudah mampu menjadi pendidik sebaya,” katanya.

 

Keprihatinan akan teman sebaya dari berbagai risiko terjadinya pernikahan dini serta memperkuat edukasi gaya hidup yang sehat lagi baik untuk remaja, seperti yang dilakukan oleh Yoga ini telah memunculkan lagi sosok relawan muda yang dapat membanggakan bagi bangsa ini. Perlahan tapi pasti, berbagai upaya rintisannya dapat jadi harapan baru meningkatnya Angka Indeks Pembangunan Manusia yang semoga terus membaik, begitu juga dengan berkurangnya angka pernikahan dini buah dari edukasi seputar kesehatan reproduksi. Peduli bagi sesama, kerelawanan yang bertumbuh, sungguh sebuah kekuatan baru yang inspiratif.

 

Menularkan keprihatinan menjadi sikap kepeloporan dan kebiasaan baik oleh Yoga sesungguhnya adalah investasi terhadap kebaikan yang dipercaya akan terus berbuah baik selamanya. Kebiasaan buruk pun lama-lama berubah menjadi budaya baik yang menetramkan. Jika remaja mulai sadar fungsi dan perannya, impian mewujudkan Sumber Daya Manusia Indonesia yang unggul tentu bukan hanya tekad tetapi akan terwujud dengan sendirinya. Semoga jiwa kepeloporan Yoga ini dapat dicontoh oleh remaja lain di tanah air, tentu saja menyesuaikan dengan situasi dan kondisi remaja di daerah mereka masing-masing. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber