Voluntourism: Gairah Baru Berwisata

Voluntourism: Gairah Baru Berwisata

  • 30
  • 0
  • 0
  • 0

0%
ayo berubah
0%
demi indonesia lebih baik

Kabar

Foto: (sumber: studentprintz.com)

 

Voluntourism: Gairah Baru Berwisata

 

Tidak hanya demi kesenangan semata, menjelajah daerah wisata kini gencar dikampanyekan dengan menggelar juga aneka kegiatan bermanfaat untuk masyarakat di sekitarnya.

 

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) dalam siaran resminya baru-baru ini menyatakan bahwa voluntourism sebagai salah satu tren wisata baru yang potensial mendukung pengembangan destinasi wisata di Indonesia. Menurut Deputi bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events), Rizki Handayani dalam seminar daring bertajuk “New Normal Stage,” ke depan tren pariwisata itu bukan sekadar jalan-jalan santai, tetapi pariwisata yang memberikan kontribusi atau manfaat kepada destinasi wisata yang dikunjungi oleh wisatawan.

 

“Jadi, sekarang trennya adalah anak-anak muda datang sebagai voluntourism dalam rangka menciptakan rasa kepedulian terhadap alam dan budaya destinasi wisata Indonesia. Voluntourism mengandung makna wisatawan yang bertanggungjawab, dengan melakukan kegiatan pariwisata sambil menjadi sukarelawan. Hal ini adalah salah satu bentuk kegiatan dalam mendukung pengembangan destinasi wisata,” kata Rizki lagi. Dia mencontohkan, di Sumba ada voluntourism yang membuat gerakan _shoes for Sumba yang bertujuan untuk memberikan sepatu bagi masyarakat lokal Sumba. Bentuk lain dari kegiatan voluntourism adalah dengan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak-anak di suatu destinasi, misalnya dengan mengajari mereka gerakan memungut sampah. “Hal tersebut memperlihatkan bahwa ketika kita travelling atau jalan-jalan, kita juga bisa sambil menjaga lingkungan yang ada di sekitar destinasi wisata tersebut.”

 

Gerakan serupa juga dilakukan oleh Komunitas 1000 Guru. Mulanya, 1000 Guru merupakan sebuah akun yang mengabarkan kondisi pendidikan di berbagai pelosok nusantara. Namun kini berkembang menjadi sebuah aktivitas untuk ikut ambil peran dalam berbagi pengetahuan, yang programnya dinamai Traveling and Teaching. Kedua program ini dalam pelaksanaannya tidak berbeda dengan umumnya ketika seseorang ingin melancong. Namun yang membedakan, 1000 Guru umumnya mengumpulkan jumlah pelancong yang sudah ditentukan sebelum bepergian. “Biasanya ada 30 orang, Kami bagi menjadi enam grup. Satu grup berisi lima orang,” tutur Pendiri Komunitas 1000 Guru, Jemi Ngadiono. Misalnya, Dia mencontohkan pembagian grup ini untuk membantu berbagi pengetahuan di jenjang sekolah dasar. “Misalnya untuk kelas 1, lima orang itu harus menyiapkan apa yang mereka ajarkan," katanya. Sebelum melakukan perjalanan, Jemi menjelaskan bahwa akan ada pengarahan terkait aktivitas mengajar di tempat wisata yang dituju.”

 

Voluntourism, menurut Rizki, juga dapat dimanfaatkan sebagai ajang sosialisasi dan edukasi masyarakat di tengah Pandemi Covid-19 ini dengan kampanye penerapan protokol kesehatan berbasis cleanliness, health, safety, and environmental sustainability (CHSE). Sehingga, lanjutnya, dengan kegiatan voluntourism dapat meningkatkan kembali kepercayaan wisatawan yang ingin berkunjung ke sebuah destinasi wisata. “Selain itu, untuk mengembalikan kepercayaan publik dan menandakan bahwa Indonesia sangat peduli dengan kebersihan, kesehatan, dan keselamatan wisatawan, pemerintah melalui Kemenparekraf telah meluncurkan I DO CARE atau Indonesia Care yang merupakan sebuah kampanye yang di dalamnya terdapat panduan-panduan protokol kesehatan di berbagai sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Agar sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dapat kembali bangkit.”

 

Voluntourism oleh Wanderlust Indonesia, sebuah komunitas pariwisata, sudah dalam beberapa tahun belakangan ini telah mulai dirintis. Wanderlust punya visi traveling yang berbasis ramah lingkungan. Selain membangun kultur less waste atau pengurangan sampah plastik di tempat wisata, traveler juga diajak lebih sadar akan pentingnya menjaga kelestarian alam. “Dalam setiap perjalan wisata, kami selalu ingin mengemasnya menjadi sebuah cerita. Saat berkunjung ke satu tempat, kami akan ajak traveler untuk berinteraksi dengan warga setempat, memahami sisi kearifan lokalnya hingga memberdayakan ekonomi masyarakat di sana,” ujar Sales Marketing Wanderlust Indonesia, Triana Septiani, seperti dikutip dari BeritaBaik.id

 

Triana mengisahkan, bukan sebatas travel biro biasa Wanderlust juga lahir dari gagasan Dini Hajarrahmah yang ingin menciptakan mainstream baru di dunia wisata. Dengan titel voluntourism, Dia punya tujuan besar untuk memberdayakan potensi ekonomi dan kearifan lokal di setiap destinasi wisata. Di tahun 2015, Dia mengawali langkahnya dari kawasan wisata Ujung Kulon, lalu beranjak ke beberapa tempat lainnya seperti Cibuluh, Subang; Kramat Wangi, Garut; Punan Mahkam, Kalimantan Timur; Labuan Bajo, NTT dan masih banyak lagi. “Jadi setiap traveler yang kami bawa ke satu destinasi, mereka harus meninggalkan impact yang baik di tempat itu. Dulu diawali sama CEO kita Dini Hajarrahmah yang punya latarbelakang pendidikan di bidang wisata. Kalau sekarang kita ada 8 orang,” ungkapnya lagi.

 

Triana menjelaskan, dalam voluntourism banyak pengalaman baru yang bisa traveler dapatkan. Kesan itu didapatkan saat kita berinteraksi dengan warga setempat, menggali berbagai sisi menarik dari desa yang disinggahi hingga urusan berbagi ilmu yang berkaitan dengan etika pariwisata. “Aktivitas volunteer itu kita usung dengan cara berbagi ilmu soal gimana etika memandu wisata, gimana prilaku yang baik saat menyambut pengunjung hingga memggali potensi ekonomi yang ada di sana.”

 

Saat ini, Wanderrlust banyak berkolaborasi dengan UKM lokal yang tersebar di beberapa desa wisata yang dikunjungi. Sebut saja di Cibuluh, Subang, pihaknya juga berkolaborasi membuat alat makan makan dari bahan bambu. Tak hanya Subang, Wanderlust juga menjual Carumeng atau kacamata renang tradisional yang dibuat oleh masyarakat di Labuan Bajo. “Di setiap desa binaan, kita ingin membawa perubahan baik dari sisi ekonomi. Kita gali potensinya lewat berbagai produk kearifan lokal yang memang mendukung kampanye less waste. Kita terus melakukan pendekatan karena memang rata - rata penduduk desa kurang well educated soal pariwisata,” jelas Triana lagi.

 

Menyenangkannya kegiatan wisata sambil coba memberdayakan masyarakat di daerah sekitar tentu akan jadi gairah baru bagi para wisatawan. Voluntourism akan dapat semakin memperat jalinan komunikasi antara wisatawan, khususnya wisatawan domestik, dengan penduduk yang tidak lagi dipandang sebagai pendatang atau tamu tetapi juga saudara sebangsa. Demikian pula dengan semangat berbagi yang tidak hanya materi tetapi juga ilmu. Semoga Gerakan Indonesia Mandiri juga tercipta dari gerakan baik ini. Semakin terus berkembang, voluntourism! (*)

 

Diolah dari berbagai sumber

 


#ayoberubah