Rinno
  • 47
  • 0
  • 0
  • 0

Tokoh Inspiratif

Foto: (sumber: minews.id)

 

Rinno Menghibur, Tularkan Kebaikan

 

Kehidupan boleh saja menempa dengan kerasnya, penghasilan jadi badut jalanan memang tak seberapa. Uang yang didapat hanya soal angka, kekayaan sejati ada dalam hatinya. Dialah Mas Rinno!

 

Terus berbuat baik, demikian semangat yang ingin ditularkan seorang Rinno (33 th). Bapak dua anak ini memang tidak banyak yang dapat dihasilkannya dari profesi sebagai badut jalanan di Kota Yogyakarta. Penghasilan yang rata-rata sehari hanya sebesar Rp 20 ribu itu harus menutupi kebutuhan rumah tangganya, sebuah jumlah yang di masa sekarang ini tergolong jauh dari banyak apalagi melimpah. Namun hebatnya, dari penghasilan ini pula Rinno masih dapat berbagi kepada sesama terutama mereka para penghuni panti sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan juga para lansia terlantar.

 

Kisah Rinno mendadak viral beberapa waktu lalu setelah video tentang dirinya yang tengah mencari nafkah dengan menjadi badut di jalanan Kota Yogyakarta itu tersebar di media sosial. Video itu pertama kali diunggah di akun Instagram dan Twitter milik kitabisa.com, sebuah situs penggalangan dana yang menjadi wadah bagi masyarakat yang ingin berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan. “Saya mau jadi badut terus. Saya pingin datengin kebahagiaan untuk orang lain. Berbagi itu gak bikin saya rugi, gak bikin miskin. Saya seneng berbagi,” kata Rinno dalam unggahan video itu.

 

Laman kitabisa.com selanjutnya mengungkapkan, Rinno mulai tergerak untuk membantu kaum dhuafa telantar setelah dirinya sempat ditahan hingga 11 hari oleh Satpol PP karena menjadi badut jalanan. Menurutnya, berprofesi menjadi badut jalanan untuk mencari nafkah bukanlah sebuah nasib buruk. Sungguh, nasib buruk baginya itu adalah menjadi harus telantar di usia senja dan memiliki gangguan jiwa, serta tidak memiliki rumah untuk pulang atau nasi untuk dimakan.

 

“Saat itu saya ditangkap, melanggar Perda dan harus direhabilitasi di salah satu kamp Dinas Sosial di Karangkajen. Saya di sana 11 hari, melihat langsung bagaimana lansia dan ODGJ secara langsung. Di situlah titik balik hidup, karena saya merasa sangat beruntung dan harus membantu dengan segala daya yang bisa dilakukan,” ungkapnya. Jauh sebelum terkena razia, tepatnya di tahun 2012, Rinno mengaku ditipu seorang mandor bangunan saat bekerja. Dia datang dengan modal berani tanpa bekal berharga selain tenaga menjadi buruh bangunan.

 

Rinno bahkan disebutkan rela menghabiskan uang tabungan dan menggadaikan BPKP demi membantu orang-orang telantar itu. Uang gadai itu kemudian dibelikannya sembako yang lalu diberikan ke ODGJ dan lansia telantar yang kini berjumlah 300-an orang itu. Merekalah yang diketahui menghuni Panti Hafara, Yogyakarta. Video yang diunggah di Instagram itu pun menuai komentar positif dari netizen. Banyak di antaranya yang mengapresiasi perjuangan Rinno untuk tetap berbagi meski dirinya sendiri berada dalam keterbatasan.

 

“Semoga diberikan kesehatan dan dilimpahkan rezekinya,” tulis salah satu komentar. “Mas Rinno hebat, semoga Allah SWT selalu melimpahkan rizki dan kesehatan selalu. Aamiin,” tulis komentar lainnya.

 

Dalam wawancaranya dengan KRjogja di Panti Hafara, berlokasi di Kawasan Segoroyoso, Bantul, Rinno mengaku sejak empat bulan terakhir ini menjadi relawan panti sembari menjalani profesi sebagai badut jalanan. Rinno yang Perantau di Kota Yogya ini berkisah, di tahun 2017 lalu, Dirinya memang  sudah berprofesi sebagai pengamen jalanan yang tertangkap razia Satpol PP di salah satu ruas jalan Yogyakarta.

 

“Saya awal datang dari Cilacap, nekat ke Jogja untuk kerja bangunan tapi tidak dibayar karena mandornya lari. Saya tidak bisa apa-apa, ya sudah hidup di jalan ya ngamen ya pernah juga jadi angklung jalanan. Hidup juga numpang teman yang ketemu di jalan, karena mau balik ke Cilacap juga tidak mungkin karena belum punya apa-apa,” imbuhnya.

 

Kini Rinno memiliki ‘panggung’ rutin setiap harinya di Panti Hafara, menghibur penghuni panti setiap pagi hari. Kegiatannya juga cukup beragam di panti seperti membantu menyuapi lansia hingga ikut mengurus pemakaman jenazah terlantar di wilayah DIY. “Tidak tahu kenapa, saya mendapatkan kepuasan hati saat menjadi relawan di sini. Nanti dari sini biasanya turun ke jalan biar pulang bawa uang. Tapi Alhamdulillah itu ada saja rejeki dari manapun, terpenting niat saya baik. Itu saja yang saya lakukan,” pungkasnya lagi.

 

Niat baik Rinno sebagai relawan ini dapat dinilai sebagai panggilan jiwa dari sosok yang bersedia mengabdi secara ikhlas dan tanpa pamrih, tidak digaji atau diberikan imbalan, rendah hati, dan tentu kerelaannya untuk berkorban. Dengan begitu pula, secara tidak langsung Rinno jadi pribadi terpilih di tengah masyarakat kita yang menurut kualitas sifat kemanusiaan atau moralitasnya sangat baik. Adapun kepedulian dan komitmennya yang sangat kuat dalam membantu menyejahterakan rakyat miskin dan terlantar dapat jadi contoh perbuatan baik bagi masyarakat lain baik di lingkungannya maupun di tempat lain.

 

Berbagi, bermanfaat, dan terus berbuat baik bagi sesama adalah semangat yang tidak pernah padam dalam diri seorang Rinno. Ketulusan hati yang dijalaninya dengan penuh keihklasan membuat semakin banyak orang terlantar jadi terbantu. Rinno adalah contoh kecil dari sebuah etos kerja dalam kemasan kegiatan inspiratif yang tentu saja patut dicontoh, bahkan diperlukan banyak sosok semacam ini bagi sesama bangsa Indonesia. Jika Rinno berhasil merevolusi mental dirinya dengan banyak berbuat kebaikan, siapa lagi yang siap berbuat seperti itu? (*)

 

Diolah dari berbagai sumber

 


#ayoberbuatkebaikan
#ayoberubah