Rawat Toleransi dari “Terowongan Silaturahmi”

Rawat Toleransi dari “Terowongan Silaturahmi”

  • 78
  • 0
  • 0
  • 0

0%
ayo rukun
0%
untuk indonesia yang toleran

Praktik baik

Foto: (sumber: today.line.me)

 

 

Rawat Toleransi dari “Terowongan Silaturahmi”

 

Sejak awal berdiri, keduanya memang diharapkan selalu jadi simbol kerukunan umat beragama. Baik masjid maupun gereja katolik itu kini makin dipersatukan dengan lahan parkir yang berada di bawah tanah. Saling menjaga dan merawat dalam balutan toleransi, ala Bangsa Indonesia!

 

Banyak literatur yang mengungkapkan sejarah berdiri keduanya. Gereja Katedral dibangun terlebih dulu di tahun 1800-an sedangkan Masjid Istiqlal dimulai pada tahun 1961, kedua rumah ibadah ini memang sejak semula diniatkan jadi simbol kerukunan umat beragama. Pembangunan yang dirintis sejak Jakarta dipimpin oleh Gubernur Herman Daendels, Gereja Katedral kala itu dinyatakan sudah mengakomodir dan melindungi segala kepentingan umat beragama dengan cara mendirikan rumah ibadah. Meskipun terus diperbarui konsep dan penguatan struktur bangunannya, Geraja Katedral yang kokoh berdiri hingga kini tetap setia berdiri berhadapan dengan rumah ibadah Umat Islam terbesar di Asia Tenggara yaitu Masjid Istiqlal.

 

Berdirinya Masjid Istiqlal memang sudah lama direncanakan oleh Presiden Soekarno dan lokasi yang diinginkan adalah dapat berdekatan dengan Gereja Katedral. Lokasi berdampingan ini tidak lain adalah karena Sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia itu menghendaki agar kedua rumah ibadah ini dapat menjadi perlambang semangat persatuan, persaudaraan, dan toleransi umat beragama sesuai dengan nilai-nilai dasar Negara, Pancasila. Uniknya, desain masjid kebanggan Indonesia ini dirancang oleh Arsitek beragama Katolik bernama Frederik Silaban yang atas konsep ketuhanannya itu kemudian memenangkan lomba desain masjid di tahun 1955. Masjid ini akhirnya diresmikan pada Februari 1978 dan dalam pernyataan resmi saat itu dikatakan bahwa Masjid Istiqlal didirikan untuk menghormati Para Pejuang Muslim yang gugur dalam perang merebut kemerdekaan.

 

Baik Gereja Katedral maupun Masjid Istiqlal, dalam proses pembangunannya mengalami banyak tantangan yang seluruhnya adalah soal dana. Gereja Katedral dapat berdiri hingga kini Karena perjuangan panjang Para Misionaris mengajukan permohonan dana kepada Pemerintah Kolonial yang akhirnya diberikan tidak seberapa dari yang dibutuhkan. Sepanjang pembangunannya di Era Modern, Katedral kemudian “diperkokoh” dengan aksi patungan baik dari kocek pribadi maupun organisasi parokial. Masjid Istiqlal juga mengalami jalan panjang yang banyak dipengaruhi oleh situasi politik, statusnya yang sebagai proyek nasional juga menjadikan masjid ini sempat terhenti pembangunannya. Peletakan batu pertama di tahun 1961 dan baru diresmikan di tahun 1978 adalah masa sulit yang harus dijalani sesuai itikad politis pemerintahan yang saat itu harus berganti orde. Namun, masjid ini tidak diubah semangatnya yaitu sebagai masjid yang juga monumen kemerdekaan Bangsa Indonesia.

 

Sejak resmi berdampingan, simbol dan perlambang toleransi umat beragama terutama Katolik dan Islam itu terus dipertontonkan dengan penuh kebanggaan. Jatidiri bangsa Indonesia yang gemar hidup dalam harmoni kerukunan dapat jelas terlihat kala kedua rumah ibadah itu dipergunakan dalam peringatan hari besar keagamaan. Untuk soal lahan parkir saja misalnya, Katedral akan meminjamkan halamannya agar dapat digunakan oleh Umat Islam sewaktu Shalat Idul Fitri dan Idul Adha, begitu juga lahan parkir Istiqlal yang dapat digunakan Jemaat Katedral saat merayakan Hari Natal.

 

Kini, jelang berakhirnya renovasi besar Masjid Istiqlal, Presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa akan dibangun lahan parkir bawah tanah yang dapat digunakan oleh Jemaat Katedral dan Umat Islam Jamaah Masjid Istiqlal. Dengan maksud memecahkan masalah parkir bagi kedua umat beragama, Presiden Joko Widodo menyebutnya sebagai terowongan silaturahmi. “Sudah saya setujui sekalian, sehingga ini menjadi sebuah terowongan silaturahmi,” kata Presdien di Februari 2020 lalu. Menurut Kepala Bagian Humas dan Protokol Masjid Istiqlal, Abu Hurairah, terowongan ini nantinya akan berfungsi untuk memudahkan masyarakat menyeberang dari Istiqlal ke Katedral atau sebaliknya. Selain pengunjung kedua rumah ibadah, masyarakat umum, kata Abu, dapat memanfaatkan terowongan itu. “Khususnya bagi yang parkir di Istiqlal tapi mau ibadah di Katedral. Juga wisatawan yang ingin mengunjungi dua tempat ibadah itu,” ujarnya lagi.

 

Abu menambahkan, ide yang mendasari rencana pembangunan terowongan itu adalah rasa toleransi yang sangat tinggi di antara dua tempat ibadah. Menurut Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono “terowongan silaturahmi” akan tetap dibangun dan diselesaikan tahun 2020 ini. Adapun anggaran untuk membangun terowongan inijuga sudah disiapkan yaitu sekitar Rp40 miliar sebagai bagian dari dana renovasi Istiqlal.

 

Sebelum muncul ide membangun terowongan, Abu mengatakan kalau Imam Besar Masjid Istiqlal pernah menyarankan agar pagar di Istiqlal dan Katedral agar dibuka. “Supaya tidak ada sekat yang membatasi. Tapi itu kan sulit dilakukan. Nah, paling bisa dikerjakan adalah membuat terowongan yang menghubungkan dua tempat ibadah itu,” paparnya.

 

Oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, “Terowongan Silaturahmi” sekali lagi adalah contoh nyata toleransi a la Bangsa Indonesia yang selama ini banyak dipuji banyak orang bahkan dunia. “Tapi kita melakukan itu bukan untuk dipuji. Karena kita ingin menonjolkan rasa kemanusiaan kita. Karena bagi kita humanity is only one, there is no colours. Kemanusiaan itu hanya ada satu, enggak ada warnanya. Allah juga mengatakan seperti itu. Apalagi, umat beragama. Orang yang memiliki keimanan itu bersaudara,” katanya dalam wawancara dengan Aline.id.

 

Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Pastor Kepala Gereja Katedral Jakarta, Romo Albertus Hani Rudi Hartoko, dalam menyikapi pembangunan terowongan silaturahmi yang digagas Presiden Jokowi dari pendekatan historis. Menurutnya, simbol-simbol fisik untuk mempererat kerukunan beragama sudah didesain para pendiri bangsa sejak dulu. “Pernyataan Presiden Jokowi saat menyetujui didirikannya terowongan itu sebagai terowongan silaturahmi kebangsaan yang tentunya amat baik kehadirannya. (Pernyataan ini—red) itu atas dasar ide dari pembicaraan antara Imam Besar, Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal dan Pastor Kepala Gereja Katedral dalam beberapa kali pertemuan di tahun 2019. (Gagasannya supaya) dapat kiranya kita memiliki terowongan silaturahmi kebangsaan untuk meningkatkan hubungan persaudaraan yang lebih erat lagi antarumat beragama sekaligus untuk tamu-tamu negara yang dapat merasakan menyebrang di antara dua bangunan beribadah Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral,” katanya kepada Alinea.id.

 

Membangun toleransi sama panjangnya dengan merawat toleransi itu sendiri. Seluruhnya dipupuk atas rasa persatuan sesama bangsa Indonesia yang selalu menghendaki hidup penuh kerukunan dan sikap saling menghargai serta menghormati secara harmonis. Karena jika sudah rukun, tentu akan mudah dipersatukan bukan? Jadi tidak hanya bangunan rumah ibadah yang dapat berdiri berdampingan, tetapi juga dengan umat beragama yang mempergunakannya sebagai tempat menjalankan ibadah keagamaannya. Sekali lagi, Indonesia itu satu, maka ada Gerakan Indonesia Bersatu dari Gerakan Nasional Revolusi Mental yang menyerukan selalu semangat persatuan dan kesatuan bangsa agar dapat semakin kokoh dan tidak mudah terpecah belah. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber


#gerakanindonesiabersatu