Jakarta Tak Lekang Termakan Usia

Jakarta Tak Lekang Termakan Usia

  • 62
  • 0
  • 0
  • 0

0%
Jakarta makin keren sekarang, yuk kita rawat kota kebanggaan kita
0%
Jakarta makin modern tapi masih banyak masalah yang perlu diselesaikan

Hai Sobat Revmen! Di tengah riuh rendah masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Jakarta memperingati penambahan usia yang ke-493. Pastinya Sobat Revmen tau dong kalo setiap tanggal 22 Juni, Ibukota negara kita memperingati hari jadinya. Jika pada tahun-tahun sebelumnya peringatan Hari Ulang Tahun Jakarta sangat semarak dengan festival, karnaval hingga pawai budaya yang identik dengan ondel-ondel, tahun ini suasananya agak berbeda mengingat pandemic covid-19 tengah melanda Ibukota. Peringatan ulang tahun yang seyogyanya meriah, kini hanya sebatas upacara sederhana dengan protokol kesehatan yang ketat di depan Balai Kota Jakarta yang dapat disaksikan secara online.

Dalam perkembangannya, Jakarta tidak sekali-dua kali mengalami masa sulit. Jakarta telah makan asam garam, mulai dari masa jaya sebagai kota pelabuhan yang ramai, masa sulit di bawah naungan penjajah, masa terhimpit saat baru saja Indonesia merdeka, hingga masa krisis multidimensi yang memporakporandakan seluruh elemen masyarakat. Di usia ke 493 tahun, sejarah mencatat penyakit menular silih berganti menghinggapi, mulai dari Flu Spanyol, Kolera, Pes, TBC, hingga covid-19. Namun, sejarah juga mencatat, dari Sunda Kalapa, Jayakarta, Batavia, Jacatra hingga menjadi Jakarta dengan dinamika penduduknya selalu mampu untuk bangkit dari segala kesulitan yang menghadang dan mampu menopang roda pemerintahan serta ekonomi, sosial, dan budaya. Pasca Indonesia merdeka, tak kurang ada 17 pimpinan tertinggi di Jakarta, mulai dari Soewirjo sampai Anies Baswedan yang berperan dalam pembangunan dan perkembangan Jakarta.

Dalam memperingati ketangguhan Jakarta dalam berbagai situasi dan kondisi hingga hampir 5 abad lamanya, mari kita menelisik 3 lokasi saksi bisu peninggalan masa lalu yang tetap kokoh berdiri hingga saat ini.

 

1.    Kota Tua Jakarta (Oud Batavia)

Kawasan Kota Tua merupakan wilayah awal pengembangan kota yang saat itu bernama Batavia oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen dan Pemerintah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kawasan ini awalnya merupakan pusat pemerintahan dan perekonomian kolonial sebelum dipindahkan ke wilayah Weltevreden (sekitar Gambir) akibat kepadatan penduduk dan wilayah yang sudah tidak sehat. Kawasan ini identik dengan Museum Fatahillah atau yang akrab dikenal dengan Museum Sejarah Jakarta. Bangunan-bangunan tua di kawasan ini tetap berdiri kokoh sejak abad ke 18 dan mayoritas beralih fungsi menjadi museum, seperti Museum Wayang, Museum Bahari, Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, dan sebagainya. Kalau Sobat Revmen mau mengunjungi Kawasan Kota Tua Jakarta, Sobat Revmen bisa memanfaatkan transportasi umum seperti Bus Transjakarta, Bus City Tour, atau Kereta KRL Commuter Line.

 

2.    Kota Baru Weltevreden (Kawasan Gambir)

Semakin berkembangnya Kota membuat Pemerintah Hindia Belanda memindahkan pusat pemerintahan dan perekonomian ke Kota Baru Weltevreden. Pesatnya pembangunan dan keindahan kota membuat Kota Batavia saat itu mendapat julukan Ratu dari Timur (Koningen van Oosten). Peninggalan Kota Weltevreden saat ini mayoritas digunakan oleh Pemerintah sebagai Kantor Kementerian. Bahkan Istana Negara yang saat ini digunakan sebagai tempat kerja Presiden sekaligus tempat menjamu para tamu negara merupakan bagian dari peninggalan kota Weltevreden. Salah satu bangunan ikonik nan megah di Weltevreden adalah Rumah Gubernur Jenderal Daendels yang kini menjadi bagian dari kantor Kementerian Keuangan. Selain itu, terdapat pula Gedung Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang menjadi Museum Nasional atau Museum Gajah.

 

3.    Meester Cornelis

Mungkin Sobat Revmen kurang familiar dengan salah satu wilayah yang dahulu merupakan wilayah luar kota Batavia ini. Namun, apabila Meester Cornelis disebut dengan nama Jatinegara, Sobat Revmen pastinya tau dong. Wilayah ini masih mempertahankan bangunan bersejarahnya, seperti Gereja Koinoia, Gedung Eks Kantor Kodim 0505, Klenteng Amuva Bhumi, dan Stasiun Jatinegara. Dahulu Meester Cornelis merupakan wilayah penyangga Batavia kini menjadi bagian dari Jakarta dan menjadi salah satu pusat perekonomian di Jakarta Timur.

Seiring bertambahnya usia, Jakarta tetap mempertahankan wajah asli yang sarat nilai sejarah. Memasuki masa PSBB Transisi, Pemerintah telah kembali membuka Museum, Galeri, dan Monumen yang ada di Jakarta sebagai upaya menggelorakan kembali semangat berbudaya menuju Jakarta sehat, aman, dan produktif di tengah pandemi covid-19. Namun demikian, Sobat Revmen sebagai generasi penerus hendaknya tetap merawat dan mengelola bagian dari sejarah panjang Ibukota negara dengan tetap mengimplementasikan Gerakan Indonesia Melayani, Gerakan Indonesia Bersih, Gerakan Indonesia Tertib, Gerakan Indonesia Mandiri dan Gerakan Indonesia Bersatu pada bangunan-bangunan yang kini telah menjadi museum tersebut. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk membangun sifat optimistik dalam menatap masa depan guna menjadi bangsa yang besar dan modern berlandaskan sejarah sehingga cita-cita berkepribadian dalam kebudayaan dalam semangat Revolusi Mental dapat terwujud.

Penulis: Usman Manor

Lulusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia (2015) dan Magister Manajemen Universitas Indonesia (2017) yang kini menjadi Analis Sejarah.