Layanan Jemput Bola, Jemput Ibu Hamil

Layanan Jemput Bola, Jemput Ibu Hamil

  • 35
  • 0
  • 0
  • 0

0%
untuk indonesia lebih baik
0%
mari wujudkan SDM Indonesia yang unggul

Inovasi

Foto: (sumber: metrotvnews.com)

 

Layanan Jemput Bola, Jemput Ibu Hamil

 

Layanan khusus untuk ibu hamil ini nyatanya sudah berusia dua tahun. Selain mempermudah akses layanan kesehatan, Jekmil dijalankan agar semakin banyak ibu hamil yang tetap menjaga kesehatannya tanpa kuatir tidak ada yang mengantarnya ke Puskesmas.

 

Sejak resmi dijalankan, Ojek Ibu Hamil atau lazim dikenal dengan ‘Jekmil’ ini hadir untuk meningkatkan kesadaran ibu hamil terutama yang tinggal di pelosok desa agar dapat senantiasa memeriksakan kondisi kesehatannya. Pemeriksaan kondisi kehamilan di triwulan pertama diketahui sangat penting untuk mengetahui kondisi kandungan.

 

“Di sini jumlah kunjungan pemeriksaan itu sangat rendah karena dari survei yang kita lakukan, mereka kesulitan transportasi ke puskesmas karena suami mereka harus bekerja,” papar Pencetus layanan Jekmil yang juga Bidan di Desa Carikan, Kab Magetan, Jawa Timur, Iin Rosita seperti dikutip dari infokomputer.grid.id. “Ibu hamil ini khawatir menggunakan ojek di tengah pandemi Covid-19. Mereka tidak tahu tukang ojeknya dari mana, habis bonceng siapa,” katanya lagi. Keberadaan Jekmil ini. Tambah Iin, sesungguhnya untuk melayani ibu hamil yang harus melakukan pemeriksaan kesehatan kandungan ke puskesmas terdekat, sementara suami mereka tidak bisa mengantar.

 

Puskesmas Bendo memiliki Health Cader Center (HCC) yang menampung ibu-ibu dari desa setempat yang berkegiatan secara sukarela. Mereka kemudian dibekali pemahaman tentang ilmu kesehatan ibu dan anak. Ketika Puskesmas Bendo pada November 2017 melakukan kegiatan Survey Mawas Diri (SMD), diketahui seorang ibu hamil dari Desa Setren, Kecamatan Bendo, selama tiga bulan tidak melakukan pemeriksaan kehamilan terpadu untuk kesehatan janin maupun kesehatan ibu hamil karena tidak ada yang mengantarnya datang ke Puskesmas karena suaminya bekerja di luar kota.


Hasil SMD itu diketahui pula bahwa capaian PPPIA (Pencegahan Penularan Penyakit dari Ibu ke Anak) sangat rendah, karena pemeriksaan ibu hamil ke Puskesmas tidak tuntas. Padahal PPPIA merupakan program sangat utama seperti pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan HIV, dan pemeriksaan gigi. Bila pemeriksaan PPPIA tidak tuntas, akan dapat berdampak pada kondisi bayi yang merupakan generasi penerus bangsa.

 

Setelah Jekmil beroperasi, para ibu hamil yang ingin menikmati layanan Jekmil ini dapat terlebih dulu menghubungi bidan Puskesmas yang menyediakan layanan Jekmil. Setelah dihubungi, bidan lantas meminta driver untuk langsung menjemput ibu hamil tadi. Layanan Jekmil seluruhnya gratis dan hingga kini telah hadir di 10 desa dari 16 desa yang ada di Kec Bendo, Kab Magetan. Para driver Jekmil sendiri adalah mereka yang dipilih dari relawan Posyandu dan tentu saja telah memiliki pengetahuan terkait kehamilan. “Dari awal kita sudah jelaskan menjadi relawan ojek online ini tidak mendapat upah,” ungkap Iin lagi.

 

Salah seorang warga yang juga tengah hamil bernama Novitasari, warga Desa Carikan. Novi mengaku tidak khawatir jika harus datang ke Puskesmas. Menurutnya, layanan Jekmil aman dan pengemudi mengetahui cara memperlakukan ibu hamil seperti dirinya. “Nyaman karena jalannya itu pelan. Kita juga nggak khawatir kalau terjadi apa-apa karena ojeknya tahu menangani orang hamil seperti apa kalau terjadi sesuatu,” katanya.

Winarni (44 th), salah seorang Driver yang juga warga Desa Carikan mengaku telah menjalani perannya selama dua tahun dengan Jekmil. Winarni mengatakan, ada cara khusus memperlakukan ibu hamil. Menjadi driver jekmil nyatanya tidak cukup bermodal keterampilan berkendara tetapi juga paham kondisi ibu hamil yang dibonceng, misalnya harus mewaspadai keberadaan polisi tidur di jalan serta wajib memacu kendaraan tidak lebih dari 40 km per jam.

 

“Kalau ketemu polisi tidur, ini harus pelan-pelan sekali, tidak boleh penumpang sampai terhentak melewati polisi tidur,” ujar Winarni saat berbincang dengan Kompas. Selain itu, driver Jekmil juga harus memastikan kebutuhan dokumen yang harus dibawa ibu hamil sebelum mengantar ke pusksmas. Driver akan mendampingi ibu hamil saat mendaftar ke loket, pemeriksaan, hingga mengambil resep, lalu kembali ke rumah. “Kayak asisten begitu. Sebelum berangkat kita tanya kelengkapan seperti kartu BPJS Kesehatan, jangan sampai ketinggalan. Kita juga yang daftarin ke loket, mendampingi periksa sampai mengambilkan obat,” kata Winarni.


Winarni mengaku pernah mendampingi ibu hamil berasal dari keluarga kurang mampu sementara bayi dalam kandungan ibu hamil itu terdeteksi mengalami hydrocephalus. Selama dua hari Dia bertugas bolak balik ke balai desa di kantor camat dan sejumlah kantor dinas lainnya untuk mengurus kebutuhan BPJS
Kesehatan untuk pasien. Diketahi suami ibu hamil tadi bekerja di luar kota.

 

Winarni mengaku ikhlas sekaligus beruntung karena suaminya memahami dan memberikan izin, meski kegiatannya tidak digaji dan menyita waktu. “Senang saja membantu ibu hamil, apalagi tetangga sendiri. Harapannya dapat KMS (Kartu Masuk Surga)” ujarnya. Bagi Winarni, menjadi relawan yang bekerja tanpa bayaran sudah tidak asing. Sejak tahun 1996 dia sudah aktif sebagai relawan Posyandu di desanya dan sejak itu selalu mendapat pelatihan  tentang ibu hamil serta aktif memantau kesehatan ibu hamil di desanya.

“Yang baru nikah pun kita pantau kesehatannya, apakah sudah hamil. Sebelum Covid-19 kita juga ada kunjungan rutin ke rumah ibu hamil, memastikan kondisi kandungan mereka. Tanya juga apakah sudah periksa ke Posyandu,” tambah Winarni. Sejak pandemi Covid-19, kegiatan memantau kesehatan ibu hamil dan bayi lebih intensif melalui aplikasi WhatsApp. Termasuk jadwal kunjungan pemeriksaan dan kegiatan posyandu sehingga tidak terjadi antrean kunjungan. “Sekarang lebih mudah, pantaunya lewat aplikasi ini. Kalau mau jadwal periksa pemberitahuannya, ya, lewat WA untuk mencegah Covid-19,” katanya.

 

Jekmil telah hadir di 10 desa dari 16 desa di Kecamatan Bendo dengan driver berjumlah 20 orang. Lewat inovasi layanan Jekmil, Puskesmas Bendo dari kab Magetan ini lalu diganjar penghargaan sebagai juara pertama tingkat Provinsi Jawa Timur dalam lomba Kelompok Budaya Kinerja se-Jawa Timur di akhir tahun 2018 lalu. Layanan kesehatan untuk ibu hamil sejatinya adalah layanan dasar yang harus dapat menjangkau seluruh masyarakat yang membutuhkan. Adanya inovasi layanan ini sekaligus menunjukkan bahwa Gerakan Indonesia Melayani dari Gerakan Nasional Revolusi Mental memang sudah selayaknya terus hadir di tengah masyarakat. Juga, sebagai bukti hadirnya negara di saat ada warga negaranya yang membutuhkan, terlebih demi mewujudkan SDM Indonesia yang unggul sesuai cita-cita pembangunan Indonesia saat ini. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber




#untukindonesialebihbaik
#gerakanindonesiamelayani
#ayoberubah