Wajah Baru Warisan Budaya Dunia

Wajah Baru Warisan Budaya Dunia

  • 30
  • 0
  • 0
  • 0

0%
Yuk mulai jaga kebersihan dari diri sendiri
0%
Nanti-nanti aja deh

Menjaga kebersihan diri merupakan hal yang sangat penting terutama untuk menjaga diri kita tetap sehat, dan mengurangi risiko diri kita maupun orang terdekat terserang penyakit. Kebersihan diri tidak hanya penting bagi kita, namun juga bagi lingkungan di sekitar kita. Oleh sebab itu, menjaga kebersihan diri sendiri dan lingkungan sekitar merupakan suatu keharusan bagi setiap orang. Agar lingkungan di sekitar kita bersih, maka perlu usaha bersama dalam mewujudkannya. Salah usaha yang dapat dilakukan adalah dengan menjalankan kegiatan kerja bakti secara sukarela dan rutin.

Saat ini, kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan semakin berkurang. Terbukti dengan maraknya budaya membuang sampah sembarangan yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Padahal tindakan tidak terpuji tersebut dapat merugikan diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar. Kesadaran untuk sukarela dan rutin menjalankan kerja bakti juga semakin berkurang. Oleh sebab itu, Sobat Revmen hendaknya mulai menyadari pentingnya Revolusi Mental dan mengimplementasikan melalui Gerakan Indonesia Bersih yang dimulai dari menjaga kebersihan diri sendiri serta menjaga kebersihan lingkungan.

Namun, cerita berbeda hadir dari sebuah kota kecil yang sejuk di Sawahlunto, Provinsi Sumatra Barat. Kota yang pernah terkenal hingga ke Eropa berkat tambang batubaranya ini kini sedang berbenah. Pasca terpilih sebagai situs warisan dunia versi UNESCO pada 7 Juli 2019 lalu, Kota Sawahlunto yang termasyur berkat Tambang Batubara Ombilin tersebut terus mempercantik diri, salah satunya dengan senantiasa menjaga kebersihan di tiap sudut kota. Sobat Revmen perlu tahu, di Asia Tenggara, lokasi tambang Ombilin merupakan situs pertambangan batubara tertua dan satu-satunya tambang batubara bawah tanah. Tambang Batubara ini sangat mirip dengan Major Mining Sites of Wallonia di Belgia.

Sejarah mengenai Sawahlunto dimulai pada tahun 1868, saat geolog muda Belanda bernama Willem Hendrik de Greeve menemukan kandungan batubara di Ombilin. Laporan mengenai penemuan ini disusun pada 1871 dengan judul “Het Ombilin-kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en het transportstelsel op Sumatra Weskust.” Berkat temuan di Ombilin yang berisi batubara dengan kualitas jempolan itu, tambang-tambang skala kecil terus dibuka. Selanjutnya, dua insinyur tambang asal Belanda, Jacobus Leonardus Cluysenaer dan Daniel David Veth, ikut serta dalam proyek pertambangan di Ombilin, sejak 1874. Veth kemudian menulis laporan yang berjudul “The Expedition to Central Sumatra”. Laporan ini yang kemudian menjadikan dasar Sawahlunto kemudian berkembang sebagai kota Industri modern pada masa itu.

Selain itu, Sobat Revmen juga perlu mengetahui kalau penambangan batubara telah secara signifikan mengubah lanskap pedesaan Sawahlunto menjadi situs industri.  Selama pengembangannya pada abad ke-19, perusahaan pertambangan merancang lokasi penambangan Sawahlunto menjadi lima kegiatan spasial: industri tambang batu bara, area komersial dan perdagangan, area pemukiman, wilayah administrasi, dan utilitas kesehatan. Guna mendukung kegiatannya, Pemerintah Hindia Belanda membangun beberapa jaringan transportasi seperti membuat jaringan kereta api pada tahun 1887 hingga tahun 1892 dari Pulau Air Padang ke Muaro Kalaban dan menuju ke wilayah Sawahlunto guna mengangkut batu bara dari Sawahlunto ke pantai barat Sumatera.  Pemerintah Hindia Belanda juga membangun Pelabuhan Emmahaven yang kemudian dikenal sebagai Teluk Bayur dan menjadi pelabuhan pengiriman untuk ekspor batubara, menggunakan kapal uap SS Sawahlunto dan SS Ombilin-Nederland.

Kini, kejayaan tambang batubara hanya tinggal sepenggal kisah di masa lalu seiring dengan menyusutnya kuantitas batubara di Ombilin, Sawahlunto. Pengelolaan batubara pun sepenuhnya sudah ditangani oleh PT Bukit Asam, Tbk. Sisa kejayaan Sawahlunto kini masih dapat dinikmati seperti terowongan Mbah Soero, perumahan pekerja dan pekerja tambang (Tangsi Baru dan Tanah Lapang), pemfilteran batu bara, pabrik kereta api, kantor pemerintah, dan pemukiman. Guna menggerakkan kembali denyut kota Sawahlunto, Pemerintah Kota dan Pemerintah Provinsi mulai menggiatkan sektor pariwisata di bekas tambang batubara dengan didukung oleh Kementerian dan Lembaga. Salah satu aksi nyata dalam menggiatkan sektor pariwisata tersebut adalah menjaga kebersihan lingkungan.

Menimbang manfaat positif dari menjaga kebersihan lingkungan maka Sobat Revmen perlu memulainya dari sekarang dengan menamkan kesadaran serta kepedulian yang tinggi untuk menjaga kebersihan lingkungan. Berkaca pada masyarakat Kota Sawahlunto yang bergiat menjaga kebersihan Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto, sudah selayaknya kita juga melakukan hal yang sama demi kebaikan bersama.

 

Usman Manor (Lulusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia (2015) dan Magister Manajemen Universitas Indonesia (2017) yang kini menjadi Analis Sejarah).