Anggap Remeh jadi Nyeleneh

Anggap Remeh jadi Nyeleneh

  • 22
  • 0
  • 0
  • 0

0%
ayo berubah
0%
gerakan indonesia tertib

Kabar

Foto: (sumber: Voi.id)

 

Anggap Remeh jadi Nyeleneh

 

Sanksi bagi para pelanggar Protokol Kesehatan, khususnya mereka yang keluar rumah tidak memakai masker semakin “nyeleneh.” Demi makin membangun kepekaan dan rasa kuatir penularan Covid-19.

 

Setelah penerapan sanksi denda dan hukuman sosial seperti push up dan menyapu jalanan dinilai kurang memberikan efek jera bagi pelanggar. Kini, sejumlah daerah tengah memberlakukan sanksi "nyeleneh" hnaya agar lebih membangun kepekaan masyarakat terhadap pandem yang semua orang tidak tahu kapan akan berakhirnya ini. Meski penerapannya dinilai ekstrem dan menuai kritik di kalangan masyarakat, tujuannya tidak lain adalah agar masyarakat tidak meremehkan Pandemi Covid-19. Apa saja sanksinya?

 

Ditandu ke Makam

 

Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kab Bogor menggelar razia pada Minggu (6/9/2020) pagi, langsung menggiring para pelanggar di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor. Mereka yang tidak dapat membayar denda langsung ditandu ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) di sekitar Stadion Pakansari, Kab Bogor. Petugas Satpol PP yang mengenakan pakaian Hazmat atau alat pelindung diri (APD) memberi hukuman kepada mereka yang tidak memakai masker saat beraktivitas di luar rumah. Pelanggar juga mengaku takut menerima sanksi sosial ini. Ada 12 Pelanggar yang dijaring dalam razia ini, mereka kemudian diwajibkan mengikuti petugas dari belakang yang sedang menandu salah satu pelanggar menuju TPU RW 05 Kampung Cikempong, Kelurahan Pakansari.

 

Lantunan tahlil dibacakan sampai ke pemakaman. Pelanggar yang ditandu ini dibawa sampai sekitar 30 meter. Usai ditandu, pelanggar yang tidak memakai masker diberi arahan tentang pentingnya protokol kesehatan Covid-19. “Iya takut dan serem aja, kayak beneran mau mati. Panas dingin, malu juga,” ujar, Riky (15) salah satu pelanggar yang tidak pakai masker seperti dikutip dari inews.id. Setelah itu, ke-12 pelanggar diberi masker lalu mereka diminta untuk segera membersihkan makam. “Jelas kapoklah mas karena deg-degan. Yang jelas sih malu aja. Biasanya kan diperingati (bila tidak pakai masker), sekarang enggak langsung sanksi suruh bersihin makam,” kata Atang, pelanggar lainnya.

 

Menurut Bupati Bogor, Ade Yasin, menandu, membersihkan makam hingga dibawa ke mobil ambulans yang ada keranda mayat adalah inovasi dalam mencegah penyebaran Covid-19. Penerapan sanksi dengan menggunakan peti mati atau keranda mayat yang disiapkan khusus dalam menindak pelanggar, ungkap Ade, karena tidak semua warganya mampu membayar denda. “Dengan keterbatasan petugas dan luas wilayah Kabupaten Bogor yang cukup besar dengan jumlah penduduk paling banyak se-Indonesia, jadi kami pun kewalahan sehingga kami harus bisa berinovasi, yang penting efek dan edukasinya dapat.”

 

Masuk Peti Jenazah

 

Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Pasar Rebo, Jakarta Timur menyuruh warga masuk ke dalam peti mati. Ternyata, sebelum disuruh masuk peti jenazah itu, warga terlebih dulu disuruh menyapu jalanan. Ketua Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol) PP Jakarta Timur, Budhy Novian, saat peristiwa berlangsung, para warga yang terjaring razia tidak memakai masker dihukum sanksi sosial menyapu fasilitas umum. Beberapa orang juga ada yang memilih membayar denda Rp250 ribu.

Belum selesai menyapu selama satu jam, petugas Satpol PP yang ada di lokasi lalu memberikan sanksi tambahan. Warga diminta masuk peti mati sebagai peringatan agar menimbulkan efek jera tak menggunakan masker. “Selesai nyapu, walaupun memang tidak genap satu jam, kekurangannya itu masuk (peti mati),” ujar Budhy kepada Suara.com. Menurutnya, tindakan ini diambil demi menghemat waktu karena saat itu banyak antrean warga yang harus menjalankan sanksi menyapu. Setelah diminta masuk peti, warga dibebaskan dari hukuman. Pelanggar selanjutnya yang sudah mengantre melakukan sanksi sosial.

 

Push Up di Pelaminan

 

Pasangan Pengantin, Solihudin dan Dian Masitha, tidak menyangka jika di hari bahagianya harus menerima hukuman push up di atas pelaminan saat pernikahannya. Hukuman ini diberikan oleh anggota Bhabinkamtibmas Desa Randugong, Kecamatan Kejayan Aipda Harid Kurniawan. Penyebabnya, karena Solihudin tidak menerapkan salah satu protokol kesehatan, yakni tidak mengenakan masker. Harid menyampaikan, apa yang dilakukannya ini sesuai dengan SOP pihak TNI, Polri dan pemerintah daerah. Jadi, jika ada hajatan, harus ada peninjauan lapangan.

 

“Malam itu saya bertugas mengecek keramain di acara pernikahan. Saya melihat pengantin ini tidak pakai masker. Disitu saya langsung naik panggung dan menyuruh pengantin pria push up. Itu sebenarnya bukan hukuman tapi edukasi agar protokol kesehatan diterapkan,” kata Aipda Harid pada Suara.com

 

Solihudin masih terus memikirkan kejadian yang tidak terduga pada malam pesta pernikahannya, bahkan memang sempat viral lewat unggahan medsos. “Saya kaget, kok tiba-tiba polisi naik panggung pelaminan. Saya kira cuman mau ngucapin selamat saja. Eh ternyata saya malah disuruh push up tiga kali gara-gara nggak pakai masker.”

 

Saat melakukan push up, kata Solahudin, istrinya (Masitha) sebenarnya merasa kasihan. Namun karena di depan polisi dan orang banyak, akhirnya yang bisa dilakukan hanyalah menertawakan kejadian itu. “Istri saya sebenarnya kasihan lihat saya disuruh push up. Tapi Dia hanya bisa tertawa saja gak berani nolong.” Bukan hanya istrinya yang menertawakan, bahkan seluruh tamu pun ikut menertawakan Solahudin.

 

Berdoa di Makam Korban Covid-19

 

Sebanyak 54 orang Pelanggar Protokol Kesehatan di Kab Sidoarjo, Jawa Timur, dihukum untuk berdoa di makam korban covid-19, TPU Delta Praloyo. Menurut Kepala Kepolisian Resor Kota Sidoarjo Komisaris Besar Polisi Sumardji, para pelanggar itu rata-rata tidak mengenakan masker saat keluar rumah. “Rupanya hukuman sosial dengan membersihkan fasilitas umum yang selama ini diterapkan masih belum mendapatkan efek jera dari pelanggar protokol kesehatan ini, sehingga kami berinisiatif menyuruh para pelanggar itu untuk berdoa bersama di makam khusus korban covid-19 di Sidoarjo ini,” ujarnya seperti dikutip dari Antara. “Selama ini warga di Sidoarjo masih banyak yang mengabaikan protokol kesehatan. Kedisiplinan warga masih kurang terutama yang tidak menggunakan masker dan melanggar jam malam.”

 

Dia menambahkan, sebenarnya pihaknya sering melakukan razia seperti ini, dan mereka yang terjaring diberikan sanksi sosial. Namun, warga di Sidoarjo masih banyak yang membandel dan mengabaikan protokol kesehatan. “Ini salah satu upaya untuk membuat mereka jera. Selain itu, ini bentuk untuk penyampaian moral ke warga Sidoarjo tentang bahayanya COVID-19 itu nyata.”


David, warga Sidoarjo yang terjaring razia mengaku sangat kapok tidak akan mengulangi lagi dan berjanji akan menggunakan masker setiap keluar rumah. “Saya merasa takut mas malam-malam ngaji bareng baca tahlil di tengah pusara pasien covid-19,” katanya.

 

Menimbulkan efek jera bagi para Pelanggar Protokol Kesehatan saat mereka beraktivitas di luar rumah tentu dapat jadi efektif jika penerapannya dinilai tidak biasa atau nyeleneh. Sanksi sosial semacam ini dapat menjadi pembelajaran bagi orang lain, di samping memang rasa malu yang berhasil dimunculkan saat itu juga. Penegakan disiplin memang kemudian perlu dipertegas jika aturan tegas pun masih ada saja yang melanggar. Sayangi diri dengan tertib bermasker, disiplin pemakaian masker secara tidak langsung berarti juga turut ambil bagian dari kampanye bersama cegah Covid-19. Bila perlu, secara khusus gerakan bersama seperti Gerakan Indonesia Tertib Bermasker perlu dimunculkan. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber

 

 




#ayotertib

#ayoberubah