Jadi Contoh, Hidup Tertib Sukses Sembuh dari Covid-19
  • 34
  • 0
  • 0
  • 0

Foto: (sumber: jernih.co)

Walau bagaimana, disiplin diri dan menjalani gaya hidup yang bersih lagi sehat tetap jadi jurus ampuh dalam melawan Wabah Covid-19. Eyang Kamtin sudah membuktikan!

 

Banyak penelitian menyebutkan bahwa lansia menjadi populasi paling berisiko saat terpapar Covid-19. Namun, kesembuhan Eyang Kamtin dan menjadi survivor Covid-19 tertua di Indonesia menjadi optimisme tersendiri di saat Indonesia masih berperang terhadap pandemi baru yang hingga kini belum juga ditemukan obatnya ini.

 

Eyang Kamtin, begitu warga Dusun Gendong (yang letaknya berada di perbatasan Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik) itu biasa disapa, dinyatakan sembuh oleh tenaga medis setelah empat pekan lamanya menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Kota Surabaya. “Ibu kami dirawat sebulan di rumah sakit PHC karena Covid-19. Alhamdulillah karena Beliau disiplin, rajin minum vitamin dan menjalankan hidup bersih dan sehat hingga sekarang, ibu kami sehat,” tutur Siti Aminah, menantu dari putra terakhir Eyang Kamtin kepada para awak media akhir Mei 2020 lalu.

 

“Pesan dari Eyang Kamtin dalam melawan Covid-19 adalah yang penting disiplin dan biasakan untuk hidup bersih dan sehat. Itu juga yang terus kami sampaikan ke warga di sekitar kami tinggal. Yang Alhamdulillah juga adalah salah satu kampung tangguh,” kata Siti Aminah lagi.

 

Gubernur Jawa Timur, Khofifah IP sangat terkesan dengan keberhasilan Eyang Kamtin yang berusia 100 tahun ini saat dinyatakan sembuh dari Covid-19. Dalam sambutannya pada Peringatan ke-24 tahun Haru Lanjut Usia Nasional (HLUN), Gubernur Jatim berpesan pertama, pentingnya tingkat kedisiplinan dan pola hidup bersih sebagai faktor kesembuhan pasien Covid-19. “Disiplin adalah vaksin paling manjur di saat vaksin Covid-19 belum ditemukan. Kedua adalah hidup bersih dan ketiga serta ikuti protokol kesehatan,” katanya usai melakukan Video Conference dengan para lansia di Gedung Negara Grahadi Surabaya, (29/05) malam.

 

Dengan adanya kabar kesembuhan ini, tambah Gubernur Khofifah, masyarakat dimintanya untuk terus semangat. Kesembuhan Eyang Kamtin ini menurutnya sebagai pengungkit harapan kesembuhan bagi para pasien Covid-19 di seluruh Jawa Timur. “Pesan dari Bu Kamtin, satu Disiplin, dua Hidup Bersih. Tambahan dari putrinya adalah mengikuti Protokol Kesehatan,” pungkasnya.

 

Berdasarkan data proyeksi BPS tahun 2019, penduduk lansia di Indonesia adalah 9,75 atau sekitar 27 juta jiwa. Angka ini diperkirakan akan menjadi 12,54% atau 35,5 juta jiwa di tahun 2025, dan akan terus meningkat di tahun 2035 sebesar 16,77% atau 51 juta jiwa. Hal ini menunjukan bahwa kondisi demografis Indonesia sudah menuju penuaan populasi. Adapun Usia Harapan Hidup (UHH) penduduk Indonesia semakin meningkat yaitu 71,5 tahun, sedangkan Usia Harapan Hidup Sehat baru mencapai 62,7 tahun (data Litbangkes, 2017).

 

Sesuai Renstra penanganan masalah Lansia di tanah air, upaya menuju lansia yang sehat dan berkualitas harus dilakukan sejak sedini mungkin di dalam keluarga. Keluarga diharapkan mampu mempersiapkan seluruh anggotanya agar dapat melalui semua fase kehidupan dengan sehat agar ketika menjadi lansia tetap sehat, aktif dan berdaya/produktif. Demikian pula keluarga harus dapat mendampingi, mendukung dan merawat lansia dengan penuh kasih sayang, sehingga lansia memiliki kualitas hidup yang optimal, bahagia dan bermartabat bersama keluarga hingga akhir hayatnya.

 

Pelayanan kesehatan ditujukan bagi lansia yang sehat maupun yang sakit. Lansia sehat mendapatkan pelayanan pemeriksaan screening (pindai) kesehatan dan pemberdayaan, sementara lansia yang sakit, dilakukan pelayanan kesehatan lansia melalui puskesmas santun lansia dan rumah sakit yang memberi pelayanan geriatri terpadu, serta di tingkat masyarakat, diberikan perawatan jangka panjang (PJP) bagi lansia.

 

Berdasarkan data laporan per tanggal 7 Mei 2019, jumlah kematian akibat Covid-19 pada usia di atas 55 tahun adalah 36%. Lansia menjadi kelompok yang paling rentan karena penurunan sistem imunitas tubuh dan cenderung multipatologis sehingga lebih berisiko menderita kefatalan akibat Covid-19 sehingga memerlukan langkah-langkah perlindungan dan pencegahan di semua tatanan, tentunya dengan melibatkan masyarakat, terutama keluarga.

 

Beberapa penyesuaian antara lain penundaan pelaksanaan posyandu lansia; penundaan pemeriksaan kesehatan rutin ke faskes kecuali dalam kondisi darurat; pelayanan pemberian obat untuk kebutuhan selama dua bulan bagi peserta program rujuk balik (PRB); dan penyuluhan kesehatan, pemantauan berkala serta home care/PJP (perawatan Jangka Panjang) via jarak jauh atau, bila sangat perlu, konsultasi langsung dengan perjanjian melalui jejaring Puskesmas.

 

Bagi petugas kesehatan, penyesuaian ini meliputi: sosialisasi cara menjaga lansia dari penularan Covid-19 yang disampaikan kepada lansia dan keluarga/pengasuhnya; memastikan lansia mendapatkan dan minum obat secara teratur; serta memberi bimbingan kepada keluarga/pendamping lansia untuk melakukan isolasi mandiri jika lansia atau anggota keluarga mengalami gejala demam/batuk.

 

Bagi masyarakat umum, lansia, dan keluarganya perlu ditekankan agar lansia menjauhi keramaian, kerumunan, kegiatan sosial. Selain itu, sedapat mungkin lansia tetap berada di rumah/senior living/panti wreda; tetap melakukan aktivitas fisik atau kegiatan fisik yang menyenangkan; dan menjaga agar kondisi lingkungan tetap bersih, aman dan nyaman, ventilasi dan cahaya matahari cukup, makan makanan dengan gizi seimbang, bila perlu minum multivitamin dan cukup istirahat dan tidur, minimal 6-8 jam.

 

Kebiasaan dan pemahaman akan disiplin diri yang baik dari lansia bernama Eyang Kamtin dapat jadi pelajaran bagi kita semua di masa krisis akibat Wabah Covid-19 ini. Makna yang dapat dihayati dari Gerakan Indonesia Tertib a la Gerakan Nasional Revolusi Mental dalam konteks ini adalah tertib menjalani aturan yang diberlakukan dan nyatanya dapat membantu diri sendiri untuk segera sembuh Covid-19. Jika satu jiwa sudah begini disiplin, terlebih Dia juga kalangan Lansia, tentu tidak ada alasan lain untuk mereka yang lebih muda usianya untuk juga menerapkan kedisiplinan ini. Jika ingin Indonesia segera sembuh dari Covid-19. (*)

 

(diolah dari berbagai sumber)