Singgih Susilo Kartono
  • 27
  • 0
  • 0
  • 0

Tokoh Inspiratif

Foto: (sumber: indoaustdesignfutures.org)

 

 

Belajar Berdaya dari Desa, Belajar dari Singgih

 

Hidup di kota besar yang menjanjikan banyak peluang tidak membuatnya tergiur. Berbekal keyakinan dengan segudang ide kreatif akhirnya mampu mendongkrak nama besarnya. Selain juga desanya!

 

Singgih Susilo Kartono (51 th) masih ingat betul akan kekecewaan orang tuanya setelah Dia mengaku ingin kembali dan mengabdi untuk desanya di Kandangan, Kab Temanggung, Jawa Tengah. Sungguh keputusan yang kala itu terhitung “aneh” karena apa yang dapat diharapkan dari penghidupan di desa? Di tahun 1995, Singgih yang masih berusia 27 tahun bermodalkan ijazah sarjana dari kampus bergengsi sekelas Institut Teknologi Bandung (ITB), tentu dapat dengan mudah mendapatkan pekerjaan di kota besar bukan?

 

Memegang teguh keyakinannya, Singgih tetap pulang kampung. Baginya, desa itu tidak akan bangkit membangun jika ditinggalkan banyak warganya untuk mengejar mimpi dan karier demi hidup yang lebih baik di perkotaan. Singgih malah tidak yakin kalau kehidupan di kota besar akan banyak menjanjikan banyak pekerjaan dengan gaji selangit. Dia tidak setuju kalau hidup dan menjadi warga desa berarti ketinggalan segala berita dan tren terbaru.

 

“Salah satu hal yang memotivasi saya untuk kembali ke kampung berasal dari buku karya Penulis Amerika, Alvin Toffler. Dia bilang: “Akan ada masanya saat banyak orang bekerja dari pelosok desa tapi masih bisa terhubung dengan dunia,” Saya ucapkan terima kasih kepada perkembangan teknologi dan informasi seperti sekarang ini,” kata Singgih seperti penuturannya kepada The Jakarta post.

 

Singgih, Pria kelahiran Temanggung pada 21 April 1968 ini, semula tidak pernah menyangka tugas akhirnya sebagai mahasiswa desain Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) jadi produk yang mulai mendunia hingga ke mancanegara. Saat menyelesaikan tugas akhir pada 1992 silam, Singgih membuat radio kayu bermerek ‘Magno’ atau berarti “memperbesar.” Makna yang mengacu pada kerja sebuah kaca pembesar. Radio kayu berbentuk klasik inilah yang akhirnya mengubah hidupnya. Sejak lulus dari ITB hingga tahun 2003, Singgih melanjutkan kerjanya ini dengan mendirikan dan mengelola industri kerajinan kayu untuk pasar ekspor dengan produk wooden toys.

 

Meskipun produk dengan desain baru itu dapat diproduksi pada 2005, Singgih mengaku kesulitan mendapatkan vendor elektronik untuk kit radio kayunya itu. Maklum, industri elektronik meminta minimal order yang tinggi, sementara saat itu Singgih tidak punya kemampuan finansial yang memadai. Akhirnya salah satu purwarupa radio ‘Magno’ sampai ke tangan Rahmat Gobel pimpinan National Gobel Group yang sekarang bernama Panasonic Gobel Group. Rahmat rupanya sangat tertarik dengan karya Singgih itu. Sejak itulah Singgih bisa membeli kit radio dari produk running production National Gobel Group.

 

Setiap radio Magno, dibuat dengan tangan secara cermat, menggabungkan unsur keindahan dengan bahan-bahan berkualitas tinggi. Adapun harga yang dipatok sekitar Rp1-1,5 juta di pasaran lokal terutama di situs belanja daring, radio kayu ini di pasaran dunia khususnya Eropa harga per unitnya sekitar 260 euro atau sekitar Rp5,2 juta.


Para pekerja Magno-Peranti Works yang sebagian besar warga Desa Kandangan rata-rata sudah memiliki pengalaman dalam memproduksi barang kayu. Melalui pelatihan intensif di bengkel ‘Magno’ itu, penduduk desa mampu menghasilkan barang kayu berkualitas tinggi yang memenuhi standar ekspor. Ada tiga jenis kayu yang dipilih sebagai bahan utama radio menggemaskan ini yaitu pinus, mahoni dan sonokeling (rosewood India). Ketiga jenis kayu ini dipilih karena terbukti memiliki resonansi suara yang sangat baik. Saat ini Magno-Peranti Works mempekerjakan lebih dari 40 warga desa setempat sebagai perajin dan mereka menggunakan sekitar 80 pohon per tahun. Setiap perajin menggunakan hanya dua pohon per tahun. 

 

Keberuntungan mulai memihak ketika pemasaran radio ‘Magno’ terbantu berkat publikasi yang dilakukan seorang profesor sustainable design asal Jepang di Tokyo. Si profesor menulis di majalah, juga memasukkan ‘Magno’ dalam setiap presentasinya. Sampai-sampai profesor Jepang itu memilihkan tempat menjual yang tepat. ‘Magno’ akhirnya menyebar dengan cepat ketika di jual di laman www.assiston.co.jp, online shop berbahasa Jepang. Laman ini juga memuat informasi yang rinci tentang Magno, termasuk cerita di balik produk itu. Penyebaran via internet juga disebabkan desain radio kayu ‘Magno’ sangat eye catching. Hasilnya, publikasi Magno seperti tidak terbendung. Menariknya, semua produk Magno tidak dilapisi bahan alami. Singgih hanya menggunakan minyak kayu. Hal itu dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada pemiliknya bisa merawat kayu.

 

Eksistensi Singgih sebagai desainer produk berbahan alami terutama kayu, lalu merambah ke bambu. Kali ini dengan produk berbeda, Singgih berkreasi dengan bambu yang kemudian disulapnya menjadi sepeda. Produk itu diberinya nama Sepeda Bambu ‘Spedagi’ atau kepanjangan dari sepeda dan pagi. “Kalau bersepeda dengan ‘Spedagi,’ Saya ingin menunjukkan bahwa sebenarnya para desainer itu bisa membuat produk yang keren meskipun mereka tinggalnya di perdesaan,” kata Singgih lagi yang mengaku ‘Spedagi’ mulai dibuatnya sejak tahun 2013.

 

Ide membuat sepeda bambu ini, diungkapkan Singgih, didapatnya justru saat dirinya sedang sakit. Sambil terbaring, Singgih berselancar di internet tentang olahraga yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hasil berselancar itu akhirnya mengantarkan Singgih pada sepeda bambu yang tengah tren di Amerika Serikat. Dia pun heran, bambu adalah tanaman langka di Negeri Paman Sam tetapi justru dari bambu itu ada olahraga yang sedang digandrungi.

 

“Kalau bambu itu banyak sekali di negara kita, lantas kenapa kita tidak bikin juga sepeda bambu semacam itu?” papar Singgih. Sepeda bambu ‘Spedagi’ yang kini dipatok harga Rp7 - 11 juta per unitnya itu telah memenangkan banyak penghargaan desain produk. ‘Spedagi’ sendiri terbuat dari Bambu Petung yang terkenal paling kuat di semua jenis tanaman bambu. Atas lisensi dari Singgih, ‘Spedagi’ kini diproduksi juga di Desa Ato, Kota Yamaguchi, Jepang. “Karena Jepang sama dengan Indonesia, punya banyak anak muda desa yang memilih pulang kampung daripada bekerja di kota besar,” tambahnya lagi.

 

Desa Kandangan memang sangat diberkahi dengan kekayaan tanaman bambu meski memang telah lama diabaikan warganya. Padahal, sebenarnya dari tanaman bambu ini banyak tersimpan potensi yang akhirnya memberdayakan masyarakat desa dan mengangkat perekonomian mereka. Singgih percaya sumber daya alam di desanya akan selalu bermanfaat bagi kehidupan warga di masa mendatang.

 

Sejauh ini, Singgih mengaku masih tertantang untuk meyakinkan lebih banyak lagi anak muda desa terutama yang punya gelar pendidikan untuk pulang kampung dan membangun desanya. Dia berharap, kesuksesan ‘Spedagi’ dapat jadi inspirasi bagi semua anak muda desa. Sebab, setelah menampakkan hasil, anak muda desa Ngadiprono, Temanggung misalnya, mulai banyak yang memutuskan pulang kampung setelah menyelesaikan pendidikannya di kota besar.

 

Sosok Singgih memunculkan kembali semangat muda bangsa ini yang penuh dengan dedikasi dan komitmen untuk membangun kembali kampung halamannya. Sebagai agen perubahan, Singgih jadi inspirasi bagi desa-desa lain yang tengah membangun diri. Semangat dengan penuh integritas, etos kerja, dan gotong royong ini telah sukses mengubah wajah desa tertinggal menjadi sangat diperhitungkan bahkan mendunia. Singgih juga dapat jadi contoh Gerakan Indonesia Mandiri yang mampu memberdayakan masyarakat desa utamanya anak muda desa. Juga, usaha dan upaya Singgih ini membuktikan bahwa kalau mau dikaji lebih lanjut sesungguhnya banyak potensi di desa yang mampu mengangkat derajat penghidupan warga desa. Dengan demikian, cita-cita Indonesia yang mandiri secara ekonomi juga tercapai. Semoga banyak Singgih lainnya di tanah air! (*)

Diolah dari berbagai sumber