Menyontek? Ingat Akibatnya

Menyontek? Ingat Akibatnya

  • 39
  • 0
  • 0
  • 0

0%
ayo ubah kebiasaan
0%
mari cegah korupsi

Kabar

Foto: (sumber: mojok.co)

 

Menyontek? Ingat Akibatnya

 

Sering dianggap sebagai masalah remeh, jalan terbaik saat terdesak, bahkan jadi pembenaran kalau hasilnya nanti ternyata baik. Padahal, kalau terus membudaya, bibit keburukan tinggal menuai buahnya.

 

Mereka yang pernah merasakan duduk di bangku sekolah atau kuliah, tentu mengalami atau cukup melihat saja adanya aksi “mengintip” buku pelajaran saat ulangan tengah berlangsung, padahal sudah sejak awal perbuatan itu dilarang keras oleh Bapak/Ibu guru. Kalau pun tidak “mengintip,” perbuatan saling berbisik antarteman atau “lempar kode” dengan Bahasa tubuh tertentu demi mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaan pada ulangan itu seolah sah saja dilakukan oleh para siswa. Seolah jadi rahasia umum, nilai ulangan yang bagus dari hasil “mengintip” atau “bisikan” tadi dirayakan sedemikian rupa bahkan jadi kebanggaan, sementara yang tahu peristiwa sebenarnya hanya ikut tertawa. Demikianlah menyontek, siapa yang tidak pernah melakukan? Minimal, pasti pernah menyaksikan langsung teman kita menyontek bukan?

 

Mengapa menyontek? Banyak alasan yang dapat ditampilkan, mulai dari dalih praktis karena malas belajar, terdesak, lupa belajar karena sibuk urusan lain, atau justru karena budaya yang akhirnya membuat menyontek jadi hal biasa. Menyontek dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti ‘menggocoh' (dengan sentuhan ringan); mencungkil (bola dan sebagainya) dengan ujung kaki.’ Menyontek dalam arti yang lebih luas lagi dapat bermakna ‘melanggar.’ Di sisi lain, perbuatan curang saat ujian atau ulangan ini pernah dibela habis-habisan kalau tidak sepenuhnya salah karena baik yang menyontek dan pemberi contekan juga sama kelirunya. Lagi-lagi, atas nama pertemanan, menyontek pun disahkan. Lantas di mana nilai kejujuran yang seharusnya dijunjung tinggi?

 

Hati kecil boleh berkata kalau menyontek itu perbuatan salah, kejujuran sejati semacam ini lantas terlupakan saat kesadaran akan situasi di luar diri berkehendak lain. Dengan kesadaran penuh pula, menyontek yang dilakukan sedemikian rupa pun berjalan “sangat rapi.” Di saat bersamaan, diri dan hati secara tidak langsung mulai diajarkan berbuat buruk. Sekali melakukan, hasilnya bagus, bukan tidak mungkin akan kembali dilakukan. Toh orang atau teman yang melihat pun tidak akan mempermasalahkan. Melanggar atau tidak, akan dilupakan begitu saja kalau tidak dibahas. Menyontek pun akhirnya jadi budaya.

 

Menyontek mungkin saja bernilai sepele karena akibatnya tidak sebesar aksi kekerasan atau perundungan. Namun untuk jangka panjang, menyontek adalah akar dari masalah bangsa ini. Menyontek sesungguhnya menanamkan bibit-bibit korupsi, pencurian, atau penggelapan. Berbuat atau mengambil sesuatu yang bukan haknya. Sudah dilarang tetapi masih saja dilakukan. Diri jadi semakin malas belajar, berani berbohong semakin menguat, keraguan terhadap kemampuan diri sendiri jadi meningkat, dan sikap tidak siap. Lantas, cara instan pun dipilih, tidak perlu repot belajar karena ada cara cepat memecahkan soal ulangan atau ujian itu, meskipun memang caranya salah.

 

Menurut Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung, Arba’iyah Satriani, masalah menyontek yang diketahui terus membudaya dengan subur di kalangan siswa sekolah harus dikembalikan pada pentingnya pendidikan karakter. “Tentu saja, pendidikan karakter lebih menantang ketimbang sekadar mengajari anak-anak agar lulus ujian. Dalam pendidikan karakter, tidak ada rumus yang baku karena berkaitan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan. Praktiknya pun di dunia nyata, bukan di atas kertas yang bisa dimanipulasi. Karena itu, pendidikan karakter ini perlu dukungan orang tua sepenuhnya. Harus ada kerja sama yang baik antara pihak sekolah dan orang tua dalam mengembangkan pendidikan karakter ini. Salah satunya adalah tentang kejujuran, tanggung jawab dan berproses.” Demikian menurut Arba’iyah seperti dimuat di Republika.

 

Berani menyontek sesungguhnya berarti berani menunjukkan bahwa diri sendiri punya karakter tidak jujur, hati tidak lurus, dan curang. Kejujuran dalam ucapan, perbuatan, dan niat akan hilang dengan sendirinya seiring dengan keputusan untuk berani menyontek. Karakter tidak jujur ini memang sudah seharusnya sudah mulai diajarkan untuk dihilangkan sejak dini baik dalam berbagai muatan di bidang pendidikan maupun dalam pola asuh orang tua. Menanamkan kejujuran berarti menanamkan karakter baik untuk anak-anak bangsa ke depan yang bersemangatkan jiwa bersih serta berbudi luhur sesuai ajaran nenek moyang kita.

 

Selain kesadaran akan manfaat dan akibatnya, kejujuran akan sangat dibutuhkan dalam membentuk karakter diri yang baik. Karena kalau sudah baik dan jujur, seseorang setidaknya tidak akan terbiasa berbohong, apalagi korupsi. Akan lebih baik lagi jika atas nama kejujuran tadi, sikap tegas menolak berbuat korupsi misalnya, dapat dilakukan. Seseorang dengan etos kerja yang baik dapat dinilai dari sikap kejujurannya saat mendedikasikan diri bagi pekerjaan atau tugasnya. Sebuah sikap yang sangat dituntut di masa kini dalam rangka mengamalkan berbagai nilai dari semangat Gerakan Nasional Revolusi Mental. Kalau sudah demikian, bukan tidak mungkin Indonesia yang bersih, bebas korupsi dapat terwujud. Diharapkan begitu! (*)