Ai Nurhidayat
  • 22
  • 0
  • 0
  • 0

Tokoh inspiratif

Foto: (sumber: satu-indonesia.com)

 

 

Ai Nurhidayat: Niat Mulia, Konsisten, dan Pantang Menyerah

 

Semuanya berawal dari semangatnya membangun kampung halaman di Pangadaran, Jawa Barat. Dimulai dari mendirikan komunitas anak muda, berbagi ilmu, lalu membangun kembali sekolah bangkrut. Pemuda desa dan masyarakat pun berdaya, keberagaman pun terawat baik.

 

Demi memajukan pendidikan, setidaknya bertindak sesuatu yang bermanfaat khususnya bagi masyarakat sekitar, mengawali niat mulia seorang Ai Nurhidayat (30 thn) pemuda asal Desa Cikubang, Kec. Parigi, Kab. Pangandaran, Jawa Barat agar masyarakat di desanya melek pendidikan. Ai Boy, begitu sapaan akrabnya, sadar betul bahwa masalah pendidikan bukan hanya urusan pemerintah tetapi peran masyarakat turut andil di dalamnya.

 

Pengalamannya sebagai aktivis kampus di Universitas Paramadina, Jakarta, dan segudang kegiatannya di bidang pendidikan tidak lantas membuatnya tetap menjalani hidup keseharian sebagai perantau di ibukota. Nuraninya seolah terpanggil, lalu menggerakkannya untuk segera kembali ke kampung halaman. Kesenangan akan kompetisi di kota sambil mencari prestise ketimbang pulang kampung dan berdaya guna bagi masyarakat, baginya sudah tidak legi menjadi gairah hidup. Berawal dari keresahan semacam itu, Ai lantas memutuskan pulang kampung. Masalah pendidikan di kampungnya sangat kronis, seperti minimnya ketersediaan buku, perpustakaan, dan sekolah yang masih sulit dijangkau. Setelah berada di kampung, Ai memulai rencananya dengan membangun taman baca untuk orang-orang di kampungnya.

 

Pulang kampung di pertengahan tahun 2012 usai resmi bergelar sarjana, Ai Boy memulai segalanya. Konsolidasi ke sejumlah aparat desa, menjalin silaturahmi dengan tokoh adat dan sesepuh kampung lalu dijalani agar niat mulianya berjalan mulus. Dia juga mendekati para pemuda desa yang bakal menjadi perpanjangan tangannya jika kemudian sukses menjalankan segala rencana tadi. Kerja sebagai guru honorer pun sempat dilakoninya, begitu pula dengan mengisi aneka diskusi di sejumlah sekolah.

 

Kegiatan diskusi itu melebar ke kalangan pemuda desa yang sering berlangsung hingga larut malam tapi kemudian jadi keluhan tersendiri bagi warga mengingat suara diskusi yang berisik dengan topik tentang keluh kesah, keresahan, bahkan cita-cita. Ai Boy dan kawan-kawan diskusinya lalu memindahkan arena diskusinya ke sebuah lahan kosong milik keluarga Ai dengan mendirikan sebuah saung. Saung cantik itu dibangun dari hasil gotong royong atau urunan; ada yang menyumbang bambu, papan, atap dari daun alang-alang, dan sebagainya. Dari saung ini pula diskusi terasa makin seru seiring makin banyaknya pemuda desa yang datang berkunjung. Tidak lama kemudian, Komunitas Belajar Salabad pun berdiri dengan mengusung motto “Mencari ilmu selama-lamanya dan kawan sebanyak-banyaknya.”

 

Sabalad sendiri berarti seperkawanan. Jadi, Sabalad adalah komunitas seperkawanan, ajang kumpul-kumpul pemuda desa untuk turun tangan melakukan aksi nyata di masyarakat. Program diskusi jangkrik jadi andalan, dimana diskusi baru akan dimulai kalau sudah terdengar suara jangkrik di malam hari. Mereka juga fokus membidik persoalan pendidikan di kampung Cikubang, Parigi, dan lebih luas lagi pada skala Kabupaten Pangandaran.

 

Bagi Ai Boy dan kawan-kawan Sabalad, hanya konsistensi yang bisa menjawab keraguan masyarakat akan keberadaan komunitas ini. Mereka yang bertubuh penuh tato, gondrong, putus sekolah, tidak sekolah sama sekali, guru, dosen, pebisnis sekalipun, selama tidak mengkonsumsi narkoba atau sejenisnya, dibolehkan bergabung dengan Komunitas Belajar Sabalad. Selain rutin diskusi, mereka mulai berkebun dengan konsep tumpang sari alias apa saja ditanam di lahan yang dihibahkan keluarga Ai Boy untuk kawan-kawan Komunitas Belajar Sabalad. Konsep pertanian ekologis dengan banana circle pun diterapkan, di sekelilingnya ditanami lemon, jagung, singkong, cabai, sawi, daun bawang, kacang panjang, markisa, sorgum merah, dan berbagai jenis sayur-sayuran lainnya. Mereka juga mulai beternak ayam dan domba di tengah-tengah kebun, memproduksi pupuk kandang, dan pakan domba.

 

Setelah kegiatan berkebun mulai jalan, Komunitas Belajar Sabalad tidak lupa melakukan penyuluhan pertanian ke warga sekitar. Selain itu, kawan-kawan Sabalad mulai melebarkan kreativitas ke dunia bisnis kecil-kecilan, memproduksi sendiri bisnis rumahan mereka di Saung Sabalad, misalnya madu dengan mereka honey bee, budidaya ikan lele, minyak kelapa murni, gula Kristal, ukiran dan pahatan kayu, keripik, juga warung kopi.

 

Seiring jalannya waktu, Komunitas Salabad terus berkembang bersama masyarakat lokal dan mulai menuai banyak penghargaan seperti juara organisasi kepemudaan Jawa Barat bidang Tata Kelola Organisasi, Pengabdian Pada Masyarakat, Lingkungan Hidup, Program Inovatif, Seni dan Budaya dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat tahun 2015, juga meraih Juara I Organisasi Kepemudaan Berbasis Komunitas oleh Kemenpora tahun 2015.

 

Masyarakat Pangandaran banyak yang mulai mengenal komunitas ini, bahkan banyak yang datang untuk belajar, mulai dari teater, video editing, film, seni pahat kayu, bercocok tanam, dan sebagainya. Dengan suasana diskusi yang santai lagi akrab, mereka yang datang belajar akan mendapat banyak ilmu dan semuanya tanpa dipungut biaya. Tidak tanggung-tanggung, tamu Sabalad tak hanya dari dalam negeri tapi juga luar negeri. Komunitas Belajar Sabalad pun disiapkan sebagai model baru dalam menyiapkan generasi muda Pangandaran yang berbasis komunitas, dan spiritnya bisa ditularkan ke seluruh Indonesia.

 

Kisah Ai Nurhidayat dan Komunitas Belajar Sabalad masih berlanjut. Kali ini, Ai Boy dibantu banyak tenaga muda profesional yang tidak hanya mengabdi di komunitas tapi juga memiliki visi besar yakni menghidupkan kembali sebuah sekolah yang sudah bangkrut karena kesalahan pengelolaan. Di awal 2014, Ai Boy dipertemukan dengan Tedy, seorang guru honorer yang mengajar di sekolah SMK Bakti Karya di bawah Yayasan Darma Karya Mandiri (YDKM) yang berdiri tahun 2011. Guru muda idealis ini, menceritakan ihwal SMK Bakti karya yang mulai suram masa depannya kepada Ai Boy. Mereka bersepakat untuk membuat langkah konkrit dengan mengakuisisi sekolah bangkrut ini dengan syarat SMK Bakti Karya diintegrasikan dengan Komunitas Sabalad yang sejak awal menyatakan diri siap menerima anggota komunitas sebanyak-banyaknya.

 

Setelah berdiskusi dengan Ai Boy, mereka bersepakat untuk mengakuisisi sekolah di bawah yayasan baru yaitu Yayasan Darma Bakti Karya Pangandaran (YDBKP) di tahun 2014 yang terletak di komplek Komunitas Belajar Sabalad. Sekolah yang butuh legalitas sebagai sekolah baru; kekurangan jumlah murid dan guru; lantas butuh biaya yang tidak sedikit untuk membangun gedung sekolah yang baru; jadi rentetan masalah yang harus segera dibereskan oleh Ai Boy dan tedy beserta kawan-kawan komunitas.

 

Menurut Ai Boy, mereka menyiasatinya dengan program Bakti Karya Fellow atau program hasil akuisisi dengan para anggota Komunitas Salabad di mana setiap orang hanya butuh mendonasikan dana tiga kali makan nasi goring buatannya atau seetar dengan Rp50 ribu. Dana itu kemudian diperuntukkan bagi kebutuhan setiap siswa per bulannya. Setiap donatur tidak hanya memberi uang, tapi diberi kesempatan untuk memotivasi dan memantau prestasi siswa yang dibantu. Hasilnya, sekitar 40 donatur yang notabene di luar Kabupaten Pangandaran sudah bergabung sebagai donatur, 30 di antaranya menjadi donatur tetap.

 

Kisah Ai Nurhidayat menjalani niat mulianya merupakan bukti bahwa pemuda Indonesia harus menjadi agen perubahan di lingkungan sekitarnya. Meski memang jalannya tidak mudah, kuatnya komitmen serta konsistensi membuatnya semakin berkembang dan terlihat. Begitu pun dengan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat. Integritas, etos kerja, dan gotong royong sebagai nilai dasar Gerakan Nasional Revolusi Mental dapat terlihat jelas dari kisah Ai Nurhidayat dan memang sudah seharusnya seperti itu. (*)

 

Disarikan dari Kompasiana