Cerdas Ber-medsos, Manfaat untuk Semua

Cerdas Ber-medsos, Manfaat untuk Semua

  • 38
  • 0
  • 0
  • 0

0%
cegah hoax, cerdas informasi
0%
ayo ubah kebiasaan

Praktik Baik

Foto: (sumber: suarasiber.com)

 

Cerdas Ber-medsos, Manfaat untuk Semua

 

Manfaat yang dapat diambil dari penggunaannya memang sangat besar, di samping muatan negatif yang juga punya gema tidak kalah besarnya seumpama ujaran kebencian. Ajang berkomunikasi dan juga berbagi informasi, medsos butuh lebih banyak kesadaran positif dibanding negatifnya.

 

Lima tahun lalu, tepatnya 10 Juni 2015, Hari Media Sosial ini dicetuskan oleh seorang pengusaha dari Solo, Jawa Tengah, yang memulai kariernya sebagai pakar pemasaran, Handi D Irawan. Dia juga dikenal sebagai content and knowledge based speaker. Dengan dimulainya peringatan Hari Media Sosial (Medsos) ini, muncul semangat dan pemikiran jika masyarakat Indonesia perlu ditingkatkan kesadaran dan edukasinya dalam menggunakan media sosial supaya penggunaan medsos dapat memberikan dampak positif baik bagi individu penggunanya maupun orang lain dan para pelaku usaha.

 

Hari Media Sosial secara nasional tiap tahunnya diperingati setiap 10 Juni  sementara di dunia tiap 30 Juni ini diperingati dengan menyampaikan kabar baik apapun melalui semua akun medsos yang dimiliki. Dalam penyampaiannya, netizen bisa mengunggah kata-kata, cerita inspirasi, hingga ajakan untuk membuat hidup menjadi lebih baik lagi. Untuk para pelaku usaha, Hari Media Sosial yang pada hari peringatannya sempat merajai jagat tagar Twitter ini bisa dijadikan momen untuk menyampaikan terima kasih kepada pelanggannya. Para pelaku usaha juga bisa turut memberikan penawaran menarik atau sekedar ajakan yang memotivasi pelanggan atau pengikutnya untuk selalu melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk sesama.

 

Medsos, hingga kini, telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam masyarakat Indonesia. Lewat berbagai platform dan layanan yang disediakan, medsos teramat dinikmati sebagai arena interaktif dengan mereka yang berbeda jarak dan lokasi, bahkan kepada mereka yang justru belum dikenal sama sekali. Keberadaan medsos punya cerita lain utamanya bagi para pelaku usaha. Sebagai sarana yang sangat membantu dalam hala promosi dan pemasaran produk atau jasa, medsos terus jadi andalan bagi dunia usaha, terlebih saat kemunculan Wabah Covid-19. Belanja dan jualan online jadi solusi tersendiri bagi pelanggan yang membutuhkan layanan atau produk.

 

Namun demikian, dengan semua kecanggihan yang ditawarkan oleh media sosial, masyarakat di Indonesia masih belum terlalu sadar akan etika dalam menggunakan media sosial. Media sosial memang dapat memberikan dampak yang positif bagi orang yang menggunakannya dengan baik, bagi keluarga, atau bahkan perusahaan tertentu. Namun, media sosial juga dapat berdampak negatif jika digunakan untuk tujuan negatif dan menyimpang. Penyebaran berita hoaks seolah tidak dapat dibendung sementara sanksi hukum berupa jerat dari pasal Undang-undang ITE belum benar-benar menjadi efek jera bagi ulah nakal tangan netizen pelaku hoaks.

 

Kementerian Komunikasi dan Informatika atau Kominfo misalnya, menemukan 554 hoaks terkait Wabah Covid-19. Berdasarkan catatan Kominfo, berita bohong itu tersebar di 1.209 platform digital. “Hingga hari ini, ada 554 isu hoaks terkait virus corona yang tersebar di Facebook, Instagram, Twitter, dan Youtube,” kata Menteri Kominfo Johnny Plate dalam konferensi video di Jakarta, seperti dikutip dari okezone.  

 

Isu hoaks yang tersebar di Facebook sebanyak 834 kasus; Instagram 10 kasus; Twitter 350 kasus; dan Youtube enam kasus. Sebanyak 1.209 saluran digital berisi muatan hoaks itu telah diajukan ke aparat penegak hukum. Adapun sebanyak 893 kasus telah ditindaklanjuti atau diblokir, sedangkan 316 kasus masih dalam proses.

 

Johnny meminta platform digital bisa lebih aktif memproses pemblokiran unggahan yang mengandung hoaks. “Kami akan mengacu pada Undang-Undang ITE dan undang terkait lainnya untuk mengingatkan bahwa kami akan gunakan seluruh kewenangan yang kami miliki jika masih adanya hoaks terkait virus corona di platform digital,” ujarnya lagi.

 

Muncul Gerakan Baru

 

Adalah situs bernama TURNBACKHOAX.ID oleh gerakan Masyarakat Indonesia Anti Hoax dan Aplikasi mobile TURNBACKHOAX oleh Mastel (Masyarakat Telekomunikasi dan Informatika Indonesia) yang telah muncul sejak tahun 2017 lalu. Dengan Situs dan Aplikasi ini, kalangan Netizen dapat menyampaikan apapun berita, informasi, meme baik dari media situs atau medsos yang isinya hoaks. Masyarakat juga dapat memberikan penjelasan atau bukti-bukti bahwa ada muatan atau konten yang ada di TURNBACKHOAX adalah hoaks. Caranya dengan memberikan penjelasan, bukti-bukti hoaks dan sebagainya. Dengan demikian, masyarakat akan memperoleh informasi yang lebih jelas tentang suatu konten. Saat ini, masyarakat sering sulit membedakan apakah suatu informasi itu hoaks atau bukan, juga bagaimana mencari kebenaran atau sekadar mencari sumber informasi yang dapat dipercaya. Nah, TURNBACKHOAX.ID dan Aplikasinya ini juga dapat menjadi sumber referensi bagaimana terjadinya hoaks terhadap suatu Informasi.

 

Pemerintah sesungguhnya sangat prihatin terhadap merebaknya hoaks di berbagai media sosial. Pemerintah bukan tidak ingin  dikritik karena segala kritik akan diterima oleh Pemerintah. Namun, yang terutama adalah bagaimana Indonesia ini iklim dunia maya yang lebih sehat, lebih bermanfaat, serta berkualitas bagi seluruh masyarakat. Pemerintah dalam menanggulangi munculnya hoaks  di berbagai situs dan media sosial telah melakukan penapisan atau pemblokiran. Keberhasilan Pemerintah bukan karena jumlah banyaknya situs yang telah diblokir akan tetapi bagaimana masyarakat diharapkan bisa menapis sendiri sebelum menyampaikan, mendistribusikan suatu konten.

 

Berikut ini beberapa gerakan anti hoax di Indonesia: INDONESIA HOAX BUSTERS (IHB) yaitu kumpulan netizen yang ingin memberantas hoaks dan scam di dunia maya khususnya dari dan berkaitan dengan bangsa dan negara Indonesia. Melalui website, group, dan page Facebook resminya, IHB membuka ruang diskusi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat berinternet sehat dan bijak; MASYARAKAT ANTI HOAX INDONESIA, adalah kumpulan pegiat medsos dan kelompok-kelompok antifitnah (hoaks) yang ingin membendung berita hoaks lebih luas di Indonesia; TURN BACK HOAX yaitu apllikasi berbasis crowdsource yang mengumpulkan informasi tentang hoaks, berupa berita, kata, maupun gambar dari laman situs, hingga pesan berantai, yang digunakan sebagai Basis Data berita hoaks; dan FORUM ANTI FITNAH, HASUT, DAN HOAX yaitu Fanpage di Facebook yang bertujuan menjadi forum diskusi demi terwujudnya kehidupan bermasyarakat di dunia maya yang bebas berita fitnah sehingga masyarakat bisa menikmati berita dan informasi yang benar.

 

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo) selaku regulator di bidang informasi dan teknologi pun mengingatkan masyarakat agar tidak tergesa-gesa dalam menyebarkan sebuah berita.

Era kecepatan informasi sejatinya justru bukan berarti harus terburu-buru menyebar informasi. Selalu tabbayun, cek dan ricek sebelum meneruskan atau mempercayai informasi yang lalu-lalang di gawai Sebab, kalau sudah pakai gawai dengan cerdas, diri pengguna juga cerdas, lantas semua netizen cerdas, hoaks tentu akan mudah diberantas.

 

Peraturan mengenai pemanfaatan internet sendiri telah diatur dalam Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Selain itu, Majelis Ulama Indonesia pun telah mengeluarkan Fatwa MUI tentang Hukum dan Pedoman Ber­muamalah melalui Media Sosial. Masyarakat diharapkan mengacu pada peraturan-peraturan yang ada dalam berinternet dan media sosial. Para pemangku kepentingan pun diajak untuk menerapkan langkah preventif. Antisipasi hoaks dan edukasi literasi digital diharapkan dapat menciptakan manusia yang produktif dan memangkas penyebaran hoaks dan konten negatif.

 

Menurut Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kemenkominfo, pola komunikasi yang terjadi di masyarakat saat ini adalah “10 ke 90”. 10 persen pengguna memproduksi informasi, sementara 90 persen lainnya menyebarkannya. Karenanya, Dirjen IKP memiliki program untuk mengajak masyarakat memproduksi konten positif di internet yaitu rangkaian pelatihan Konten Informasi Digital (Kidi) dan kompetisi Generasi Positive Thinking (Gen Posting) yang digelar di sejumlah kota Indonesia.

 

Akhirnya, tidak bosan untuk terus disampaikan bahwa media sosial sebagai ajang komunikasi dan sosialisasi, perlu terus juga mengedepankan aksi dan dampak positifnya. “Banyak contoh kasus bagaimana orang tidak bijak bermedia sosial sehingga terjerat UU ITE. Karena itu masyarakat harus bijak dalam menggunakan medsos jangan sampai ada yang dirugikan,” demikian imbauan Kapolri, Idham Azis seperti dikutip dari liputan6.com. Dia berharap, masyarakat dapat mengunggah berbagai konten positif baik itu karya seni, maupun hal inspiratif, kreatif, dan edukatif lainnya. “Bukan malah hasutan, ujaran kebencian, kabar bohong atau hoaks, dan hal negatif lainnya. Hoaks bukan hanya sekadar berita bohong tapi juga mampu mengubah cara berpikir seseorang menjadi buruk. Sampaikan informasi dengan benar dan bertanggung jawab, serta memenuhi kaidah etika dan norma,” katanya lagi seraya mengingatkan bahwa adanya jejak digital yang tidak selalu mudah dihilangkan dan dapat menjadi bukti menguatkan saat seorang netizen terjerat kasus hukum terkait “aksinya” saat ber-medsos. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber