Moda Raya Terpadu (MRT) dalam Interaksi dan Budaya

Moda Raya Terpadu (MRT) dalam Interaksi dan Budaya

  • 20
  • 0
  • 0
  • 1

100%
Ayo, Naik Transportasi Publik dan Jaga Keberadaannya
0%
Enakan Naik Transportasi Pribadi

Hai Sobat Revmen, siapa yang seneng naik transportasi umum? Sudah tau kan kalo di Jakarta ada fasilitas transportasi umum yang super kece kaya di luar negeri? Yup bener banget Sobat, Moda Raya Terpadu (MRT) yang mulai beroperasi sejak 24 Mei 2019 sarana transportasi ini menjadi salah satu contoh gerakan perubahan yang sejalan dengan Gerakan Nasional Revolusi Mental. Para penumpang diharuskan mengikuti aturan-aturan yang berlaku, melatih masyarakat untuk tertib dan saling menghargai antar pengguna transportasi umum. Yuk Sobat Revmen pakai transportasi umum supaya kita bisa mewujudkan Gerakan Indonesia Tertib di kehidupan sehari-hari kita.

Sambil naik transportasi umum, yuk sekalian baca-baca opini dari salah satu sahabat mimin seputar sejarah transportasi umum~


Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Interaksi tersebut membuka peluang untuk mobilitas yang tinggi sehingga diperlukan media atau sarana untuk menunjang interaksi tersebut. Lewat media atau sarana transportasi inilah manusia saling berpindah tempat untuk berinteraksi. Salah satu alat transportasi yang familiar hingga kini adalah transportasi berbasis rel yang telah ada sejak abad ke 19.

Sobat revmen pasti mengenal Kereta Rel Listrik Commuter Line yang setiap hari melayani hingga 4 juta penumpang. Moda transportasi lain yang kini sedang happening adalah Mass Rapid Transit atau Moda Raya Terpadu yang biasa disingkat MRT. Tetapi taukah Sobat Revmen kalau moda transportasi berbasis rel sudah ada sejak abad 19?

Jakarta yang dulunya bernama Batavia merupakan pusat bisnis dan Pemerintahan Hindia Belanda. Moda transportasi yang dikenal dengan sebutan Trem hadir di Batavia sejak tahun 1869. Awalnya Trem berjalan di atas rel dan ditarik oleh kuda. Namun, kemudian banyak kuda yang mati akibat kelelahan sehingga penggunaan kuda digantikan oleh mesin bertenaga uap. Sisi humanis dari Pemerintahan Kota Batavia saat itu menjadi penyebab dilarangnya penggunaan kuda. Penggunaan Trem Uap dimulai tahun 1891, namun saying hanya bertahan selama 2 (dua) windu karena pada tahun 1897, Trem Listrik mulai digunakan dan dikelola oleh Electrische Tram Mij.

Mendekati tahun 1930, Trem Uap dan Trem Listrik melakukan merger and acquisition menjadi Perusahaan Batavia Verkeer Matschapij guna menghindari persaingan yang tidak sehat dan memudahkan dalam memberikan pelayanan pada masyarakat. Rute Trem menghubungkan Kota Batavia Lama (sekarang Wilayah Kota Tua) dan Kota Batavia Baru atau Weltevreden (sekarang wilayah Gambir) serta berakhir di Kota Luar atau Mester Cornelis (sekarang wilayah Jatinegara). Spesifiknya adalah BEOS (Jakarta Kota)-Kramat-Mester Cornelis (Jatinegara), Senen-Gunung Sahari, dan Menteng-Merdeka Timur-Harmoni.

Kalau saat ini Sobat Revmen sering melihat iklan atau promosi lainnya sebagai media komunikasi di MRT atau Commuter Line, dahulu Trem juga memiliki iklan berupa kata dan kalimat bernada agitasi dalam upaya memberikan semangat pada masyarakat untuk terbebas dari belenggu penjajah acap kali dituliskan pada Trem. Jadi, penyampaian pesan atau komunikasi melalui media yang bergerak sudah ada sejak abad ke-20. Trem saat itu menjadi simbol perlawanan terhadap penjajah. Melalui Trem, masyarakat Batavia saat itu berupaya mengubah pola pikir dan budaya lama yang mengkotak-kotakkan antara orang Belanda dan Eropa, orang Timur Asing serta pribumi menjadi budaya baru yang lebih humanis dan egaliter (setara).

Kini, Jakarta bukan lagi Batavia. Jakarta mulai berbenah dengan transportasi baru yang tetap berbasis rel. Seperti halnya Trem, MRT hadir bukan hanya menjadi sarana transportasi yang memudahkan masyarakat dalam melakukan interaksi dan melakukan mobilisasi, melainkan sarana revolusi mental yang mengubah budaya lama menjadi budaya baru. MRT memberikan rasa nyaman bagi Sobat Revmen dan masyarakat melalui penggunaan uang elektronik dengan biaya terjangkau, ketepatan waktu perjalanan, kebersihan yang senantiasa dijaga, dan keramahan petugas yang memberikan pelayanan. Sudah saatnya kita menjaga dan merawat moda transportasi baru ini karena MRT berupaya menjadi produk budaya yang mencerminkan Indonesia; Ramah, Tertib, dan Berbudaya.



Usman Manor (Lulusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia (2015) dan Magister Manajemen Universitas Indonesia (2017) yang kini menjadi Analis Sejarah)