Menilik Ketekenunan dan Kemanusiaan Ahli Radiologi Pertama di Indonesia
  • 42
  • 0
  • 0
  • 0

Terkenal sangat cerdas, karakter diri berbenteng ilmu agama yang sangat kuat dari keluarganya, mendadak lumpuh saat bertugas, sosok ini akhirnya dikenang sebagai ahli radiologi pertama yang dimiliki Indonesia. Semuanya berawal dari ketekunan dan semangat kemanusiaan yang dimiliki.

 

“Namun, pada saat ia menjadi dokter di Palembang. Secara tiba-tiba Wilhelmus mengalami kelumpuhan. Dia tidak patah arang. Meski sempat terhambat akibat masalah kesehatannya, Dia bertekad untuk tidak berputus asa. Dalam keadaan terbatas itu, Dia masih terus berkarya dan mengembangkan diri di bidang kedokteran hingga ia dipindahkan lagi ke Centrale Burgelijke Ziekenhuis (CBZ) Batavia, sekarang Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Di CBZ Batavia, Dia menjadi asisten Prof. B.J. Van der Plaats. Van der Plaats adalah seorang dokter spesialis radiologi asal Belanda. Di bawah pimpinannya, Wilhelmus banyak belajar soal radiologi. Walaupun saat itu dalam kondisi fisik yang terbatas, Wilhelmus tidak minder dan putus asa. Dia masih terus berkarya, mengembangkan banyak penelitian dan berusaha terus mendalami ilmu tentang radiologi,” demikian seperti yang dikutip dari gnfi tentang sosok Ahli radiologi pertama Indonesia, Wilhelmus Zakaria Johannes.

 

Prof. Dr. Wilhelmus Zakaria Johannes lahir di Termanu, Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 16 Juli 1895, dari pasangan M.Z. Johannes dan Ester Johannes Amalo. Pasangan ini merupakan penduduk asli Termanu dan juga masih kerabat dekat. Sejak kecil, Wilhelmus mendapatkan pendidikan agama Katolik yang sangat kuat dari kedua orang tuanya. Selain ayahnya, ibunya Ester Amalo adalah orang yang paling berjasa menanamkan nilai-nilai agama dalam dirinya.

 

Lingkungan tempatnya tumbuh pun sangat lekat dengan gereja, sehingga nilai-nilai kekristenan menjadi pedoman hidupnya sehari-hari. Tak heran jika sejak kecil Wilhelmus dikenal sangat taat menjalankan agama yang dianutnya. Ajaran yang diterimanya sejak kecil juga membentuk karakternya menjadi seorang pribadi yang tekun, tegas, patuh kepada orang tua, dan ramah terhadap sesama. Kepribadian yang nantinya membawa Wilhelmus menjadi sosok penting dalam dunia kedokteran Indonesia.

 

Riwayat pendidikannya dimulai dari Sekolah Melayu, di Kupang, NTT. Dalam hal pendidikan, Wilhelmus termasuk anak yang beruntung. Meskipun dirinya bukan seorang anak amtenar (pegawai pemerintah) ataupun bangsawan. Dia dapat melanjutkan sekolah ke Europeese Largere School (ELS) Kota Kupang. Hal itu tidak terlepas dari jasa guru Belandanya, Cornelis Frans, yang melihat potensi pada diri Wilhelmus. Dalam pandangan C. Frans dan guru-guru lainnya di Sekolah Melayu, Wilhelmus memang murid yang pandai dan tekun dalam pelajaran.

 

Bukti kecerdasannya adalah, “saat naik kelas dari kelas tiga Sekolah Dasar, [W.Z.] Johannes langsung meloncat ke kelas lima,” seperti dikutip dari "Orang Indonesia Pertama Ahli Radiologi" di laman Radiologirscm.com. Ketekunan dan kecerdasannya itu yang membuat guru-gurunya berusaha agar ia dapat melanjutkan pendidikannya di ELS. Di ELS pun, ia kembali membuktikan kepandaian dan ketekunannya. Dalam waktu singkat, Wilhelmus mampu lulus dari ELS dengan nilai yang sangat memuaskan. Ia tak menyia-nyiakan kepercayaan dari para gurunya. Setelah lulus dari ELS, kedua orang tuanya berharap Wilhelmus dapat melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi. M.Z. Johannes dan Ester Amalo ingin anaknya menjadi seorang dokter yang dapat membantu sesama.

Berbekal kecerdasan dan ketekunannya, Wilhelmus berhasil masuk School Tot Opleiding Voor Inlandesche Artsen (STOVIA) atau sekolah kedokteran bumiputera di Batavia. Di STOVIA, lagi-lagi Wilhelmus berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan waktu yang lebih cepat dari pada yang seharusnya. Masa belajar di STOVIA normalnya ditempuh dalam waktu sembilan tahun. Namun Wilhelmus mampu menyelesaikannya satu tahun lebih cepat, yaitu delapan tahun. Saat masih di tingkat VII, Dia sudah diizinkan mengikuti ujian akhir.

 

Akan tetapi, izin itu tidak Dia dapatkan dengan gratis. Dirinya mesti berani menerima tantangan dari guru-gurunya di STOVIA dengan konsekuensi yang telah disepakati. Tantangan itu adalah, harus lulus dalam ujian percepatan tersebut. Bila tidak mampu lulus dalam ujian itu, “W.Z. Johannes harus mengundurkan diri dari STOVIA,” seperti ditulis dalam buku Kemendagri. Wilhelmus tidak gentar terhadap tantangan tersebut. Dia akhirnya sukses menjawab tantangan itu dengan hasil yang memuaskan dan pada 1920 Dia lulus dari STOVIA, memperoleh gelar Indische Arts atau dokter dengan waktu yang lebih cepat daripada siswa lainnya.

 

Sejak lulus dari STOVIA hingga menjadi dokter di Palembang pada tahun 1930. Terhitung sudah sepuluh tahun Wilhelmus mengabdikan dirinya di bidang kedokteran. Namun, pada saat Dia menjadi dokter di Palembang. Secara tiba-tiba Wilhelmus mengalami kelumpuhan akibat sakit yang dideritanya. Karena sakit ini pula, Dia harus menjalani perawatan intensif satu tahun lamanya. Namun, Dia tidak patah arang. Dalam keadaan terbatas itu, Dia masih terus berkarya dan mengembangkan diri di bidang kedokteran hingga dipindahkan lagi ke Centrale Burgelijke Ziekenhuis (CBZ) Batavia, sekarang Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Di CBZ Batavia, ia menjadi asisten Prof. B.J. Van der Plaats. Van der Plaats adalah seorang dokter spesialis radiologi asal Belanda. Di bawah pimpinannya, Wilhelmus banyak belajar soal radiologi.

 

Walaupun saat itu dalam kondisi fisik yang terbatas, Wilhelmus tidak minder dan putus asa. Da masih terus berkarya, mengembangkan banyak penelitian dan berusaha terus mendalami ilmu tentang radiologi. Gelar dokter yang disandangnya pun tidak lantas membuatnya berpuas diri. “Dia masih tetap berkeinginan untuk menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi. Alhasil, Dia berhasil mempertahankan disertasinya dan berhasil menyandang gelar doktor,” dikutip dari "Orang Indonesia Pertama Ahli Radiologi" di laman Radiologirscm.com.

 

Salah satu hal yang mendorongnya untuk terus mendalami radiologi adalah keyakinan bahwa kelumpuhan yang dialami, dapat disembuhkan melalui pengobatan berbasis ilmu yang sedang didalaminya. Selain itu, melalui metode penyembuhan radiologi, Dia juga yakin akan banyak masyarakat yang bisa terbantu. Keyakinan ini ternyata benar-benar terwujud. Kelumpuhan yang dialaminya berangsur membaik melalui beberapa rangkaian terapi penyinaran. Kendati demikian, kondisi kakinya tidak dapat pulih seratus persen, salah satu kakinya tetap mengalami kepincangan. Meskipun tidak bisa sembuh secara sempurna, hal yang bisa dipetik dari Wilhelmus adalah ketangguhan jiwa dan fokusnya menatap masa depan. Dia yakin, selain membawa kemaslahatan untuk dirinya sendiri. Ilmunya juga bisa membawa manfaat untuk masyarakat umum.

 

CBZ Semarang yang sekarang menjadi RSUD Dr. Kariadi adalah salah satu saksi bisu manfaat ilmu radiologi yang Dia dalami. Wilhelmus merupakan orang yang berjasa besar mengembangkan bagian radiologi di rumah sakit ini. Karena kegigihannya dalam mempelajari radiologi, Wilhelmus tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang mendapat brevet sebagai ahli roentgenoloog. Namanya disandingkan dengan ahli-ahli radiologi Belanda kala itu.

 

Wilhelmus dikenal sebagai dokter filantropi yang menghibahkan dirinya kepada kemanusiaan. Dia mendedikasikan dirinya untuk membantu sesama melalui bidang yang digelutinya. Jiwa kemanusiaan Wilhelmus memang sudah terlatih sejak kecil dan dipupuk seiring dengan prinsip-prinsip kekristenan yang tertanam dalam dirinya.

 

Pemikiran Kristen tersebut dibuktikan Wilhelmus dengan mengembangkan ilmu kedokteran yang berguna bagi penyembuhan penyakit melalui terapi penyinaran atau radiologi. Kelumpuhan yang Dia alami dijadikannya inspirasi sebagai bahan penelitian untuk disertasinya. Kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh Wilhelmus adalah sebuah keterangan bahwa penyakit tumor tidak dapat dideteksi hanya dengan melakukan pemeriksaan luar saja. Namun juga perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih komprehensif mengenai penyakit dalam itu. Wilhelmus menjelaskan, pemeriksaan yang lebih komprehensif itu sangat mungkin dilakukan dengan metode penyinaran (rontgen). Melalui rontgen, gejala dan diagnosa penyakit dalam, akan lebih mudah diketahui penyebab serta akibat yang ditimbulkannya.

 

Wilhelmus juga tercatat sebagai perintis berdirinya Sekolah Asisten Rontgen yang sekarang dikenal Akademi Penata Rontgen. Pada tahun 1952, ia menjadi pelopor terbentuknya perhimpunan spesialis radiologi yang disebut Ikatan Ahli Radiologi Indonesia (sekarang menjadi Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia)

 

Pada April 1952, Wilhelmus mendapatkan tugas untuk berangkat ke Belanda selama lima bulan. Tujuan keberangkatannya adalah untuk mempelajari perkembangan ilmu rontgen serta organisasi rumah sakit di beberapa negara-negara Eropa seperti, Belanda, Swiss, Jeman, Prancis, dan Inggris. Namun, pada masa tugas belajarnya, Wilhelmus mendapatkan serangan jantung dan dibawa ke Rumah Sakit Bronov di Den Haag. Sayangnya, saat sedang dalam perjalanan dari rumah menuju rumah sakit, Dia menghembuskan napas terakhir. Ahli radiologi pertama Indonesia itu tutup usia pada 4 September 1952 di usia 57 tahun.

 

Ketekunan dan sikap mulia untuk mengabdi penuh demi kemanusiaan sudah sangat jelas ditunjukkan oleh sosok WZ Johannes. Kecintaannya terhadap bangsa dan negara juga perlu dicontoh dan dikenang, belum lagi dengan jasa-jasanya terhadap dunia kedokteran di tanah air. Belajar giat, berintegritas serta beretos kerja tinggi dari WZ Johannes akhirnya berbuah manis dengan deretan prestasi gemilang meski ditempuh dengan kondisi terbatas dan kesakitan. WZ Johannes, satu lagi, sosok pahlawan medis milik Indonesia! (*)

 

Disarikan dari gnfi