Melandaskan Revolusi Mental dari Kacamata Agama

Melandaskan Revolusi Mental dari Kacamata Agama

  • 22
  • 0
  • 0
  • 0

0%
ayo bersatu
0%
demi indonesia lebih baik

Kabar

Foto: (sumber: bogor-daily.net)

 

Melandaskan Revolusi Mental dari Kacamata Agama

 

Pemuka agam diharapkan terus tampil sebagai salah satu garda terdepan upaya membangun karakter bangsa. Agar Indonesia semakin baik lagi, nilai-nilai luhur dari Pancasila pun dapat dihayati lebih mendalam lagi.

 

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama, Yohanes Bayu Samodro, akhir Agustus ini mengajak umat Katolik turut mengembangkan pendidikan karakter. Menurutnya, Pendidikan karakter itu penting sebagai penentu wajah kepribadian asli Indonesia. Yohanes lalu mengutip pernyataan tokoh Katolik MGR Albertus Soegijapranata yang mengatakan dalam konteks kebangsaan, spirit ke-Katolikan berarti menjadi pribadi yang utuh 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia.


Menurutnya, kepemimpinan dalam ke-Katolikan mesti memiliki cita-cita luhur untuk membangun bangsa.“Kepemimpinan yang mengandung nilai keadilan, keberpihakan pada yang lemah dan penghormatan kepada yang lemah yang dilandasi jiwa Pancasila dan kesetiaan menjalankan konstitusi UUD 1945 dan menjaga keutuhan negara,” kata Yohanes dalam upacara pelantikan rektor Universitas Tarumanegara Jakarta yang dilakukan secara daring seperti dikutip dari Tribunnews.com. Dirinya juga mengajak agar Universitas
Tarumanegara menjadi tempat pencetak pemimpin bangsa serta penanaman pendidikan karakter mahasiswa. “Sejalan dengan misi pemerintah kita membentuk SDM yang unggul melalui revolusi mental menuju Indonesia maju.”

 

Pada kesempatan lain, peran agama dan pemuka agama dalam membina karakter bangsa sesuai Gerakan Nasional Revolusi Mental, menurut Guru Besar Sosiologi dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, Jawa Timur, dapat dilihat dari sejumlah latar belakang. Menurutnya, telah sejak dulu gerakan semacam revolusi mental ini menjadi salah satu misi kenabian. Para nabi, menurutnya, ditugaskan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memperbaiki mental yang rusak atau juga disebut kebobrokan akhlak. Dalam sejarah kemanusiaan, pada saat-saat tertentu, oleh karena sesuatu sebab, kehidupan masyarakat mengalami krisis.

 

Memunculkan kembali revolusi mental sebagai gerakan bersama, tambah Imam, adalah gagasan yang dipandang bersifat mendasar, relevan, dan staregis sebagai upaya meningkatkan kualitas dan martabat kehidupan bangsa. “Apalagi jika mau jujur, gejala kriris nilai-nilai kemanusiaan itu sebenarnya mulai terasakan. Kepercayaan diri masyarakat semakin rendah, bermental terjajah, mementingkan diri sendiri, kebohongan terjadi di mana-mana, yang semua itu menjadikan ketahanan bangsa tidak sekokoh yang diharapkan. Maka, mental yang kurang menguntungkan itu seharusnya direvolusi atau diubah secara cepat,” tulis Imam yang dimuat oleh laman resmi uin-malang.ac.id.

 

“Sangat relevan dengan pandangan di muka, maka revolusi mental menjadi tepat diartikan sebagai gerakan bersama-sama dan bersifat massal untuk mendekatkan diri pada agamanya masing-masing. Sebagai bangsa yang berfalsafah Pancasila, maka pasti membutuhkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama, sehingga revolusi mental dapat dilakukan melalui tiga ranah sekaligus, yaitu gerakan mendekatkan diri pada kitab suci, pada tempat ibadah, dan pada pemuka agamanya masing-masing. Mendasarkan keyakinan bahwa, agama mampu melahirkan kedamaian, kebersamaan, dan kasih sayang, maka masyarakat seharusnya didorong untuk mendekat dan menjalankan agamanya. Tema besar gerakan revolusi mental itu misalnya bersama-sama 'Kembali ke kitab suci, ke tempat ibadah, dan mendekatkan pada pemuka agama'. Implementasinya tentu, menyesuaikan dengan agamanya masing-masing,” tulis Imam lagi.


Namun demikian, sebagai gerakan bersama, revolusi mental memang tetap membutuhkan sinergi dari seluruh pihak agar dapat diimplementasikan secara luas
. Selain dari dapat dimulai dari kesadaran dan kemauan diri sendiri, revolusi mental diharapkan dapat terus menular dan meluas lagi. Hingga bangsa ini punya karakter yang tidak hanya unggul tetapi juga berbudi luhur sesuai ajaran agama dan paham budaya asli Indonesia.

 

Kebijakan dan program pendidikan agama sejauh ini memang sudah seharusnya diarahkan pada moderasi beragama dan mengedepankan cara-cara pengamalan ajaran agama yang moderat.
Hal paling mendasar dalam pengamalan ajaran agama yang moderat adalah pendidikan toleransi dan pengakuan terhadap segala bentuk perbedaan yang ada, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan dari ajaran tiap kepercayaan.
(*)

 

Diolah dari berbagai sumber


#ayoberubah