Tarik Dunia dari Makanan

Tarik Dunia dari Makanan

  • 57
  • 0
  • 0
  • 0

0%
indonesia kaya
0%
bangga indonesia

Praktik baik

Foto: (sumber: vidio.com)

 

Tarik Dunia dari Makanan

 

Perkara makanan nyatanya dapat menjadi salah satu jalur diplomasi menarik yang banyak tujuannya, mulai dari memperkuat hubungan kedua negara atau lebih, membuka peluang kerjasama, bahkan tercapainya perdamaian. Sudah di mana langkah Indonesia?

 

Bicara tentang makanan, setidaknya terdapat dua istilah dengan pemahaman yang harus diresapi dengan baik. Istilah yang populer saat ini tentang makanan adalah ‘kuliner’ yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dapat berarti ‘berhubungan dengan masak memasak.’ Istilah selanjutnya adalah ‘gastronomi’ yang sesuai KBBI berarti ‘seni menyajikan hidangan yang lezat-lezat; tata boga.’ Dari makna ini, istilah gastronomi terpilih dan digunakan sebagai alat diplomasi suatu bangsa saat coba memperkenalkan kekayaan budaya miliknya kepada negara lain. Dengan gastronomi pula, para Penikmat Makanan dapat teredukasi akan nilai, sejarah, dan juga budaya bangsa yang menyajikan makanan tadi.

 

Menurut Pendiri situs Culinary Diplomacy, Sam Chapple-Sokol, makanan dapat dijadikan “media” yang secara politis dapat menyampaikan bahkan mencapai kepentingan suatu negara. Lewat makanan, tambah Chapple-Sokol, ada tiga jenis diplomasi yang dapat dilakukan yaitu Pertama, adalah Track I Culinary Diplomacy, yang disebutnya sebagai jamuan makan antarpemerintah, misalnya antara presiden dan para menteri, atau presiden dan ketua DPR atau ketua partai. Begitu pula makan malam dengan pemerintah negara lain.


Kedua, adalah Gastrodiplomacy. Secara sederhana, diplomasi ini melibatkan kerja pemerintah yang menyasar publik luar negeri dalam rangka membangun soft power sebuah negara, mempromosikan perdagangan dan pariwisata, juga mendorong pertukaran budaya. “Yang juga masuk dalam ranah ini adalah usaha pemerintah supaya hidangan dari negaranya masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO,” tulis Chapple-Sokol dalam situsnya. Ketiga, adalah Citizen Culinary Diplomacy. Dari namanya, ini jamuan makan-makan yang diadakan antara pemerintah dan warga negara yang tujuannya seperti memecahkan persoalan di tingkat kelurahan hingga nasional, juga mendengarkan ide dan aspirasi warga negara.


Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama merupakan contoh Kepala Negara yang menjadikan makanan sebagai alat diplomasinya. Selain sambil menyapa warganya, Obama juga tidak segan mengajak tamu negara untuk duduk santai sambil menyantap makanan paling populer di negaranya yaitu Burger. Selain Obama, Presiden Joko Widodo sewaktu menjabat gubernur DKI Jakarta juga kerap mengajak makan siang warga Jakarta di warung tegal (Warteg) yang ujungnya terjadi kesepahaman antara warga dengan Pemprov DKI Jakarta saat akan menjalankan kebijakannya. Relokasi atau penggusuran, dengan diplomasi makanan semacam ini, jadi terkesan lebih manusiawi dibanding dengan aksi main gusur bertangan besi.

 

Sejauh ini, sudah ada beberapa negara yang terlihat menonjol dalam melakukan gastrodiplomacy. Sebut saja Korea Selatan dengan jargon “Global Hansik” yang akhirnya memperkenalkan Kimchi ke banyak meja makan di dunia; Thailand yang sejak 2002 gencar dengan kampanye “Global Thai” yang akhirnya membawa masakan Tom Yam semakin dikenal; dan Malaysia dengan jargon “Kitchen for The World” yang juga mengantarkan masakah khas melayu dan peranakan terus meluas dirasakan banyak lidah warga dunia.

 

Indonesia, sesungguhnya sudah menjalankan diplomasi makanan. Menurut Pakar Gastrodiplomacy dari Universitas Jember, Agus Trihartono, praktik ini sudah ada sejak era Presiden Soekarno dan terlihat saat Indonesia menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika di Bandung pada 1955. Presiden Soekarno kala itu menjadikan sajian aneka makanan khas Indonesia untuk mengambil hati petinggi negara lain. "Soekarno yakin dengan keanekaragaman makanan kita. Dia cerdas sekali. Dampaknya juga  luar biasa bagi Indonesia, (jadi) percaya diri,” katanya.

 

Agus menambahkan, Presdien Soekarno juga pernah meminta istrinya, Hartini mengumpulkan resep-resep makanan khas Nusantara. Kumpulan resep itu kemudian dibukukan oleh pemerintah dengan judul Mustika Rasa. “Sampai sekarang saya kira belum ada karya lain (buku makanan) yang resmi sebagai dokumen negara,” ungkapnya lagi seperti dikutip dari Alinea.id. Upaya gastrodiplomacy itu kemudian tidak banyak berkembang di Era setelah Presiden Soekarno. Padahal, kata Agus, dengan kekhasan dan varian makanan yang jumlahnya lebih dari 3.000, Indonesia punya potensi besar untuk menjual kulinernya di kancah internasional. Kepopuleran Rendang asal Tanah Minang sudah diakui dunia sebagai makanan paling enak di dunia sejak tahun 2007 oleh CNN tetapi memang lagi-lagi masih kalah pamor dengan makanan negara lain.  

 

Rendang sebagai yang terenak juga baru-baru ini dipopulerkan dengan kedatangan chef terkenal dunia, Gordon Ramsay yang khusus datang ke Indonesia hanya untuk menjelajah alam Sumatera Barat dan menjajal cara mengolah rendang. Program ini sudah tayang di National Geographic pada Juni 2020 lalu. Pakar kuliner Indonesia, William Wongso menjadi mentor Gordon Ramsay untuk mempelajari budaya dan kuliner Sumatera Barat terutama masakan rendang.

 

Kekayaan makanan khas Indonesia agar dapat bersaing di kancah dunia saat ini memang masih harus berhadapan dengan sejumlah tantangan. Selain kemauan politik, juga butuh banyak dukungan mulai dari hulu hingga hilir, misalnya memperbanyak jumlah restoran khas Indonesia di luar negeri; meratanya distribusi bumbu masakan terutama rempah asli Indonesia yang saat ini banyak masih sulit dijumpai di pasar luar negeri; dan terakhir, tentu saja dukungan dana yang besar untuk mendongkrak ‘kampanye” makanan ini.

 

Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Teuku Faizasyah mengatakan gastrodiplomacy Indonesia masih kalah kualitasnya jika dibandingkan negara lain seperti Thailand dan Korsel. Dia lalu mendorong semua pemangku kepentingan turut terlibat dalam upaya memperkuat upaya diplomasi ini. “Katakan negara lain ada pasokan bumbu dan dijangkau melalui maskapai penerbangan mereka, misalnya. Indonesia mungkin belum sampai ke situ. Tapi, kita mendorong kalau ada yang membuka restoran atau membuka cabang ke luar negeri biasanya kita fasilitasi,” katanya lagi kepada Alinea.id

 

“Harus ada brand. Seperti kita bicara rendang, ya, bagaimana dikenalkan rasanya itu upaya tersendiri. Namun, selama ini para dubes kita di luar negeri, saat resepsi, kegiatan yang mengudang ke wisma, atau rumah diplomat biasanya menghidangkan makanan-makanan Indonesia,” jelas Faizasyah. Kemenlu menurutnya terus mendorong dan memfasilitasi warga Indonesia yang hendak membuka restoran di luar negeri karena memang kekayaan kuliner Indonesia sangat berpotensi untuk dikenal luas dan punya nilai jual yang tinggi.

 

Pengenalan kuliner Nusantara seperti pada Juni 2016 dilakukan Indonesia di Denmark dalam acara Asian Culture Festival (ACF). Festival dilaksanakan selama hampir satu bulan. Kegiatan ini diselenggarakan di empat kota besar di Denmark, yaitu di Havneparken, Kopenhagen; Bispetorvet, Aarhus; Gammeltorv, Aalborg; dan Brandts Klædefabrik, Odense. Di bulan yang sama, diplomasi kuliner Indonesia juga dilakukan di Jerman, tepatnya di kota Kiel, ibukota Schleswig-Holstein pada tanggal 18-26 Juni 2016. Bedanya, penggagas kegiatan itu adalah para diaspora yang berada di Jerman, hasil kolaborasi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hamburg. Upaya ini dinilai banyak pihak sebagai jalan baru baru bagi diplomasi Indonesia. Adanya peran dari masyarakat umum ataupun diaspora sebagai nonstate actors, semakin membantu penyebaran kuliner nusantara ke mancanegara.

 

Bangga akan kekayaan budaya utamanya sajian makanan memang sudah seharusnya terus dapat ditularkan tidak hanya di dalam negeri tetapi juga kepada warga dunia. Selain rendang, makanan yang kerap dipamerkan di meja diplomasi adalah nasi goreng, gado-gado, pempek, aneka soto, dan kue khas nusantara. Bukan hanya oleh wakil pemerintah di luar negeri tetapi juga warga Indonesia yang ada di negeri orang itu. Rasa cinta tanah air tidak perlu selalu ditunjukkan dengan aksi heroik. Langkah sederhana dan dimulai dari dapur, tentu saja dapat jadi model baru nasionalisme. Karena Indonesia akan terus ada, begitu juga dengan makanannya! (*)

 

Diolah dari berbagai sumber