Gerakan Baru Bernama Solidaritas Sosial

Gerakan Baru Bernama Solidaritas Sosial

  • 60
  • 0
  • 0
  • 0

0%
setuju min
0%
gamau ribet :(

kabar

foto: (sumber: sekolahan.co.id)


Gempuran Wabah Covid-19 nyatanya telah berhasil memunculkan gerakan baik di tengah masyarakat. Selain makin memperkuat kegotongroyongan, gerakan semacam ini dinilai perlu untuk terus diteladani
.

 

Sejumlah kebijakan pemerintah dalam menghadapi dan mengatasi Wabah Covid-19 telah dijalankan, sementara masyarakat diminta untuk membantu dan mendukung kebijakan ini, paling tidak dengan membuat shelter di masing-masing desa untuk karantina bagi warga yang pulang kampung serta logistik. Dukungan semacam ini sudah banyak dicontohkan oleh masyarakat sendiri seperti misalnya dukungan tetangga terhadap keluarga Pasien Covid-19 yang ada di Desa Wonosari, Gunungkidul, DI Yogyakarta. Suatu praktik baik kebersamaan dan kegotongroyongan masyarakat yang terkemas rapi lalu tampil menginspirasi menjadi bentuk solidaritas sosial baru sesuai kearifan lokal yang ada. Budaya dan nilai hidup asli Masyarakat Jawa dalam solidaritas sosial ini sejatinya harus terus dihidupkan dan tetap berlanjut, baik saat terjadi bencana maupun dalam situasi kehidupan yang normal.

 

Solidaritas sosial yang ditunjukan masyarakat saat menghadapi pandemi Covid-19, menurut Guru Besar Sosiologi dari Universitas Gadjah Mada, Yogykarta, Arie Sudjito, antara lain mulai dari inisiasi masyarakat di level komunitas untuk melakukan perlindungan diri, baik terkait soal kesehatan, keamanan dan kenyamanan yang kemudian dikenal engan istilah “Lockdown komunitas.” Masyarakat sebagai anggota komunitas lalu secara bersama melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungan tempat tinggalnya, membagikan masker, hand sanitizer, kampanye stay at home, isolasi keluarga, dan lain-lain.

 

Selain itu, lahir juga gerakan kemanusiaan berbasis sosial ekonomi, mulai dari aksi penggalangan dana sampai dengan jaminan sosial warga, berupa bantuan makanan, subsidi kelompok rentan, solidaritas pemotongan gaji dan lain-lain, dan kampanye literasi sosial seperti aksi peduli sehat dan solidaritas membantu korban. Arie mengakui persoalan pandemi Covid-19 bukan saja persoalan kesehatan tetapi juga persoalan dampak sosial karena kemudian terdapat ketegangan, kecurigaan, ketidakpercayaan, juga persoalan kemerosotan ekonomi yang melahirkan kesenjangan sosial yang sangat berpotensi memunculkan konflik kekerasan, dan kriminalitas. Sementara sebagian masyarakat masih ada yang menerjemahkan physical and social distancing secara berlebihan. Kekhawatiran tertular Covid-19 lagi-lagi berhasil memprovokasi dan menciptakan eksklusi sosial sehingga terjadi peristiwa penolakan pemakaman, penutupan akses dan tindakan yang kontraproduktif lainnya.

 

“Solidaritas sosial akibat Covid-19 ini secara spontan entah mereka melihat dari televisi dan media sosial lain yang kaitannya dengan perlindungan diri terkait kesehatan. Jadi, kalau di pemerintah membuat PSBB maka di tingkat lokal mereka membuat perlindungan diri, dengan bersih lingkungan memberikan hand sanitizer, tidak lagi menunggu. Penjahit-penjahit pun kemudian membuat masker, membuat slogan ajakan stay at home dan itu merupakan ajakan yang nampak,” papar Arie.

 

Arie mencatat, karakter bencana Covid-19 saat ini berbeda dengan bencana-bencana sebelumnya seperti erupsi gunung berapi atau gempa. Jika bencana seperti gempa di Bantul beberapa tahun lalu solidaritas masyarakat bisa dilakukan secara massal dengan bergotong royong, saat Pandemi Covid-19 ini masyarakat dituntut bersikap dan berperilaku dengan cara-cara yang cerdas. “Di Covid-19 ini, membangun solidaritas bukan semata-mata aksi grudukan massal, di bencana kali ini caranya harus tepat. Seperti ajakan donasi yang dilakukan Didi Kempot dan fans nya yang terkenal dengan sebutan “Sobat Ambyar belum lama ini, cara-cara seperti ini mendapat respons yang positif hingga berhasil mengumpulkan donasi sekitar Rp6,5 miliar. Ini ikon masyarakat kontemporer ketika lagu sebagai salah satu cara membangun solidaritas.”

 

Menurutnya, negara mungkin sedang merumuskan dan menjalankan apa yang sedang disepakati bersama saat ini, tetapi perlu kiranya mempertimbangkan hal-hal positif yang telah terjadi dengan solidaritas masyarakat akhir-akhir ini. Banyak pengetahuan lokal tentang pertahanan diri baik yang positif maupun negatif bisa menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan. 

 

“Saya kira agenda ke depan penguatan masyarakat sipil dengan edukasi sehat, literasi informasi dan care untuk kemanusiaan menjadi pelajaran penting untuk selalu dikembangkan,” tambah Arie lagi.

 

Sementara menurut Fina Itriyati, Dosen Sosiologi UGM, jika dibandingkan negara-negara lain, masyarakat Indonesia memiliki kultur gotong royong yang kuat karena kultur kolektivitas interdependensi masyarakat bisa secara spontan untuk bahu membahu membantu saudara sebangsanya yang terdampak secara sosial ekonomi akibat Covid-19 ini. Bantuan-bantuan itu dapat berupa bantuan kesehatan, material, bahan pokok dan sebagainya.

 

“Negara lain akan beda tantangannya karena individualized society, kultur gotong royong susah untuk diorganisasikan. Oleh karena itu, solidaritas sosial inisiasi masyarakat ini dapat dibangun di level nasional dengan mengandalkan kerjasama antarkomunitas masyarakat, maupun lembaga-lembaga yang memiliki resources," tambahnya.

 

Menanggapi kekhawatiran masyarakat dan provokasi berupa aksi penolakan pemakaman Korban Covid-19, Fina menerangkan bahwa hal itu disebabkan karena masyarakat tidak memiliki pengetahuan yang lengkap. Oleh karena itu, edukasi yang lengkap dan terus menerus perlu dimulai dengan kesadaran penuhh dan kesiapsiagaan masyarakat. “Mereka saya kira perlu dipersiapkan untuk menghadapi masalah yang unik dan kasuistik. “

 

Masih meragukan keberadaan gotong royong sebagai gaya dan nilai kehidupan yang dianut oleh bangsa ini? Solidaritas sosial di tengah gempuran Wabah Covid-19 kembali membangkitkan gotong royong jadi semangat dan kesadaran bersama. Jika sudah dilaksanakan dengan baik, dirasakan manfaatnya, tergugah hati, akan jadi tidak mengherankan juga kalau mulai banyak anak kecil yang merelakan uang di celengannya “dibongkar” untuk bantu membeli Alat Pelindung Diri (APD) untuk para petugas kesehatan yang sedang berjuang menangangi korban Covid-19.  Seperti yang dilakukan oleh Bocah berusia 9 tahun asal Kab Bandung Barat bernama Muhammad Hafidh. Dalam akun Instagram @polsekdayeuhkolot1, Hafidh awalnya datang ke Polsek Dayeuhkolot ditemani ibunya. Dia membawa kaleng yang berisikan uang pecahan koin mulai dari pecahan Rp100, Rp500, dan Rp1000, dengan jumlah total Rp453.300. Menurutnya, uang di celengan itu ingin diberikan, melalui Polsek Dayeuhkolot, untuk membantu membeli APD yang saat ini sangat dibutuhkan oleh para tenaga kesehatan. Hafidh yang kemudian diapresiasi tinggi oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, ini adalah bentuk contoh sikap gotong royong yang tidak ternilai harganya, tentu saja,  sesuai dengan semangat Gerakan Nasional Revolusi Mental. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber