Hadiah atau Hukuman, Pilih Mana?

Hadiah atau Hukuman, Pilih Mana?

  • 15
  • 0
  • 0
  • 0

0%
ayo berubah
0%
stop korupsi

Kabar

Foto: (sumber: blibli.com)

 

 

Hadiah atau Hukuman, Pilih Mana?

 

Sekadar apresiasi atas hasil kerja atau perilaku, hukuman atau hadiah jadi dua pilihan utama. Padahal, kalau mau jujur, soal integritas yang seharusnya dipertegas. Hadiah sesuai peran, hukuman sesuai beban!

 

Hadiah atau hukuman, keduanya akan muncul sebagai bentuk apresiasi atas perbuatan yang sudah dilakukan, dilihat dari hasil dan akibat atau manfaatnya. Hadiah, bagi kedua belah pihak yaitu pemberi dan penerima tentu akan sama menyenangkannya. Si Pemberi menilainya sebagai bentuk apresiasi sedangkan Penerima menganggapnya sebagai bentuk pujian atau malah ada yang menganggap sebagai pemberian yang “sudah seharusnya.” Secara sederhana, hadiah dapat dipahami sebagai pemberian karena sudah berbuat atau berperilaku baik, sementara hukuman akan diberi seiring dengan kesalahan yang ditimbulkan apalagi berbuntut pada akibat yang dapat saja berimbas pada orang lain.

 

Khusus dalam upaya pembinaan karakter, terutama anak-anak, akan menanamkan dan mengingatkan pada mereka bahwa setiap kali berhasil mencapai sesuatu atau telah berbuat baik, pasti diberi hadiah. Sebaliknya, jika melanggar aturan atau berbuat tidak baik terhadap teman atau terhadap keluarganya di rumah, anak-anak akan merasa tengah diancam hukuman yang kapan saja dapat dijatuhkan kepada mereka. Namun, pemberian hadiah juga memiliki kelemahan jika dikaitkan dengan motivasi anak. Pemberian hadiah adalah motivasi dari luar agar anak berperilaku baik tapi tidak membangun motivasi dari dalam diri anak itu. Sebab, anak bisa jadi berbuat baik hanya mengharapkan hadiah atau bahkan berharap hadiah yang lebih baik. Namun untuk mendisiplinkan anakreward tetap lebih efektif daripada punishment.

 

Hadiah atau hukuman bagi orang dewasa atau orang bekerja, dapat bermakna lebih luas lagi. Kendati demikian, baik bagi anak maupun orang dewasa, hukuman atau hadiah sejatinya mengajarkan pada mereka akan makna dan nilai integritas diri yang sesungguhnya. Integritas itu antara lain bersikap jujur, tulus dan dapat dipercaya; bertindak transparan dan konsisten; menjaga martabat dan tidak melakukan hal-hal yang tercela; bertanggung jawab atas hasil kerja; dan bersikap objektif. Menjaga integritas bagi orang bekerja memang akan selalu banyak godaannya. Siapa yang benar-benar “tahan” kalau hadiah  sudah diberikan, mengingat sejak kecil betapa menyenangkan kalau berhasil mendapatkan hadiah bukan?

 

Pemberian hadiah bagi orang bekerja dapat berarti bentuk apresiasi dari hasil kerjanya. Meski kadang salah arti, Si Penerima akan merasa bahwa hadiah itu adalah “bayaran” atas lelahnya mereka menyelesaikan pekerjaan dan memang sudah seharusnya mereka terima. Jika mau jujur, kalau kita tidak menyelesaikan suatu pekerjaan berbuah hadiah tadi, atau sudah tidak menduduki jabatan dengan potensi diberikan hadiah, apakah Si Pemberi masih mau memberikan hadiahnya? Kalau dijawab tidak, berarti hadiah yang diberikan itu sebagai suap dan bukan berdasarkan pada azas pertemanan, beratasnamakan kebaikan hati, dan sebagainya. 

 

Mengartikan dan memahami hadiah dengan baik serta benar di tengah gencarnya upaya pemberantasan korupsi seharusnya sudah dilakukan sejak lama. Gratifikasi atau pemberian dalam arti luas yang meliputi pemberian uang tambahan, hadiah uang, barang, rabat, komisi pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya, jika dikaitkan dengan pekerjaan seharusnya tidak boleh lagi diterima. Apalagi, ada anggapan bahwa hadiah yang bentuknya mulai dari uang, barang atau yang lainnya itu adalah bonus tambahan dan terus dicari peluang mendapatkannya.

 

Hadiah terkait pekerjaan memang kerap tersamarkan dengan pujian atau apresiasi yang timbul karena kesan baik hati, suatu kewajaran, atau saling sepaham yang pada arti sesungguhnya adalah sebuah bentuk suap. Si Pemberi bahkan kerap berdalih memberikan hadiah dengan tidak bermaksud lain kecuali rasa ikhlas. Konteks memberi dan menerima hadiah semacam ini yang kadang membuai dan menghilangkan kesadaran diri akan integritas sejati dalam bekerja.

 

Integritas diri dalam bekerja memang menuntut suatu sikap yang berdedikasi penuh terhadap pekerjaan yang dibebankan. Semakin banyak pekerjaan, akan semakin banyak pula keluhan yang terlontar. Kalau sudah disadari betul apa dan bagaimana bekerja dengan baik, keluhan tadi tentu akan semakin ringan, tugas pekerjaan pun perlahan terasa tidak lagi berat. Kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas dapat jadi magnet tersendiri kalau sudah tertanam dengan baik dalam diri. Aneka bentuk penyalahgunaan wewenang pun dapat segera diminimalisir, karakter baik bangsa makin terasah, budaya dan perilaku baik makin lestari. Gerakan Nasional Revolusi Mental pun jadi budaya baru yang semakin berkembang! (*)

 

Diolah dari berbagai sumber

 

 

 


#ayoberubah
#reformasibirokrasi
#gerakanindonesiamelayani