Pertanian Indonesia Menanti Pemuda

Pertanian Indonesia Menanti Pemuda

  • 25
  • 0
  • 0
  • 0

0%
ayo berubah
0%
agen perubahan

Praktik Baik

Foto: (sumber: uny.ac.id)

 

Pertanian Indonesia Menanti Pemuda

 

Sektor pertanian masih jadi salah satu roda penggerak ekonomi nasional. Namun, Indonesia nyatanya masih kekurangan tenaga penyuluh pertanian terutama yang berusia muda. Karena dari mereka agen perubahan mental bertani diharapkan makin membaik.

 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDB (Produk Domestik Bruto) sektor pertanian menjadi penyumbang tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II 2020 yaitu tumbuh sebanyak 2,19 persen. Terlebih di masa Pandemi Covid-19 ini, sektor pertanian terus gencar dikembangkan geliatnya mengingat dari sektor ini pula banyak lahir inovasi dan juga sosok petani baru dengan rata-rata berusia muda yang punya banyak kisah sukses serta keuntungan yang menjanjikan.

 

Sejak sektor pertanian semakin modern, terdapat peran penyuluh yang mampu menjembatani antara inovasi baru dengan pelaksanaannya di lapangan. Penyuluh juga berperan sebagai penebar informasi penting bagi petani dalam menerima berbagai produk penelitian dan pengembangan teknologi di bidang pertanian agar produktivitas petani juga meningkat.

 

Namun demikian, Kementerian Pertanian mencatat bahwa terjadi kekurangan tenaga penyuluh pertanian di tanah air. Idealnya, setiap desa setidaknya memiliki satu penyuluh pertanian tetapi sekarang, satu penyuluh bertanggung jawab pada dua sampai lima desa. Secara keseluruhan, sektor pertanian membutuhkan sekitar 42.500 tenaga penyuluh pertanian baru.

 

Pemerintah pun terus berupaya menambah jumlah tenaga penyuluh pertanian. Salah satunya dengan menggandeng dunia usaha dengan cara menggandeng perguruan tinggi yang membuka jurusan pertanian. Mahasiswa pertanian yang dibina itu diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang turun langsung ke petani di lapangan untuk memberikan sosialisasi dan edukasi pertanian yang komprehensif.

 

Adalah PT Bayer Indonesia yang sejak tahun 2019 lalu telah berkolaborasi dengan tujuh universitas, yakni Universitas Pertanian Bogor (IPB), Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Brawijaya (Unibraw), Universitas Negeri Lampung (Unila) dan Universitas Islam Sumatera Utara (UISU). Mahasiswa pertanian yang berprestasi kemudian berkesempatan mendapatkan educational trip ke Jerman. Namun, akibat pandemi, keberangkatan ditunda hingga waktu yang akan ditentukan kemudian. Menurut Dosen dari Universitas Padjajaran, Vira Kusuma Dewi, kerjasama kampus dengan dunia usaha ini dapat menjadi nilai tambah dan pengalaman terjun langsung ke lapangan untuk para mahasiswa. Misalnya, untuk masalah penggunaan Pestisida. “Menyebarkan cara dan metode menggunakan produk pertanian secara aman sangat penting bagi petani, agar dapat meminimalisir risiko penggunaan pestisida. Karena masih banyak petani Indonesia yang masih kurang memiliki informasi mengenai bahaya dari penyalahgunaan pestisida,” ujarnya lagi seperti dikutip dari mediaindonesia.com

 

Upaya lain yang dilakukan Kementerian Pertanian adalah dengan menarik Generasi Milenial untuk menjadi penyuluh pertanian yang handal. Menurut Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPP SDMP), Dedi Nursyamsi, penyuluh pertanian dari kalangan milenial dinilai mampu memberikan terobosan baru untuk membangun pertanian di tanah air. “Para petani muda atau milenial yang menonjol nanti akan kami siapkan jadi penyuluh swadaya. Mereka lebih muda dan energik, sehingga kerjanya nanti lebih efektif," ujar Dedi seperti dilansir oleh Liputan6.com

 

Sementara menurut Kepala Dinas Pertanian Kab Lampung Tengah, Krisna Rajasa, konsep millenial yang dimaksud adalah yang memiliki pemikiran maju. “Kita dorong bagaimana ke depan mereka (Generasi Milenail—red) menjadi pionir untuk petani lain. sehingga diharapkan nanti pola pikir, pola tindak dan inovasi inovasi itu bisa diikuti oleh petani petani yang lain.” Nantinya, para penyuluh maupun petani akan terus dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan baru, seperti ilmu vokasi melalui pelatihan dan pembimbingan.

 

Sementara itu, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY berharap tenaga penyuluh pertanian di daerah ini mampu menumbuhkan minat generasi muda terjun di bidang pertanian karena saat ini minat anak muda yang tertarik menjadi petani masih terbilang rendah. “Kami berharap ke depan banyak bermunculan petani-petani muda yang mampu menggarap sawah dengan teknologi,” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY Arofa Noor Indriani, seperti dikutip dari Bernas

 

Arofa berharap para penyuluh pertanian yang berkualitas mampu meningkatkan minat generasi muda menggeluti dunia pertanian. Untuk menumbuhkan minat bertani itu, orientasi sektor pertanian harus segera diubah dengan mengarahkan pada penggunaan alat-alat pertanian modern. “Regenerasi petani akan menentukan keberlanjutan sektor pertanian yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan beras sebagai kebutuhan pokok masyarakat Indonesia.” 


Peran pemuda atau mereka yang akrab disapa dengan Generasi Milenial memang sangat dibutuhkan dalam mentransfer ilmu pengetahuan. Banaknya ilmu yang telah mereka serap di samping semangat yang sulit dipadamkan, tentu akan dapat tercipta sebuah perubahan penting baik bagi lingkungan maupun kemajuan suatu bangsa. Sejarah juga banyak mencatat bahwa pemuda berperan penting dalam merebut kemerdekaan, maka kini saatnya mereka kembali diminta berperan mengisi kemerdekaan itu. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber