Belajar Upcycling dari Restoran ‘Daur Lang’

Belajar Upcycling dari Restoran ‘Daur Lang’

  • 18
  • 0
  • 0
  • 0

0%
ayo berubah
0%
jaga lingkungan

Praktik Baik

Foto: (sumber: dw.com)

 

 

Belajar Upcycling dari Restoran ‘Daur Lang’

 

Kesan terbuang dari suatu barang dapat saja membawa nilai ketidakbermanfaatan. Jika mau dipelajari dan dijadikan peluang, mereka yang terbuang dapat bawa manfaat besar, yang tidak hanya secara materi tetapi juga kesehatan dan kelestarian lingkungan.

 

Kebijakan sortir buah dan sayur layak jual di Kawasan Eropa memang telah resmi diberlakukan sejak tahun 2009. Dengan ketetapan 26 standar aturan yang berlaku, bentuk wortel yang bengkok; ketimun keriting; atau bahkan misalnya kentang berbintil, dapat dipastikan buah dan sayur berbentuk aneh itu dinyatakan tidak layak jual dan siap dibuang oleh supermarket. Menurut nilai estetis memang tidak sempurna tetapi buah dan sayur terbuang itu punya cerita berbeda di tangan seorang Cassie Sukmana, seorang Indonesia yang menetap di Jerman dan kini tengah sibuk membuka bisnis kuliner.

 

“Di Jerman terkadang, buah atau sayuran di supermarket-supermarket ini harus memenuhi standar, misalkan sebuah tomat harus besarnya minimal 10 sentimeter. Dan kalau misalkan kurang dari standar itu maka mereka dibuang. Atau tomat bentuknya tidak bulat atau kentang bentuknya hati, sayang jika terbuang, jadi bahan makanan itu tetap kami olah untuk menu di restoran kami. Rasa dan nilai gizinya, kan sama. Kita masak dengan memakai sayuran dan buah-buahan yang kurang cantik itu, dan kita ubah menjadi makanan yang enak dan cantik di atas piring,“ ujarnya seperti dikutip dari dw.com

 

Konsumen di supermarket, ungkap Cassie, cenderung memilih sayur dan buah yang bentuknya sesuai standar, maka tidak heran kalau ketimun atau terong dinilai berbentuk aneh sampai akhirnya harus terbuang begitu saja ke tempat sampah. Begitu pula dengan jenis buah dan sayur yang dinilai sulit dalam penyimpanan atau pada saat proses distribusi. Daripada terbuang percuma dan justru melihatnya sebagai peluang usaha, Cassie lalu terinspirasi mendirikan restoran dan menyajikan makanan berbahan dasar buah dan sayur terbuang tadi.

 

Bisnis kuliner yang resmi dimulai Cassie pada Maret 2020 lalu ini, sebelumnya melalui tahapan panjang studi gastronomi (tata boga atau seni menyajikan makanan yang baik—red) yang lantas mengantarnya pada konsep gaya hidup ramah lingkungan yang di Eropa sendiri kini tengah digandrungi terutama oleh anak-anak muda di Jerman. Konsep yang diusung Cassie adalah upcycling atau yang menurut situs cleanomic.com adalah proses transformasi barang yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang lebih berguna dan seringkali bersifat lebih bagus daripada awalnya.

 

Pada 2019, menurut penelitian mengenai pengolahan bahan makananan hasil penyortiran pasar lewat situs Future Market Insights, para pelaku usaha yang memanfaatkan bahan makanan menggunakan konsep upcycling ini di wilayah Amerika Utara dan Eropa dapat meraup untung hingga $46,7 miliar dolar atau sekitar Rp674 triliun.

 

Sehari setelah membuka restorannya di bulan Maret 2020, Jerman mengumumkan pembatasan keluar rumah akibat merebaknya wabah Covid-19. ”Berat buat kita semua. Tidak hanya buat kami tapi juga buat orang lain. Jadi, kita sudah rencana buka bulan Maret dan akhirnya kita bisa buka bulan Maret sesuai rencana, tapi sehari kemudian kita harus tutup lagi karena lockdown. Akhirnya kita tutup dan istirahat di rumah satu bulan dan buka lagi untuk take away,” kata Cassie. Namun, setelah pelonggaran pembatasan, restorannya bisa kembali buka dan tentu harus mengikuti protokol kesehatan yang diwajibkan pemerintah. Para pengunjung pun sudah kembali memenuhi rumah makannya.

 

Cassie bercerita, sejauh ini menu restorannya diterima dengan baik oleh pengunjung. “Bagi mereka, makanan-makanan Asia di sini lain dari restoran-restoran lainnya yang biasa mereka temui di Köln. Yang pasti kita sangat terkejut kalau ternyata orang-orang Jerman yang ekstra ke mari untuk mencari makanan Indonesia.” 

 

Untuk semakin menarik pelanggan, Cassie mengganti menu makanan yang akan disajikan setiap pekannya sesuai dengan ketersediaan produk bahan makanan. “Karena kami orang Indonesia, Kita buat masakannya yang lebih Indonesia dan dicampur dengan masakan negara-negara Asia lainnya. Contohnya minggu ini, kami ada menu gado-gado, soto, dan kwetiau goreng. Sisanya dicampur masakan Cina atau Thailand, misalnya tahu dicampur dengan sayuran.”

 

Salah seorang Pelanggan bernama Vera Weber, warga Kota Köln, mengaku tidak bosan makan seminggu sekali di kedai makan milik Cassie. “Menu mereka tiap pekan ganti-ganti. Jadi tidak bosan. Tapi yang jelas, saya selalu menanti gado-gado, Saya suka,” papar Vera yang mengaku seorang Vegetarian dan banyak masakan Indonesia yang pas dengan gaya hidupnya itu.

 

Selain menjajakan makanan, restoran bernama ‘Daur Lang’ ini juga menjual berbagai produk seperti kerajinan tangan yang terbuat dari bahan bekas.”Kita menjual barang-barang upcycled. Dengan upycling concept store kita memproduksi barang-barang yang tadinya tak berharga atau kurang bermanfaat dan akhirnya proses menjadi barang baru, yang punya fungsi baru,” papar Cassie. Interior dan dekorasi toko-rumah makan ‘Daur Lang’ ini memang memakai produk bekas yang kemudian dikreasikan menjadi barang yang lebih berguna dan indah. ”Ya, kami punya banyak papan potong bekas, lalu kami jadikan rak, untuk menjual barang-barang upcycled-nya. Jadi bisa dilihat kalau misalkan ada barang lama, bisa jadi barang baru yang lebih bermanfaat. Yang tadinya mau dibuang, bisa menjadi barang yang lebih baik.“

 

Menurut Cassie, dalam berbisnis sangat perlu memperhatikan aspek keberlanjutan. Dia meyakini konsep restoran-toko daur ulang yang dikelolanya akan terus berkembang, mengingat gaya hidup yang ramah lingkungan dari hari ke hari semakin menjadi tren yang dianut oleh banyak kaum muda di Jerman.

 

Restoran berkonsep hijau yang mementingkan kelestarian lingkungan kini memang menjamur, tidak terkecuali di Bali, Indonesia. Berbekal konsep upcycling, restoran ini berdiri dengan semangat mengurangi jumlah limbah makanan; berkontribusi pada komunitas lokal seperti membeli langsung hasil panen sayur dan buah dari petani;  tidak memakai material plastik seperti sedotan dan kantung plastic; menghemat energy; menggunakan material daur ulang seperti untuk dekorasi; serta menggunakan berbagai bahan lokal segar.

 

Sebut saja misalnya Restoran ‘Ijen’ yang berlokasi di Potato Head Beach Club, Seminyak. Dibuka tahun 2018, restoran ini kabarnya menjadi restoran pertama di Indonesia yang sifatnya zero-waste alias tidak ada limbah. Untuk bahan plastik misalnya, restoran ini sudah menggantinya daun pisang. Begitu juga dengan sayuran yang didapat dari petani lokal. Dekorasi ‘Ijen’ juga tidak kalah mencuri perhatian karena semua bahannya bisa didaur ulang. Untuk menu, Ijen menawarkan olahan daging dan ikan yang didapat dari sumber ramah lingkungan.

 

Menjaga kelestarian lingkungan nyatanya memang tidak cukup dengan tidak membuang sampah sembarangan. Ketertiban menjaga lingkungan sesuai Gerakan Indonesia Tertib dari Gerakan Nasional Revolusi Mental juga dapat memikirkan tentang pentingnya keberlanjutan dan aspek kesehatan di masa mendatang. Semuanya dapat dimulai dari diri sendiri dan dari gaya hidup sehat yang kita anut. Karena dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat bukan? (*)

 

Diolah dari berbagai sumber

 

 
 





#ayoberubah