Wahyudiarti Setiya Ningrum
  • 47
  • 0
  • 0
  • 0

Tokoh Inspiratif

Foto: (sumber: kompas TV)

 

Wahyudiarti SN: Berdayakan Warga demi Kuota Internet

 

Uang Rp1000 mungkin kecil saja nilainya. Menurut hitungan Ibu Ketua RT ini, uang sebesar itu justru jadi tabungan bahkan solusi saat anak-anak sekolah di lingkungannya kesulitan punya kuota internet untuk belajar dengan sistem daring.

 

Kegiatan belajar mengajar dengan tatap muka di dalam kelas memang tidak diperbolehkan dulu demi mencegah penyebaran Covid-19. Pemerintah melalui Kemendikbud lalu memutuskan untuk agar kegiatan tatap muka itu diganti dengan sistem daring. Guru atau siswa lantas diminta menyiapkan ponsel pintar dan tentu saja kuota internet. Pembelajaran daring mungkin tidak terlalu sulit untuk keluarga yang tinggal di perkotaan atau wilayah lain dengan akses internet yang mudah. Namun, bagaimana dengan para siswa yang jangankan kuota internet, memiliki ponsel pintar pun tidak?

 

Adalah seorang Ibu RT (rukun Tetangga) bernama Wahyudiarti Setiya Ningrum. Lewat unggahan sosial media di akun facebook pribadinya https://www.facebook.com/ningrum.setiya.9, Dia berbagi tips menarik dan dapat dijadikan solusi saat warganya terutama siswa sekolah yang kesulitan mengikuti belajar dengan sistem daring.

 

“Saya kebetulan ketua RT di daerah saya.. ber-inisiatif memasang layanan komunikasi/internet untuk akses internet anak anak sekolah di lingkungan RT saya… caranya ya seperti ini:

 

1.       satu rumah tidak dihitung berapa jumlah anak yg sekolah..tapi dihitung per KK wajib menabung 1000 rupiah per hari..disimpan di toples dinding depan rumah yg diambil setiap akhir bulan oleh karang taruna..jadi dalam 1 bulan setiap rumah mengumpulkan 30 ribu rupiah nah ini dikumpulkan dari 55 KK

2.       dari 1,6 juta yg terkumpul..600 ribu untuk membayar akses internet 50 mbps… sisa 1 juta dipergunakan untuk membeli kertas beberapa RIM… beli tinta printer..… jadi kalau ada tugas yg mesti di print..ya tinggal di print saja..ga perlu ke warnet atau ke rental komputer..untuk membayar uang transport guru2 yg mau datang mengajar di kampung kami

3.       dibalai RT pun di sediakan komputer hasil sumbangan orang mampu dikampung kami…anak2 yg tidak punya hp dipinjamkan hp dari anak karang taruna yg mengurusi kegiatan belajar bersama dikampung kami…anak2 muda lulusan SMA/SMK/D3 yg masih nganggur dan mau membimbing dikasih kerjaan membimbing adik2 nya di kampung..dibayar sehari 20 ribu dari uang kas RT

 

SOLUSI dikampung saya ya seperti itu… cukup menabung sehari 1000 rupiah per rumah. Orang tua yg kerja ya silahkan kerja..yg usaha silahkan usaha… di kampung ada anak2 muda yg ga bekerja diberi tugas bimbing adik2nya yg sekolah… dibayar sehari 20 ribu bagi yg mau mengajari adik2nya.” Demikian isi unggahan Ibu RT Wahyudiarti.

 

Lebih lanjut dalam unggahannya, Ibu RT ini juga menulis:

“ngumpulin uang buat beli proyektor kecil…ini tujuannya biar membuka akses RUANG GURU lebih besar tangkapan layarnya..jadi anak2 bisa fokus ke layar besar tampa harus membuka hp..karena tidak semua anak punya HP. kalau ada anak yg dari luar kampung kami mau ikut belajar dikarenakan tidak mempunyai hp..ya kami persilahkan dengan catatan di periksa dulu setiap hari kesehatan nya..ikutin aturan di kampung kami. Di balai RT disediakan meja ke meja diatur jaraknya…yg mengatur sesuai prosedur kesehatan/sosial distancing. cuman 1000 rupiah perhari loh… sangat bermanfaat… kalian yg dikota masa hal seperti itu saja kalian tidak mampu ?

setelah proses belajar online selesai… WIFI dimatikan… karena ini hanya akses buat belajar saja bukan untuk dipergunakan untuk membuka akses youtube atau buat akses maen games..tiap hari pasword diganti..biar tidak dipakai sembarangan oleh anak anak yg tidak sekolah silahkan contoh kegiatan seperti itu seperti halnya di kampung saya. sekian..terima kasih.”

 

Sebagai penutup unggahannya, Ibu RT Wahyudiarti menolak menyebut nama kampung beserta RT/RW-nya dengan alasan warga kampung tidak sepakat dan menolak diekspos. Warga kuatir pihak kantor desa mendompleng inisiatif ini sebagai hasil kerja mereka, sementara saat dimintakan bantuan saja, Wahyudiarti mengaku sangat sulit mendapatkannya. “Saya hanya menyebutkan nama Kecamatannya saja ya..Kecamatan Tanjungsiang..Kabupaten Subang… Provinsi Jawa Barat,” tulisnya lagi.

 

Unggahan inspiratif dari Ibu RT Wahyudiarti ini memang membutuhkan partisipasi aktif warganya agar dapat saling membantu, di samping terus memberdayakan warga agar selalu siap bekerja sama utamanya di tengah situasi serba sulit ini. Masih dari Jawa Barat, aksi solidaritas berupa bantuan kuota internet ini juga terjadi di di Desa Sukamantri, Kec Karangtengah, Kab Cianjur. Warga yang anak-anaknya adalah siswa SD itu jadi rela menumpang belajar di rumah tetangga yang memiliki fasilitas akses internet. 

 

Nenek Nurhasanah (53 thn) mengungkapkan, selama ini Dia memberanikan diri mengajak cucunya menumpang belajar di rumah tetangga karena tidak memiliki ponsel ataupun jaringan internet untuk membantu cucunya belajar. Semua ini dilakukannya agar Sang Cucu tidak ketinggalan pelajaran di masa sekolah pertamanya itu. Beruntung, tetangga pemilik rumah itu sangat terbuka dan banyak membantu sehingga sekolah daring cucunya tidak menemui kendala berarti.

 

Pemilik rumah, Novi Nurtipratiwi (43 tahun) mengaku tidak merasa terbebani ataupun terganggu dengan kunjungan belasan siswa yang belajar di rumahnya. Dia malah merasa senang dan bersyukur karena bisa berbagi kepada mereka yang membutuhkan. “Ini biar menjadi sedekah saja, ibadah. Karena melihat kondisi sekitar, banyak yang kurang mampu untuk bisa memenuhi keperluan belajar daring. Mau beli kuota aja tarik-tarikan sama uang jajan anak,” katanya lagi seperti dikutip dari sukabumiupdate.com

 

Pembahasan mengenai solidaritas sosial sendiri semakin relevan di tengah Pandemi Covid-19 seperti ini. Kebutuhan mengenai solidaritas sosial jadi berkaitan dengan respon masyarakat untuk menerima atau memberi bantuan. Solidaritas sosial dapat dimulai dari hal kecil yang kemudian berkembang dengan mengajak orang lain untuk mau bergerak bersama. Inisiatif-inisiatif untuk solidaritas ini sering muncul di tengah keterbatasan yang tidak hanya materi tetapi juga ruang untuk dijangkau seperti halnya kuota internet.

 

Solidaritas sosial yang didasari pada semangat gotong royong kembali menegaskan betapa karakter dan nilai luhur warisan nenek moyang masih sangat teguh kita anut. Sebagai nafas dari gerakan sosial di negeri ini, gotong royong diyakini masih ampuh sebagai nafas gerakan nasional untuk merevolusi mental anak bangsa yang saat ini cenderung individualistis. Semangat gotong royong itu ada dan akan terus ada membantu bangsa ini sejak dulu. Ayo Kita lestarikan!  (*)

 

Diolah dari berbagai sumber

 

 

 

 

 


#ayoberbuatkebaikan
#ayoberubah
#untukindonesialebihbaik