Asa ‘Sunyi’ dari Kafe Sunyi

Asa ‘Sunyi’ dari Kafe Sunyi

  • 36
  • 0
  • 0
  • 0

0%
ayo setara!
0%
jadi beda itu baik

Praktik Baik

Foto: (sumber: youtube.com)

 

Asa ‘Sunyi’ dari Kafe Sunyi

 

Kemampuan fisik boleh jadi berbeda tetapi sebagai manusia, mereka juga punya kesempatan yang sama untuk diperlakukan setara dan mencari penghidupan yang layak seperti orang kebanyakan.

 

“Seperti misi kami yang ingin selalu mendukung kehidupan Kaum Disabilitas, menjadi tugas kami untuk mengedukasi masyarakat tentang masalah disabilitas ini. Kami tampil sebagai teman bekerja sama, konsultan, dan rekan kerja dalam rangka meningkatkan kesadaran publik terhadap isu disabilitas. Kegiatan kami antara lain kolaborasi merek, acara, pengajaran Bahasa Isyarat, dan pelatihan. Kafe Sunyi didirikan sebagai rumah bagi komunitas disabilitas untuk memperoleh kesempatan kerja, tempat berbagi ide kreatif, dan sebagainya. Bagaikan kanvas lukisan, kami bermimpi dapat menjembatani dua dunia dan juga duta inklusivitas serta kesetaraan,” demikian terjemahan bebas pernyataan resmi Kafe Sunyi di website resminya www.sunyicoffee.com

 

Sebagai tambahan informasi, Kafe Sunyi menegaskan bahwa tempat ini bukan sekadar toko kopi tetapi sebuah tempat dengan misi besar yaitu ajang unjuk gigi kemampuan Kaum Disabilitas baik tentang kopi maupun seni. Sembari, coba membangun kesepahaman masyarakat umum agar tidak lagi memandang sebelah mata Kaum Disabilitas dan dapat lebih menerima mereka beserta karya-karyanya.

 

Berlatar belakang konsep ramah disabilitas, Kafe Sunyi berdiri dengan anggunnya di Jl. RS. Fatmawati Raya No.15, RT.1/RW.3, Cilandak Barat, Kec. Cilandak, Jakarta Selatan. Pengunjung kafe akan disajikan suasana penuh keakraban sambil larut dalam kenikmatan minum kopi atau lainnya sesuai selera. Kafe ini juga berfungsi sebagai galeri seni kecil yang menampilkan sekaligus mempromosikan aneka karya seni Kaum Disabilitas, seperti karya puisi yang terpampang di dinding bertuliskan Huruf Braille, supaya mereka juga dapat terus aktif di tengah masyarakat.  

 

Pemilik Kafe dengan nama lengkap Kafe Sunyi house of Coffee and hope ini, Fernaldo Garcia, mengatakan kalua semua pekerja yang ada di Kafe Sunyi ini adalah Penyandang Disabilitas. Sudah sejak dari halaman parkir kafe, pengunjung dapat menemukan petugas parkir yang menggunakan Bahasa Isyarat untuk berkomunikasi. “Jadi konsep dasar Sunyi house sebenarnya untuk merangkul dan memberi kesempatan bagi teman-teman Penyandang Disabilitas untuk bekerja, karena seperti yang kita tahu tidak banyak perusahaan yang mau memperkerjakan mereka,” kata Fernaldo seperti dikutip dari Kompas.com. Sementara nama Sunyi House Coffe and Hope pun menurutnya adalah ‘Sunyi’ bukan tanpa suara tetapi ‘Sunyi-nya’ diskriminasi untuk kaum disabilitas.


Hampir semua pekerja di kafe ini memang Penyandang Disabilitas dan terdapat lima orang Penyandang Disabilitas yang dipekerjakan di kafe ini yang terdiri atas empat orang tuna rungu dan tuna wicara serta satu orang tuna daksa. Dengan keterbatasan yang dimiliki, mereka nyatanya dengan lihai meracik kopi atau pesanan lainnya sesuai daftar menu untuk memanjakan lidah pengunjung.

 

Meski pada awalnya, menurut Fernaldo, kafe membuka lowongan pekerjaan di sebuah situs pekerjaan untuk Kaum Disabilitas dan tercatat ada 50 pelamar kerja. Wawancara dan seleksi pun dilakukan sehingga menyusut menjadi lima pegawai. Mereka yang lolos wawancara dan seleksi adalah Penyandang Disabilitas yang justru tanpa keterampilan meracik kopi sama sekali. “Ya mereka awalnya memang tidak punya keahlian membuat kopi. Tapi kita adakan training untuk mereka sebelum bekerja,” ungkapnya lagi. Meski sempat ragu, Fernaldo mengaku kagum bahwa para pegawainya itu di luar dugaan ternyata dapat beradaptasi dan belajar dengan cepat. Menurutnya, hingga sekarang, hampir tidak pernah ada keluhan dari para pelanggan karena racikan kopi yang mereka buat.


Fernaldo mengatakan banyak pelanggan yang juga penyandang disabilitas datang ke tempat ini untuk “nongkrong” bersama teman sejawat. Kafe Sunyi dapat dijadikan pula sebagai tempat nongkrongnya pelanggan Penyandang Disabilitas. “Ya bisa dibilang seperti itu, bahkan mereka penyandang disabilitas suka kumpul setiap malam minggu di sini dengan teman teman yang lain,” katanya. Maka dari itu, interior kafe dan banyak fasilitas lain yang memang di desain khusus untuk pelanggan penyandang disabilitas. “Kita juga sengaja memakai meja bundar di dalam kafe karena membantu bagi pelanggan tuna rungu berkomunikasi. Jadi dengan duduk berkeliling mereka dengan mudah melihat bahasa isyarat dari masing masing temannya.”


Mulai dari pintu masuk, gedung kafe menyediakan guiding block untuk pelanggan tuna netra. Bahkan di halaman kafe terdapat tulisan dengan huruf braille. Namun bukan berarti kafe ini tidak dibuka untuk umum, siapa saja boleh datang. “Jika ada pelanggan mungkin tidak bisa memahami bahasa isyarat karyawan kami, saya suka stand by di sini untuk bantu melayani,” papar Fernaldo.


Profil Kafe Sunyi sebagai salah satu contoh terbangunnya budaya kesetaraan untuk Kaum Disabilitas dapat menjadi harapan baru bagi para pencari kerja disabilitas yang hingga kini masih berkutat dengan akses kesempatan kerja seluas-luasnya sesuai kemampuan mereka. Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Sosial, pada 2010, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia sekitar 11.580.117 orang. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mencatat pada 2010 jumlah penyandang disabilitas adalah 7.126.409 orang. Kemudian, survei Penduduk Antar Sensus atau Supas BPS pada 2015 menunjukkan jumlah penyandang disabilitas Indonesia sebanyak 21,5 juta jiwa dan di tahun 2018, populasi disabilitas di tanah air telah mencapai 30 juta jiwa.

 

Di tengah polemik soal data dan kewajiban untuk memberikan lapangan kerja kepada penyandang disabilitas, kini terdapat sejumlah komunitas disabilitas berinisiatif sendiri untuk memberikan pembekalan keterampilan kepada para anggotanya. Contoh, seperti yang dilakukan Thisable Enterprise yang terkenal sebagai Penyedia SDM Disabilitas seiring dengan munculnya kesadaran untuk mempekerjakan karyawan disabilitas baik di perusahaan swasta maupun BUMN. Thisable Enterprise memberikan aneka pelatihan kerja kepada para Penyandang Disabilitas seperti jasa kasir, contact center, dan sebagainya. Sang Pendiri, Wanita Tuna Rungu sekaligus Sosiopreneur, Angkie Yudistia, saat ini tercatat sebagai Staf Khusus Presiden Joko Widodo dan didapuk menjadi juru bicara presiden bidang sosial.

 

Terlepas dari soal mampu atau tidak mampu secara fisik untuk kemudian berusaha mencari nafkah hidup, kemandirian secara ekonomi adalah hak setiap individu yang tidak lelah mencari kesempatan. Gerakan Indonesia Mandiri dalam Gerakan Nasional Revolusi Mental sangat mendukung semangat dan kesadaran semacam ini. Memang masih perlu regulasi yang menguatkan beserta sanksi tegas kepada para pelaku usaha yang masih menolak mempekerjakan Kaum Disabilitas. Sejauh ini, jika dilihat dari aspek kebijakan, sesungguhnya sudah berada di jalur yang benar. Contohnya adalah telah diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 70 tentang perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, perlindungan dan pemenuhan hak-hak disabilitas. Sementara pada aspek pemenuhan hak-hak kesejahteraan sosial, regulasinya sudah ditetapkan yaitu PP No.52 Tahun 2019. Langkah selanjutnya adalah bagaimana regulasi yang sudah ada ini dikontekstualisasikan ke level pembangunan di tingkat daerah yang terkoneksi dengan sistem perencanaan dan penganggaran di daerah. Hanya memang tinggal menumbuhkan kesadaran bersama. Sebab, jika sudah terbangun, semoga semakin banyak tenaga kerja disabilitas yang muncul ke permukaan dan punya sumbangsih karya yang besar yang tidak hanya bagi kehidupannya tetapi juga bagi orang banyak. Kekurangan bukan penghalang untuk maju dan berkarya bukan? (*)


Diolah dari berbagai sumber