Masa Lalu yang Kekinian

Masa Lalu yang Kekinian

  • 31
  • 0
  • 0
  • 0

0%
Setuju, Ayo Lestarikan dan Kunjungi Museum
0%
Biasa Aja

Sobat Revmen pasti udah pernah berkunjung ke museum kan? Dengan berkunjung ke museum dan mengetahui sejarah bangsa ini dari koleksi yang ditampilkan sobat bisa memperkaya pengetahuan dan menghargai sejarah negara. Ingat pesan dari Bapak Presiden Pertama Republik Indonesia bahwa "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah" atau yang akrab kita dengar dengan istilah 'Jasmerah' (diucapkan Bapak Ir. Soekarno saat pidato presiden pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1966) ya Sobat. 

Dengan merawat ingatan dan dapat menghargai kisah inspiratif dari sejarah di kehidupan sehari-hari berarti Sobat sudah menjalankan nilai-nilai dari Revolusi Mental dalam Gerakan Indonesia Mandiri. 



Mimin ada tulisan dari sahabat Revmen nih soal Sejarah di Kota Bandung, Cekidotttt !!

Masa lalu identik dengan cerita usang yang kuno termakan oleh perubahan waktu. Antara masa lalu dan masa kini terdapat rentang waktu yang memisahkan sehingga masa lalu terkesan jauh dan tidak berguna. Namun, terdapat suatu tempat di Ibukota Jawa Barat yang memberikan kesan bahwa masa lalu dan masa kini seakan tanpa sekat. Tempat tersebut adalah Museum Gedung Sate yang berupaya mendeskripsikan cerita dan peristiwa di masa lalu menggunakan digitalisasi yang sangat kekinian. Di dalam Museum tersebut, pengunjung seakan sedang menyelami peristiwa di kota Bandung dengan segala perkembangan dan dinamika pada masa lalu dan Gedung Sate sebagai titik pusat peristiwa sekaligus saksi bisu dari peristiwa tersebut.

Perkembangan dan dinamika suatu wilayah tidak dapat terlepas dari sejarah yang memberikan bingkai pada kisah dan peristiwa. Pasca terjadinya kisah dan peristiwa, akan ada memori yang melekat pada relung ingatan manusia. Demikian pula dengan kisah dan peristiwa yang terjadi di kota Bandung pada masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda.

Perkembangan Kota Bandung saat ini dengan pembangunan sarana dan prasarana yang sangat masif juga pernah terjadi di masa lalu. Pada masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda tepatnya pada tanggal 27 Juli 1920 dibangun sebuah kantor yang sangat ikonik di tengah-tengah kota yang berjuluk Paris van Java. Kini, masyarakat menyebutnya sebagai Gedung Sate. Pembangunan kantor yang sangat megah tersebut menelan biaya hingga 6000 gulden dengan melibatkan 2000 pekerja dan 150 pemahat. Pembangunannya langsung ditangani oleh Tim Ahli dari Belanda yang terdiri dari Ir. J. Gerber, Ir. Eh. De Roo, dan Ir. G. Hendriks. 

Di balik kemegahan Gedung Sate, tersimpan kisah memilukan sekaligus heroik yang terekan dalam tinta emas sejarah Kota Bandung. Kisah tersebut terjadi pada 3 Desember 1945 dengan melibatkan 7 orang pemuda Pegawai Departemen Pekerjaan Umum yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk mempertahankan tiap jengkal teritori Gedung yang saat itu merupakan Kantor Departemen Pekerjaan Umum. Mereka berupaya bertahan dari serangan tentara Inggris yang diboncengi oleh tentara Nederlandsch Indishe Civil Administration (NICA) bentukan Belanda yang hendak menguasai kota Bandung. Mereka adalah Didi Hardianto, Muchtaruddin, Soehodo, Rio Soesilo, Soebengat, Ranu, dan Soerjono.

Kisah heroik tersebut kini ditampilkan dalam bentuk film pada salah satu ruangan mirip Bioskop mini di Museum Gedung Sate. Selain kisah tersebut, terdapat pula cerita mengenai pembangunan Gedung Sate dengan infografis yang sangat kekinian, deskripsi pembangunan Gedung Sate dengan Augmented Reality yang membawa pengunjung seolah sedang berada di tengah para pekerja, dan teknologi proyektor empat dimensi (4D) menampilkan gambar Gedung Sate dalam tampilan empat dimensi. Pada salah satu sudut Museum, terdapat Ngopi Saraosna, tempat untuk menikmati kopi khas Bandung.

Bagi masyarakat yang hendak menyelami masa lalu kota Bandung dan berswafoto, Museum yang pembuatannya digagas oleh Rudi Gandakusumah pada tahun 2018 ini dapat dijadikan sebagai opsi. Hanya dengan biaya masuk 5000 Rupiah, masyarakat dapat menikmati suguhan masa lalu lengkap dengan teknologi digital yang sangat kekinian. Museum ini terbuka untuk umum setiap hari kecuali Hari Senin dan tanggal merah dari pukul 09.30-16.00 WIB.

Dari Museum Gedung Sate, kita tidak hanya berupaya mendekati masa lalu menggunakan alat bantu berupa teknologi yang sangat kekinian, akan tetapi pembelajaran bahwa kisah memilukan hingga kisah heroik dalam menggapai kemerdekaan yang kini dinikmati oleh segenap masyarakat Indonesia merupakan hasil perjuangan dan kerja keras lintas umur serta lintas generasi pada masa lalu. Sudah saatnya kita berkaca ke masa lalu agar kisah memilukan pada masa lalu tersebut tidak terulang kembali di masa depan dengan senantiasa melakukan perubahan dan inovasi ke arah yang lebih baik. Mampukah kita? Ayo Berubah, Terus Berubah, Lebih Baik!