Tumbuh Minat Baca, Berdaya Masyarakatnya

Tumbuh Minat Baca, Berdaya Masyarakatnya

  • 22
  • 0
  • 0
  • 0

0%
Siap budayakan baca
0%
Semangat baca

Suara Kita

Foto: (sumber: Dispeka.bone.go.id)


Menumbuhkan minat baca di tengah masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara. Jam buka sampai malam hingga aktif di sosial media dalam memberikan layanan juga ditempuh.

 

Budaya literasi masyarakat kita diketahui memang masih rendah. Minat baca masih belum jadi budaya baik yang levelnya masih jauh dari bangsa lain yang menjadikan kegiatan baca buku sebagai bagian tidak terpisahkan dalam hidup sehari-hari.  Meski sudah mulai banyak dibangun, tempat membaca buku semacam kedai baca atau perpustakaan keliling nyatanya masih harus banyak melakukan inovasi demi terus menarik perhatian masyarakat demi mau baca buku.

 

Penguasaan literasi merupakan indikator penting untuk meningkatkan prestasi utamanya bagi generasi muda dalam mencapai kesuksesan. Penanaman literasi sedini mungkin harus disadari karena menjadi modal utama dalam mewujudkan bangsa yang cerdas dan berbudaya. Jika sudah membudaya, literasi bermanfaat dalam mewujudkan peran generasi muda dalam aspek pembangunan negara. Generasi muda dengan kepribadian unggul dan mampu memahami pengetahuan serta teknologi untuk bersaing secara lokal dan global, serta berdaya juang yang tinggi, solusi yang kreatif, dan juga inovatif, tentu dapat memenuhi kebutuhan dunia saat ini yang penuh dengan persaingan. Sumber Daya Manusia (SDM)  berkualitas semacam itu dapat dimunculkan dari kemauan dan kemampuan anak muda dalam menyerap ilmu yang kemudian dikembangkan dan diimplementasikan, caranya dengan menanamkan pentingnya literasi bagi generasi muda.

 

Upaya menumbuhkan budaya literasi juga butuh upaya ekstra dan berlebih mengingat masih rendahnya kualitas dan kuantitas budaya baik ini di tengah masyarakat kita. Inovasi layanan baca buku itu kini terus dikembangkan, bahkan dengan harapan memberdayakan masyarakat. Jika anaknya baca buku, para ibu yang mengantar anaknya itu dapat juga diberdayakan dengan memberikan ilmu tentang keterampilan usaha misalnya. Upaya ini ditunjukkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab Bone, Sulawesi Selatan dan dinilai berhasil melakukan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Perpustakan Daerah Kab Bone ini bahkan sudah meraih penghargaan dan dinyatakan sebagai Perpustakaan Kabupaten/Kota Terbaik Nasional Tahun 2019.

 

Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial ini berarti sukses menerapkan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dan literasi dari kota hingga ke desa-desa dan diinisiasi oleh mantan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab Bone yang kini sudah pensiun, A Pahrum Pawi.

 

Menurut Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab Bone, Andi Muh Dachsal, perpustakaan tidak hanya menyasar anak sekolah tapi juga masyarakat umum termasuk pelaku UMKM, dan penyandang disabilitas. “Ini adalah upaya untuk pemberdayaan dan peningkatan produktivitas. Yang dilakukan dengan komitmen kuat semua pihak, termasuk dengan bersinergi dan melakukan kolaboresi dengan pihak swasta mau pun BUMN,” ungkap Dachsal seperti dikutip dari mediaindonesia.com

 

Program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial ini, tambah Dachsal, dilakukan melalui upaya pembinaan hingga ke pelosok desa dengan memberikan bantuan berupa sarana dan buku, perpustakaan keliling. Dinas juga membangun kedai baca yang populer dengan sebutan ‘Kedai Baca ‘Smange Teallara’ yang aktif melakukan kegiatan promosi dan mendongeng; serta memanfaatkan media sosial dan laman di internet. Setelah transformasi, Perpustakaan Daerah Ulaweng Cinnong, Kec Ulaweng, misalnya, para ibu di daerah itu sudah berinovasi dengan membuat berbagai kerajinan tangan seperti keset dan alas panci.

 

Perpustakaan Daerah Kab Bone ini juga melakukan inovasi lain dalam layanannya yaitu salah satu perpustakaan di Sulawesi Selatan yang memberikan layanan baca hingga malam hari. “Jadi bukanya tidak hanya pada siang hari. Jika Anda butuh buku malam hari, bisa,” kata Dachsal lagi. Fasilitas perpustakaan untuk literasi juga dilengkapi dengan wi-fi gratis. “Jadi perpustakaan menjadi pusat kegiatan maupun proses belajar yang menciptakan kreativitas dan produktif.”


Kedai Baca

 

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab Bone juga terus mengembangkan layanannya dengan mendirikan Kedai Baca dengan tagline “Sumange Tealara.” Dilansir dari website dispeka.bone.go.id, tagline itu dipilih dari sekian banyak petuah bugis Bone yang sering didengar seperti, Siatting Lima, Sitonra Ola, Tessibelleang, Tessipano, Tellabu Essoe Ritengnga Bittarae, Getteng, Lempu, Ada Tongeng, Taro Ada Taro Gau. Kesemuanya lalu terangkum dalam “Sumange Tealara” yang artinya  ‘teguh dalam keyakinan, kukuh dalam kebersamaaan.’ Diharapkan agar kedai baca ini membawa spirit bagi para pengunjung.

 

Kedai Baca Smange Teallara yang beralamatkan di Jl. Jenderal Ahmad Yani  ini menyediakan berbagai jenis kategori buku, seperti sastra, agama, terapan, sosial, dan lain-lain. Salah satu pengunjung, Jumiati mengatakan bahwa Dia dan teman-temannya sering berkunjung untuk mencari referensi buku terutama saat adanya tugas perkuliahan. “Saya dan teman-teman sering ke sini (kedai baca), untuk membaca suasananya nyaman dan buku-buku yang ada juga sangat mendukung,” ungkapnya.

 

Menurut Petuas Kedai Baca, Andi Besse, mengatakan, Pengunjung kebanyakan dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Adapun kedai baca dibuka setiap hari mulai pkl.8 pagi hingga 17.00 sore, lalu dilanjutkan malam pada pkl.20 hingga 23.00. “Kategori bukunya ada beberapa, bahkan kami juga menyediakan koran lokal bagi pembaca,” jelasnya. “Kedai baca sudah menyiapkan berbagai fasilitas yang memadai bagi pembaca, diharapkan pengunjung akan selalu ada.”

 

Transformasi layanan perpustakaan daerah milik Kab Bone ini dapat menjadi gairah baru terciptanya perpustakaan dengan pendekatan baru demi meraih perhatian masyarakat. Dengan begitu, minat baca diharapkan makin bertumbuh, masyarakat yang mau dating berkunjung pun terus meingkat jumlahnya. Semoga dapat dicontoh oelh perpustakaan daerah lainnya di tanah air! (*)

 

Diolah dari berbagai sumber