Membumikan Revolusi Mental lewat Modul Pembelajaran

Membumikan Revolusi Mental lewat Modul Pembelajaran

  • 31
  • 0
  • 0
  • 0

0%
ayo berubah
0%
indonesia bisa

Kabar

Foto: (sumber: oranglembata.com)

 

Membumikan Revolusi Mental lewat Modul Pembelajaran

 

Menyasar generasi muda yang terlihat sedang mengalami krisis identitas mental kebangsaannya, Dinas Kesbangpol Kab Lembata, NTT, merasa perlu menyiapkan modul pembelajaran Revolusi Mental. Berangkat dari keprihatinan yang akhirnya jadi perhatian!

 

Direncanakan berlaku efektif mulai 2021 mendatang, Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpollinmas) Kab Lembata tengah mempersiapkan semacam modul guna memberikan pembelajaran kepada generasi muda Lembata tentang pentingnya empat pilar kebangsaan yang jadi spirit dasar revolusi mental yang digaungkan Presiden Joko Widodo.

 

Modul ini sendiri, menurut Kepala Badan Kesbangpolinmas kab Lembata, Anselmus Bahy, generasi muda akan menjadi sasaran utama program ini karena nilai-nilai revolusi mental terlihat semakin memprihatinkan di Kab Lembata. Dia mencontohkan, kalau generasi milenial saat ini sudah tidak identik lagi dengan budaya saling menghargai apalagi menghormati orang yang lebih tua. Budaya saling tegur sapa juga mulai luntur, kehidupan anak-anak yang dekat dengan pesta, minuman keras dan seks bebas menjadi penyakit menahun yang sulit diobati. Fenomena ini yang kemudian dinilai Ansel dapat menjadi preseden buruk hilangnya nilai-nilai Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika atau empat pilar kebangsaan tadi.


Model pola asuh anak dari orangtua dan lingkungan sosial masyarakat di Kab Lembata, tambah Ansel,  juga tidak cocok menginternalisasi nilai-nilai kehidupan kepada seorang anak. “Mental anak-anak merosot. Anak-anak juga keluyuran malam tanpa ada pengawasan dari orangtua. Kita masih siapkan modul dan format dan caranya bagaimana. Kita mau buat sesuatu yang langsung mempengaruhi mereka, jangan terlalu banyak teori,” katanya lagi seperti dikutip dari Pos Kupang.


Modul bernafaskan semangat dan nilai revolusi mental ini oleh Kesbangpolinmas akan menggandeng banyak pihak yang fokus kegiatan kepemudaan seperti Gerakan Pramuka, Sekolah, Lembaga Swadaya Masyarakat, Forum Inovasi Anak Lembata (FIAL). “Kami sudah membangun komunikasi dengan berbagai stakeholder di Lembata antara lain, Plan Internasional. Saya lama bergaul dengan Plan internasional, sehingga saya tahu, ada tahapan-tahapan yang kami bisa masuk, guna membina mental mereka, sebelum mereka maju jauh melaksanakan kegiatan Plan, terutama dalam Bloom Project,” ujar Ansel. Bloom project merupakan program untuk mempersiapkan anak muda Lembata untuk memasuki dunia kerja.


“Kami masukkan modul kami ini ke dalam Bloom Project yang dikerjakan Plan Internasional di 100 desa binaan mereka, sehingga menjadi satu kesatuan gerak. Mereka jalan, kita juga jalan sama-sama. Memikirkan masa depan tetapi harus bertumpu pada mental anak yang bagus,” ungkap Ansel. Saat ini, Ansel dan jajarannya terus menggodok modul itu bersama Plan internasional sambal terus berkoordinasi dengan Korwas (Koordinator Pengawas Sekolah) SMA/SMK agar modul dapat masuk ke Mata pelajaran dan memanfaatkan kegiatan ekstra kurikuler yang ada.

 

“Di Modul yang disediakan itu bukan hanya sekedar sosialisasi tentang empat pilar kebangsaan dan revolusi mental, namun harus diipleementasi dalam kegiatan nyata di lapangan,” tambah Ansel. Dia lantas berharap agar platform revolusi mental yang terwujud nantinya antara lain berupa penghayatan dan pengamalan nilai-nilai yang wajib dimiliki generasi bangsa dalam menghadapi persaingan global tetapi tetap menjunjung tinggi nilai nilai etika ketimuran yang telah digariskan sesuai Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

 

“Contoh, orang bangun bengkel. Ketika bengkel di sebelah lebih maju, bagaimana cara Dia tidak boleh pergi potong bengkel sebelah agar dia sendiri yang maju, tetapi Dia wajib berbenah diri agar dapat bersaing secara sehat dengan bengkel sebelah. Kalau di-cut bengkel sebelah agar Dia bisa mandiri, itu mental yang tidak bagus kan gitu,” ujar Ansel lagi. Sejauh ini, Ansel mengaku telah berkoordinasi juga dengan Kadis Pendidikan Provinsi NTT agar modul revolusi mental dapat dimasukan ke dalam pembelajaran di SMA dan SMK baik dalam kurikulum pelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler.

 

Membumikan nilai dan semangat revolusi mental dalam modul milik Badan Kesbangpolinmas kab Lembata ini dapat dimulai dari kesadaran aparat pemerintahan yang diketahui sangat peduli terhadap masyarakatnya, terutama generasi muda. Lahirnya generasi muda yang unggul dan mampu berdaya saing global tentu akan sangat membanggakan. Namun, membangun mereka yang tidak hanya unggul sambil terus menanamkan karakter dan budi luhur asli Indonesia tentu akan jadi kebanggaan tersendiri. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber






 

 


#ayoberubah