Refleksi Tekanan Pasca Pandemi

Refleksi Tekanan Pasca Pandemi

  • 12
  • 0
  • 0
  • 0

0%
Yuk bangkit dari tekanan pandemi
0%
Pandemi malah bikin makin tertekan

Hai Sobat Revmen! Tidak terasa sudah 3 bulan lebih kita menjalankan Physical Distancing dengan melakukan kegiatan belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah. Sobat Revmen pasti juga sudah membaca atau mendengan mengenai Adaptasi Kebiasaan Baru maupun Tatanan Normal Baru atau yang lazim disebut New Normal. Kita pun mulai membiasakan diri untuk melakukan berbagai kebiasaan baru mulai dari berinteraksi tanpa tatap muka, bekerja secara virtual, hingga berbelanja dengan memanfaatkan teknologi aplikasi. Tanpa Sobat Revmen sadari kita tengah menghadapi suatu tantangan bahkan menjumpai kesulitan belakangan ini. Bahkan beberapa di antara kita tidak siap untuk menghadapi situasi dan kondisi yang mengharuskan untuk melakukan rutinitas dengan tetap berjaga jarak di tengah pandemi covid-19 ini. Imbasnya, muncul rasa tertekan hingga tak jarang berujung pada stres.

Padahal jika Sobat Revmen menelisik lebih jauh sebenarnya tantangan dan kesulitan yang kita hadapi bagaikan dua sisi mata uang; pada satu sisi dapat menjadi tekanan, namun di sisi lain dapat menjadi peluang. Keduanya, baik tekanan maupun peluang merupakan suatu proses transisi dalam kehidupan. Demikian halnya dengan kondisi kontekstual saat ini. Pandemi covid-19 memberikan semacam transisi bagi kita semua untuk melakukan adaptasi teknologi, penyesuaian budaya, peningkatan solidaritas melalui gotong royong, dan sebagainya sehingga kita semua mampu untuk menyongsong tatanan nilai dan norma baru yang membuat kita menjadi lebih baik. Memang covid-19 membuat kita menjadi tertekan dan tidak sedikit di antara kita yang terkena imbas berupa krisis, namun pandemi ini juga menghadirkan banyak ide kreatif sehingga memunculkan harapan baru untuk kehidupan yang lebih baik. 

Tekanan sangat erat kaitannya dengan stres atau ketidakseimbangan sebagai respon atas ketidakmampuan manusia dalam menyesuaikan diri dengan ancaman yang dihadapi. Tekanan secara harfiah memang diartikan oleh psikolog Richard Lazarus sebagai gangguan, tindakan yang tidak menyenangkan, dan perasaan terancam yang mengharuskan seseorang untuk menyesuaikan diri untuk mengurangi ancaman tersebut. Oleh sebab itu, dalam merespon tekanan Sobat Revmen memerlukan semacam upaya bahkan daya dorong agar tetap seimbang layaknya mengayuh sepeda agar tidak terjatuh. Upaya dan daya dorong ini sebenarnya telah ada dalam diri setiap manusia berupa pemikiran. Apabila Sobat Revmen fokus pada kemampuan yang dimiliki tanpa mengedepankan hal-hal yang ada diluar kendali, maka Sobat Revmen akan tetap seimbang dalam merespon tekanan, bahkan terhindar dari stres. Berpikir positif menjadi salah satu hal penting dalam merespon tekanan.

Pada proses transisi inilah selayaknya Sobat Revmen menggunakan daya upaya berupa akal pikiran guna melihat peluang yang mungkin hadir untuk kemudian mengambil keputusan berbentuk penyesuaian. Oleh sebab itu, tekanan erat kaitannya dengan perubahan. Umumnya, seseorang yang terbiasa dengan tekanan akan lebih mudah dalam penyesuaian dan menjalani perubahan dalam kehidupan. Akan tetapi, kita seringkali lupa bahwa tekanan dapat dikendalikan karena kita terfokus pada hal-hal yang ada di luar kendali diri kita tanpa sadar bahwa kita memiliki daya upaya untuk meminimalisir dan memutuskan apa yang harus dilakukan sebagai respon dari tekanan tersebut. Kita dapat mengacu pada proses terbentuknya sebuah intan, semakin mendapat tekanan maka semakin berkualitas intan yang dihasilkan. Begitu pula dengan manusia, semakin banyak tekanan, maka pemikiran dan kepribadian manusia akan semakin tertempa sehingga menghasilkan manusia yang berkualitas.

Pandemi covid-19 yang tengah mewabah dan mengintai setiap individu dapat kita sejajarkan sebagai sebuah tekanan. Akan tetapi, ketika kita mencoba menyelami sisi lain dari covid-19, maka kita akan menjumpai suatu fenomena pembelajaran berupa adaptasi dalam menjalani kehidupan yang mampu menempa kita untuk naik kelas menjadi pribadi individu yang berkualitas. Tekanan yang diberikan oleh covid-19 memacu kita semua untuk sadar bahwa semakin cepat kita melakukan adaptasi, maka semakin cepat pula peluang dan pembelajaran yang akan kita dapati. Dengan kata lain, tekanan sebenarnya juga mampu menjadi pemicu sekaligus pemacu perkembangan dan pertumbuhan pemikiran maupun kepribadian seseorang. Momentum Adaptasi Kebiasaan Baru pasca pandemi seharusnya juga memicu dan memacu kita untuk mengimplementasikan prinsip dasar Revolusi Mental menuju Indonesia yang lebih baik.

Penulis: Usman Manor

Lulusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia (2015) dan Magister Manajemen Universitas Indonesia

(2017) yang kini menjadi Analis Sejarah.