Tanam Benih Tata Krama Baik

Tanam Benih Tata Krama Baik

  • 73
  • 0
  • 0
  • 0

0%
ayo berubah
0%
demi indonesia lebih baik

Praktik baik

Foto: (sumber: savvytokyo.com)

 

 Tanam Benih Tata Krama Baik

 

Nyatanya, hingga usia 10 tahun, para siswa Sekolah Dasar di Jepang tidak mengikuti ujian sekolah. Tiga tahun pertama di SD, pendidikan di Jepang mewajibkan para siswa itu untuk belajar lebih banyak tentang sopan santun.

 

Budi pekerti, disiplin, kebersihan, etika dan sopan santun memang harus ditanamkan sejak dini. Idealnya, ajaran berbudi baik itu tidak hanya diajarkan dalam teori saja tetapi harus dipraktikkan serta dilatih setiap hari agar tumbuh menjadi suatu kebiasaan dan semakin membudaya. Ingat peristiwa kejadian ketika kereta peluru terlambat datang 20 detik dan perusahaan kereta api mengajukan permintaan maaf kepada penumpangnya dengan caranya membungkukkan badan yang sangat khas? Ya, itulah salah satu contoh hasil dari ajaran nilai kesopanan yang dianut oleh Masyarakat Jepang sejak lama.

 

Ajaran berperilaku baik itu sudah dimulai sejak generasi muda Jepang duduk di bangku Sekolah Dasar. Para Guru dan sekolah telah menetapkan sejumlah daftar “kesopanan” yang harus dilaksanakan oleh para siswa. “Sebelum siswa Anda memulai kelas di sekolah, pastikan mereka mampu melakukan hal berikut (daftar kesopanan—red)  Juga, sebagai orang tua dan anggota keluarga, ikutilah tingkah laku yang sama,” demikian pesan sekolah seperti dilaporkan oleh SoraNews24.

 

Terdapat 18 poin penting kesopanan itu terbagi dalam dua kategori yaitu “Perilaku dan Sikap Dasar” dan “Hubungan dengan Teman.” Bagian pertama meliputi: Mendengarkan dengan penuh perhatian saat seseorang berbicara; Sambut orang lain dan tanggapi pertanyaan dengan suara yang jelas dan mudah terdengar; Duduklah dengan benar di kursi; Miliki pemahaman yang jelas bahwa apa yang dimiliki orang lain bukan milik Kita; Setelah melepaskan sepatu, aturlah dengan rapi di pintu masuk; Pastikan pakaian selalu bersih dan tidak bernoda; Jaga agar meja dan lingkungan tetap rapi serta teratur; Bertanggung jawab untuk tidur lebih awal dan bangun sendiri pagi-pagi sekali; Makan sarapan yang tepat; Selalu sikat gigi; dan Jangan pernah berbohong.

 

Bagian kedua pedoman kesopanan itu adalah Jangan biarkan orang merasa ditinggalkan; Jika seseorang memiliki masalah, bantu mereka; Jangan bicara kasar kepada teman; Mampu bergaul, bermain, dan belajar dengan siapa saja; Jangan selalu hanya bermain sendiri, tapi bersikaplah bersahabat saat bermain bersama semua orang; Bermain di luar ruangan karena baik untuk berolahraga dan juga bersantai di alam sekitar; dan Jika membuat kesalahan, mohon maaf dengan sungguh-sungguh;

 

Bangsa Jepang memang dikenal bangsa yang cerdas, pekerja keras, ulet, disiplin, sehat, dan memiliki sopan-santun tinggi. Mereka adalah bangsa yang unik dibanding dengan bangsa-bangsa lainnya. Faktor apa yang membedakan mereka? Jawabannya adalah sistem pendidikan yang mereka terapkan sangat unik dan efektif dalam membangun karakter anak.

 

Sekolah Dasar di Jepang tidak mengenal atau memberi ujian kepada para muridnya sampai mereka mencapai kelas empat atau anak berusia 10 tahun. Mereka hanya diberi kuis kecil yang sederhana saja. Hal ini diyakini bahwa tujuan utama untuk tiga tahun pertama murid sekolah, kelas 1 – 3, bukan untuk menilai ilmu pengetahuan tetapi lebih pada menekankan pembangunan karakter serta mengajarkan sopan santun. Anak-anak diajarkan untuk menghormati orang lain, menyayangi binatang serta ramah terhadap alam dan lingkungan sekitar. Selain belajar kebersihan, murah hati, welas kasih dan empati, mereka juga diajarkan cara mengendalikan diri, membangun ketabahan serta rasa adil.

 

Rata-rata, para siswa sekolah di Jepang diharuskan membersihkan ruang kelas, kafetaria, dan bahkan toilet sekolah sendiri. Saat bersih-bersih, para siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dan tugas yang diberikan dirotasi sepanjang tahun. Sistem pendidikan Jepang mengajarkan siswa untuk belajar merapikan dan membersihkan peralatan dan ruang mereka sendiri, bekerja dalam kelompok dan saling membantu. Pada saat siswa menyapu, mengepel, dan mengelap, mereka dapat merasakan dan melihat hasil jerih payah mereka sendiri dan sebaliknya juga dapat belajar menghormati jerih payah siswa lain. Di sinilah terbentuk kesadaran untuk senantiasa menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan dan menghargai kerja orang lain.

 

Hampir semua sekolah menengah di Jepang mengharuskan para siswa/siswi mereka mengenakan seragam sekolah. Tidak semua seragam sekolah sama tetapi secara umum corak seragam siswa laki lebih bergaya militer sedangkan corak seragam siswi perempuan lebih bergaya pelaut. Tujuan utama kebijakan penggunaan seragam adalah untuk menghilangkan batasan antara Si Kaya dan Si Miskin serta untuk meningkatkan gairah belajar dan bekerja. Selain itu, dengan mengenakan seragam, para siswa dan siswi lebih merasa bahwa mereka berada dalam satu komunitas yang sama.

 

Lantas, bagaimana dengan pendidikan karakter dan ajaran bertata krama dengan baik di Indonesia?  Kita tentu tidak sepenuhnya meniru usaha Jepang dalam membudayakan generasi muda mereka untuk mulai terbiasa berbuat baik. Kalaupun kemudian masih banyak kasus tawuran, bahkan korupsi saat generasi muda itu memasuki dunia karya dan bekerja, efektivitas pembelajaran karakter kita tentu dipertanyakan. Karena memang masih perlu lebih banyak praktik dibanding pembahasan teoritis pada jam pelajaran di sekolah?

 

Penerapan sistem piket kebersihan di sekolah misalnya, sejak direncanakan sudah mengandung semangat mendisiplinkan para siswa sembari mengajarkan arti penting menjaga kebersihan lingkungan. Harapannya, setelah membudaya kebiasaan menjaga kebersihan ini jadi nilai kehidupan yang dianut hingga dewasa nanti tanpa menjadikannya tidak lagi sebuah kewajiban tetapi kesadaran diri mengingat manfaat yang ditimbulkan. Di antara sesama siswa, lewat sistem piket ini kemudian lahir budaya untuk saling mengingatkan akan tugas dan kewajiban, bergotong royong, juga merawat kebersamaan.

 

Menurut Wikipedia, Pendidikan Karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik di peruntukkan bagi generasi selanjutnya. Maka, untuk menumbuhkan pendidikan karakter kita tidak harus menambahkan mata pelajaran tentang karakter karena yang sudah kita ketahui mata pelajaran di indonesia sudah sangat banyak. Lalu, apa yang harus diperbanyak? Penerapan dan pelaksanaan dengan baik, berkelanjutan, hingga akhirnya membudaya. Semoga terus terjadi! (*)

 

Diolah dari berbagai sumber


#ayoberubah