Ini Dia, Kebangkitan Kembali Permainan Tradisional
  • 24
  • 0
  • 0
  • 0

Praktik Baik

Foto: (sumber: thegorbalsla.com)

Demi menjaga kekayaan budaya bangsa yang sarat akan nilai luhur kehidupan, kampung permainan tradisional mulai dirintis. Memang baru aksi perorangan tetapi semangatnya patut dicontoh!

 

Indonesia punya beragam kebudayaan yang unik dan menarik, selain sedapnya sajian kuliner yang makin mendunia semacam rending, keragaman lain yang dimiliki adalah aneka permainan tradisional yang tentu saja berbeda-beda di setiap daerahnya. Saat ini saja tercatat sekitar 2.600 permainan tradisional Indonesia. Ribuan permainan tradisional ini banyak dimainkan anak-anak dan tentu jadi nostalgia tersendiri ketika mereka sudah dewasa. Di samping kenangannya, permainan tradisional ini berpotensi jadi warisan budaya, maka perlu untuk terus dilestarikan. [i-[1] 

 

Indonesia telah menegaskan upaya melestarikan keberagaman dan kekayaan budaya ini dengan disahkannya Undang-undang No.7/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Undang-undang ini diharapkan dapat memunculkan semangat baru dalam upaya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan nasional. Sesuai undang-undang ini pula, terdapat 10 objek pemajuan kebudayaan yaitu tradisi lisan, manuskrip, adat-istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional. 

 

Khusus mengenai permainan rakyat atau permainan tradisional, kehadiran gawai yang menyediakan aneka permainan lebih menarik, jadi tantangan tersendiri bagi permainan tradisional untuk tetap lestari dan eksis di tengah masa kanak-kanak bangsa ini. Padahal, permainan tradisional sarat akan nilai ajaran budaya yang baik sembari mengasah kreativitas anak lebih luas lagi. Permainan tradisional juga membuktikan bahwa kekompakan dan sikap gotong royong dapat terjaga dengan baik kalau dapat diamalkan juga dengan baik.

 

Adalah Siti Nursiah (59 th) yang kemudian jadi salah satu inisiator kampung permainan yang berlokasi di Gang Pendamai, Jalan Teluk Tiram Darat, Telawang, Banjarmasin, Kalsel. Sejak didirikan mulai tahun 2016 lalu, anak-anak tak henti berdatangan untuk bermain. “Saya pikir bakalan sepi. Ternyata anak-anak malah beramai-ramai datang untuk bermain. Sambil menunggu jam berbuka tiba (buka puasa—red),” tuturnya kepada prokalsel. Nursiah selanjutnya mengaku semula tidak ada niat khusus mendirikan kampong permainan yang bernama lengkap Kampung Permainan Pendamai ini. Nursiah dan suaminya M Suriani (62 th) hanya pasangan yang sehari-hari giat dalam kegiatan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) di kawasan Pendamai ini. Mereka yang menjadi anggota BPK rutin menggelar aksi bersih-bersih alat pemadam kebakaran setiap Sabtu.

 

Nah, saat bersih-bersih rutin itu dilakukan, para anggota BPK mengisi waktu luang dengan kembali memainkan permainan tradisional asli Kalsel yaitu ‘logo atau balogo.’ Beberapa di antaranya juga bermain egrang yang terbuat dari kayu seadanya. Cara bermain yang seru ini lantas mengundang perhatian anak-anak sekitar. Satu per satu pun berdatangan dengan rasa penasaran baik sekadar bertanya-tanya atau bahkan ingin mencoba langsung permainan ini.

 

Setelah semakin banyak yang tertarik, Suriani pun berniat serius. Bermodal tabungannya yang tidak seberapa, ketua BPK Pendamai ini membeli beberapa keperluan untuk membuat mainan dan medianya. Dia juga memanfaatkan limbah yang ada di lingkungan tempat tinggal warga seperti batok kelapa atau batang pohon.

 

“Kemudian bapak (Suriani--red) mengukir batang tak terpakai itu menjadi daku (congklak) berkepala naga. Ada pula yang berbentuk jukung,” ungkap Nursiah. Suriani kemudian mengajak pemuda setempat untuk bertukang. Ada berbagai macam permainan di Kampung Permainan Pendamai, antara lain egrang, bagasing, dakuan, lompat tali, gobak sodor, tukupan, basisit, bakujur, basaman, ting ting prak, balewang hingga masak-masakan.

Hasilnya, aneka permainan dan medianya lengkap dibuat. Setidaknya ada enam congklak kayu komplet dengan biji-bijinya. Kemudian 30-an egrang, tali-talian, serta bidang-bidang lantai yang dicat untuk beberapa jenis permainan. Arena permainan itu dibuka secara cuma-cuma karena Nursiah dan suami merasa punya tanggung jawab sosia terutama niat membentuk karakter baik anak-anak. Lewat permainan tradisional ini, keduanya berharap banyak keuntungan dapat dipetik seperti nilai kebersamaan; mengasah daya pikir dan gerak; serta nilai sportivitas. “Anak-anak juga akan tahu konsep tujuan, target dan usaha untuk meraihnya. Permainan-permainan di sini juga membantu anak menghindari obesitas. Mereka akan bergerak aktif terus,” tutur Nursiah.

 

Meskipun Banjarmasin punya taman edukasi tetapi menurut Nursiah masih belum cukup, selain memang jarak taman dengan tempat tinggal anak-anak terhitung jauh. Dengan mengusung konsep kesederhanaan, Nursiah menyebut taman bermain ini sangat dibutuhkan warga sekitar terutama mereka yang tergolong menengah ke bawah tetapi butuh banyak hiburan. Dengan adanya kampung permainan ini, kebutuhan bermain anak-anak kawasan itu terpenuhi. “Keterbatasan tempat bukan jadi halangan anak-anak Gang Pendamai untuk bermain,” ujarnya lagi.

 

Usai berdiri dan kian populer, anak-anak dan orang dewasa yang antusias dengan Kampung Permainan Pendamai pun datang tidak hanya dari Gang Pendamai saja tetapi dari gang dan kelurahan lain. Dalam sehari, sedikitnya 30 anak mengunjungi tempat itu, bahkan pernah hingga 100 orang.

 

Kedekatan anak dan gadget memang tidak dapat dipungkiri seiring dengan makin meningkatnya tingkat kecanduan game digital. Namun, Nursiah tidak sepenuhnya menentang penggunaan gadget pada anak. “Mereka juga perlu diajari tentang teknologi, biar tidak gaptek,” paparnya. Maka, di Kampung Permainan Pendamai ini, sesekali Nursiah mengeluarkan laptop miliknya dan mengajarkan beberapa anak tentang cara mengoperasikannya. “Tidak masalah mengenalkan gadget, asalkan tidak lepas pengawasan,” tambahnya lagi.

 

Salah seorang warga, Ani (32 th) menyebut program di Gang Pendamai ini brilian. Tidak banyak orang mau berinisiatif membuat fasilitas bermain. “Upaya yang bagus, dengan begini anak-anak jadi tahu permainan tradisional kita apa saja. Jadi tidak melulu main game HP (handphone—red),” ujarnya. Ungkapan senada juga disampaikan Nabila (8 th) salah satu anak di Gang Pendamai yang sering bolak balik area permainan. “Hampir tiap sore aku main di sini. Neneknya ramah (Nursiah). Kami bebas pinjam egrang dan mainan di sini,” ujarnya.

 

Upaya melestarikan permainan tradisional seperti yang dilakukan pasangan Nursiah dan M Suriani dan semangat membangkitkan karakter baik anak bangsa perlu mendapatkan apresiasi tersendiri. Seperti nilai pendidikan yang diajarkan dalam permainan Congklak atau yang juga akrab disebut dengan istilah dakon. Congklak ini akan membuat si anak berpikir strategi agar Dia bisa memenangkan pertandingan. Atau permainan Gobak Sodor dan Lompat Tali yang sejatinya mengajarkan anak akan pentingnya kebersamaan serta kerjasama dalam tim.

Dengan permainan tradisional, anak-anak diharapkan tidak hanya cerdas di sekolah tetapi juga sudah sejak dini diajak mengasah kreativitas serta kecerdasan emosional lainnya.[i-[2]  Juga, mengajarkan mereka bahwa dalam permainan tradisional terdapat banyak nilai budaya asli Indonesia yang sarat akan ajaran kebersamaan, gotong royong, dan saling berbagi atau bahkan bersaing secara sehat. Jika mau dikembangkan lebih lanjut, lewat permainan tradisional ini jug anak-anak dapat mengamalkan banyak nilai Gerakan Nilai Revolusi Mental yang akan terus gencar didengungkan. Semoga ada kampung permainan tradisional yang lebih banyak lagi di tanah air! (*)

 

Diolah dari berbagai sumber