Satu lagi, Potret Desa Penuh Kerukunan dari Bengkulu

Satu lagi, Potret Desa Penuh Kerukunan dari Bengkulu

  • 28
  • 0
  • 0
  • 0

0%
ayo bersatu
0%
ayo jaga kerukunan

Kabar

Foto: (sumber: kemenag)

 

Satu lagi, Potret Desa Penuh Kerukunan dari Bengkulu

 

Desa Sindang telah terpilih sebagai salah satu desa dengan hidup penuh kerukunan antarumat beragama. Sejalan dengan nilai yang terkandung dalam Pancasila, desa ini pun diganjar penghargaan oleh BPIP.

 

Desa Sindang Jati berada di Kab Rejang Lebong, Bengkulu dan baru saja ditetapkan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai “Desa Moderasi Beragama dan Kebangsaan.” Desa Sindang Jati selama ini dikenal sebagai desa yang multiagama. Masyarakat Desa Sindang Jati selama hidup penuh kerukunan dengan latar belakang empat agama yang berbeda yaitu Islam, Katolik, Kristen, dan Budha.

 

Menurut Kepala BPIP, Yudian Wahyudi, Desa Sindang Jati juga desa percontohan kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup dalam kategori moderasi yang berkebangsaan. “Penghargaan ini kita berikan sebagai wujud pembumian kerukunan umat beragama. Artinya, masyarakat bisa hidup rukun dengan landasan Pancasila,” tambahnya. Sementara itu, menurut Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Antonius Benny Susetyo menjelaskan bahwa pondasi dalam menanamkan sikap moderat dalam beragama adalah dengan mengamalkan nilai-nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan yang ada dalam Pancasila. Dua nilai itu memastikan terwujudnya persatuan Indonesia. Dari sini, umat beragama memulai perannya membangun peradaban negeri dan tentu saja upaya moderasi agama semacam ini sejalan dengan cita-cita Gerakan Indonesia Bersatu dari Gerakan Nasional Revolusi Mental.

 

“Nilai-nilai Pancasila sebagai pemandu kehidupan bersama dalam menciptakan tata keadaban publik. Sementara tata keadaban publik menjadi acuan dalam merawat Bhinneka Tunggal Ika,” kata Benny seperti dikutip dari bpip.go.id. Benny yang juga Rohaniawan itu menekankan bahwa setiap komponen bangsa harus memperluas pandangan inklusif atau keterbukaan sikap berwarga negara. Sikap inklusif inilah yang nantinya menumbuhkan rasa toleran dalam diri manusia sehingga umat beragama terhindar dari segala bentuk perpecahan. “Mengarusutamakan Pancasila menjadi gugus insting yang mempengaruhui cara berpikir, bertindak, bernalar, dan berelasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.”

 

Desa Sindang Jati berada di Kecamatan Sindang Kelingi, Kab Rejang Lebong atau sekitar 63 kilometer dari Kota Bengkulu yang menjadi pusat ibu kota provinsi. Sejak tahun 1962, desa ini diketahui senantiasa merawat keberagaman, toleransi dan kerukunan umat bergama. Masyarakatnya bermukim di alam nan indah di lereng pegunungan Bukit Barisan Pulau Sumatera.  Mereka dikenal selalu bekerjasama dalam setiap helat perayaaan keagamaan dan kenegaraan serta mengembangkan ekonomi masyarakat tanpa dibatasi sekat agama.

 

Dalam jurnal IAIN Curup diketahui bahwa di Desa Sindang Jati ini perkawinan beda agama kerap terjadi dan sudah dianggap hal biasa. Jika adanya perbedaan keyakinan/agama dalam suatu keluarga tidak jarang menimbulkan ketegangan dan konflik tetapi tidak begitu dengan warga di desa ini. Misalnya, Keluarga Bapak Bahrun warga masayarakat Sindang Jaya yang beragama Islam memiliki orang tua beragama kristen dan anak Pak Bahrun yang bernama Lia beragama Kristen dapat hidup rukun dan damai. “Demikian halnya yang terjadi pada keluarga Ibu Setio yang beragama Katolik, memiliki beberapa orang anak yang bernama Samuji dan Bardi, beragama Islam namun dapat hidup rukun dan harmoni dalam satu keluarga,” tulis jurnal IAIN Curup.

 

Kuatnya magnet kerukunan dan toleransi di desa ini mengiring langkah Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama RI, Nifasri untuk bersilaturahim dan bertatap muka dengan pemuka adat dan tokoh agama di Desa Sindang Jati. “Luar biasa, masyarakatnya dalam kehidupan sehari-hari tidak lagi memandang perbedaan suku, etnik, dan agama. Mereka saling hormat menghormati, saling membantu satu sama lainnya. Pendirian rumah ibadah tidak menjadi masalah bagi masyarakatnya. Di desa ini terdapat Masjid, Vihara dan Gereja sebagai simbol kerukunan yang nyata,” kata Nifasri dalam berita resmi Kemenag.

 

Dialog bersama puluhan tokoh masarakat dan perangkat desa digelar di Balai Desa Sindang Jati yan digelar pada Maret 2020 lalu itu dihadiri oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan IAIN Curup Kab Rejang Belong, Beni Azwar dan Ketua LPPM IAIN Curup Hendra Harmi serta Kasubbid Pengembangan Dialog dan Wawasan Multikultural PKUB Paulus Tasik Galle. Selain itu, ke depan, Kementerian Agama berencana menggelar KKN lintas Iman dan kegamaan dan kebudayaan. Para peserta KKN yang tentu saja merupakan mahasiswa diharapkan menjadi agen-agen Pancasilais yang dapat membentuk nilai-nilai pancasila di masyarakat.

 

Dalam pertemuan itu dibahas rencana penandatanganan prasasti Desa Sindang Jati sebagai kawasan moderasi dan kerukunan umat beragama oleh Bupati Rejang Lebong, Rektor IAIN Curup dan Plt. Sekjen Kementerian Agama RI. “Penandatanganan prasasti rencananya akan digelar pada Maret ini. Ke depan, moderasi dan kerukunan umat beragama di tempat ini akan menjadi program kerjasama antara IAIN Curup, Pemda Kabupaten Rejang Lebong dan Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) dengan harapan ini dapat berdampak secara nasional bila desa tersebut ditetapkan sebagai pilot project toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia,” kata Nifasri lagi.

 

Memupuk hidup penuh kerukunan dan harmonis dengan sesama umat beragama dapat dipahami sebagai upaya pembelajaran makna dan nilai agama. Sebab, jika sudah dapat dipahami dengan baik, cita-cita revolusi mental bangsa ini akan dapat dengan mudah diwujudkan. Indonesia yang sudah lama dihantam oleh kemerosoan mental seperti masalah korupsi, ketidakdisiplinan, masalah penegakan hukum, dan penyalahgunaan narkoba, misalnya telah memperlihatkan dengan jelas betapa yang merosot perlu segera diatasi. Sementara semangat belajar agama yang tinggi yang juga dibarengi dengan pelaksanaan upacara ritual keagamaan juga tidak kalah gencarnya. Fenomena bertolak belakang ini kiranya dapat ditangani dengan pembelajaran agama yang lebih baik lagi. Dengan demikian, perilaku berbudi luhur selaku Hamba Tuhan akan mulai terasah, kemauan hidup penuh kerukunan dan saling belajar harmonis sesama umat beragama pun jadi mudah dilakukan. Belajar kerukunan lebih lanjut? Mari ke Desa Sindang Jati! (*)

 

Diolah dari berbagai sumber

 

 


#ayoberubah