MAN de MOTEFA: Metode Baru Pembelajaran Siswa Madrasah Aliyah

MAN de MOTEFA: Metode Baru Pembelajaran Siswa Madrasah Aliyah

  • 47
  • 0
  • 0
  • 0

0%
untuk indonesia lebih baik
0%
wirausahawan muda

inovasi

foto: (sumber: liputanislam.com)

 

MAN de MOTEFA: Metode Baru Pembelajaran Siswa Madrasah Aliyah

 

Sekolah madrasah nyatanya juga terus berupaya meningkatkan keterampilan para peserta didiknya untuk tidak hanya unggul dalam soal keislaman tetapi juga menempa mereka dengan sejumlah keterampilan.

 

Adalah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kulon Progo yang bertekad menciptakan lulusan yang berkualitas dan siap memasuki dunia kerja. Tekad ini berawal dari keprihatinan bahwa setiap lulusan MAN 2 Kulon Progo setiap tahunnya diketahui meluluskan sekitar 300-an siswa tetapi hanya sebagian kecil lulusan (berkisar 30 persen) yang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, sementara 70 persen lainnya langsung masuk ke dalam dunia kerja maupun berwiraswasta.

 

MAN 2 Kulon Progo lantas coba menjawab tantangan ini. Mereka mengembangkan metode pembelajaran dengan menggunakan model modified teaching factory (MAN de MOTEFA) yaitu memadukan antara soft skill dan hard skill. Melalui perpaduan antara soft skill dan hard skill, metode ini mampu mengarahkan siswa menjadi entrepreneur dan mampu bekerja di industri. Metode ini juga mengarahkan siswa menjunjung nilai-nilai akhlak mulia dalam bekerja. Metode ini pula yang kemudian mengantarkan Kemenag mendapatkan penghargaan dalam ajang Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) 2020 dari Kemen PANRB.

 

Soft skill dikembangkan untuk pembentukan akhlak mulia siswa melalui pembiasaan praktik keagamaan setiap hari dan praktik lain yang dapat membentuk akhlak mulia dan karakter siswa. Praktik pembiasaan ini meliputi saling berjabat tangan saat masuk dan pulang sekolah; menerapkan 5 S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun); salat Dhuha berjamaah, zikir pagi, asmaul husna, tahfiz, salat Zuhur berjamaah, kultum zuhur, pramuka, ekstrakurikuler. Sementara, hard skill dikembangkan melalui pengembangan program keterampilan berbasis teaching factory

 

MAN 2 Kulon Progo merupakan Madrasah Aliyah umum (bukan kejuruan) dengan muatan kurikulum yang sama dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) pada umumnya. Namun, MAN 2 Kulon Progo memberikan perhatian penuh terhadap masalah entrepreneurship dengan menambahkan kurikulum program keterampilan. Penguatan keterampilan diberikan delapan jam pelajaran per minggunya dan masuk intrakurikuler, bukan ekstrakurikuler. MAN 2 Kulon Progo mempunyai kurikulum khusus program keterampilan dengan komposisi pembelajaran teori sebesar 25 persen dan praktik sebesar 75 persen.

 

Kementerian Agama pada tahun 2018 menjalin kerjasama dengan pihak GIZ Jerman dan Kemenko Bidang Perekonomian RI dalam hal penguatan pendidikan Madrasah Vokasi, terutama Madrasah Aliyah Kejuruan dan Madrasah Aliyah Keterampilan. MAN 2 Kulon Progo lalu diberi kesempatan oleh Kemenag untuk mengembangkan inovasi pembelajaran dalam bentuk teaching factory. Pembelajaran teaching factory yang dilaksanakan di MAN 2 Kulon Progo mengadopsi metode teaching factory yang dikembangkan oleh GIZ Jerman dan dari SMK. Program keterampilan MAN 2 Kulon Progo melaksanakan model pembelajaran teaching factory pada saat pembelajaran keterampilan sebanyak delapan jam pelajaran per minggunya untuk kelas X, XI, dan XII. 

 

“Saya sebagai Menteri Agama, sangat mengapresiasi inovasi yang telah dilakukan oleh MAN 2 Kulon Progo. Ini merupakan sumbangsih nyata bagi pendidikan Indonesia. Kami berharap ini juga dapat ditiru dan menjadi salah satu solusi bagi dunia pendidikan menengah atas di Indonesia,” kata Menag dalam sesi presentasi dan wawancara KIPP 2020 yang digelar secara virtual oleh Tim Penilai KIPP 2020 Kemen PANRB.

 

Kepada panelis, Menag menjelaskan bahwa melalui program MAN de MOTEFA ini Kemenag membekali keterampilan sehingga siap bila harus langsung terjun ke dunia kerja. “Biasanya, sekolah menengah umum atau pun madrasah aliyah menyiapkan siswanya untuk dapat melanjutkan ke perguruan tinggi. Sementara, kita melihat di masyarakat tidak semua anak  beruntung bisa langsung melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi,” tutur Menag lagi.

 

Hal ini menurut Menag, menjadi permasalahan yang perlu dicari solusinya. “Sebagian dari mereka, biasanya karena berbagai macam alasan harus bersaing ke dalam dunia kerja. Padahal, mereka tidak punya keterampilan untuk bekerja. Persoalan itu yang harus dicari solusinya. MAN 2 Kulon Progo, hadir untuk memberi solusi dengan program MAN de MOTEFA ini,” ungkap Menag.  Dia juga menuturkan, MAN 2 Kulon Progo selain tetap melaksanakan kurikulum pendidikan umum madrasah aliyah sebagaimana seharusnya, juga telah menambahkan delapan jam kurikulum tatap muka bidang keterampilan yang dikelola secara profesional. “Ini bekerjasama dengan berbagai pihak yang kompeten. Seperti pabrik-pabrik, Balai Latihan Kerja (BLK), industri rumah tangga, universitas/institut, dan sebagainya.”

 

Dengan program ini, lanjut Menag, telah menghasilkan tamatan Madrasah Aliyah yang siap kerja dan memiliki keterampilan mumpuni. “Saya berharap ide baik ini dapat dicontoh oleh MAN lainnya, bahkan sekolah-sekolah umum di luar sekolah keagamaan.”

 

Senada dengan Menag, Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan Kanwil Kemenag Yogyakarta Anita Isdarmini mengungkapkan bahwa keberadaan MAN 2 Kulonprogro dengan program MAN de MOTEFA dapat membantu keresahan masyarakat sekitar.  “Ini dibuktikan dengan banyaknya peminat MAN 2 Kulon Progo. Mereka yang mendaftar ke sini tahu bahwa selulusnya dari sini, para siswa memiliki keterampilan bermanfaat dalam dunia kerja,” ujar Anita yang merupakan mantan Kepala MAN 2 Kulon Progo. 

 

Menurut Anita, ada lima kelas keterampilan yang melatih enterpreneurship siswa di MAN 2 Kulon Progo, yaitu: desain komunikasi visual, tata busana, agrobisnis pengolahan hasil pertanian, tata boga, dan teknik audio-video. "Bahkan sejak tahun 2018, lulusan kami sudah ada yang bisa membuka lapangan kerja sendiri atau menjadi enterpreneur," tuturnya lagi.

 

Sementara, Plt Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Kamaruddin Amin menyampaikan Kementerian Agama telah memiliki madrasah-madrasah aliyah dengan program keterampilan sejak 2016. “MAN 2 Kulon Progo adalah salah satu dari sekitar 260 madrasah aliyah dengan program keterampilan yang ada di Indonesia,” kata Kamaruddin.  “Kita pun memberikan berbagai dukungan terhadap madrasah ini. Mulai dari dukungan sarana prasarana, hingga memberangkatkan kepala madrasah ke Inggris, Finlandia, dan Australia, untuk melihat benchmark pendidikan di negara-negara maju,” ungkapnya. 

 

MAN 2 Kulon Progo sebagai madrasah keterampilan tentu saja sangat konsen dengan masalah entrepreneur ini, bagaimana kurikulum program keterampilan dapat mewujudkan siswa keterampilan untuk menjadi entrepreneur yang handal dan membantu siswa dapat bekerja di industri sesuai dengan kompetensi keahliannya. Kurikulum yang dikembangkan untuk mendorong ke arah itu antara lain kunjungan industri, praktik kerja industri (prakerin)/pemagangan di industri rumah tangga maupun BLK/BLPT, praktik unit produksi, pengelolaan usaha mandiri. Metode pembelajaran model teaching factory nyatanya betul-betul mengarahkan siswa untuk menjadi entrepreneur dan mampu bekerja di industri. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber