Agar Sosialisasi tidak lagi Sekadar Menghafal Materi

Agar Sosialisasi tidak lagi Sekadar Menghafal Materi

  • 26
  • 0
  • 0
  • 0

0%
Setuju min
0%
Harus segera dilaksanakan

Suara Kita

Foto: (sumber: fajar Indonesia network)

Selain sebagai ideologi negara yang sudah final dan banyak dikagumi oleh bangsa lain di dunia, kalau mau makin diperkuat, sosialisasi dasar negara ini juga butuh banyak terobosan. 

 

Sosialisasi ideologi Pancasila di zaman sekarang memang butuh upaya berlebih, mulai dari menyesuaikan dengan tren yang berlaku hingga menggunakan pendekatan yang lebih akrab lagi ramah dengan masyarakat. Agar Pancasila kemudian dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, meresap dalam kehidupan sehari-hari. Nilai yang termuat dalam sosialisasi ideologi Pancasila itupun jadi tidak hanya sekadar dihafal seperti yang berlaku di masa lalu.

 

“Selama ini penyampaian materi dalam proses pembinaan ideologi Pancasila hanya bersifat satu arah, akibatnya peserta hanya menghafal tanpa memahami maknanya,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat saat menjadi narasumber dalam acara Diskusi Kelompok Terpimpin Penyusunan Draf Awal Modul Standarisasi Materi dan Bahan Ajar Metode Pembinaan Ideologi Pancasila Bagi Pejabat Negara, pertengahan Agustus 2020 lalu.

 

Dalam forum Diskusi Kelompok Terpimpin  yang digelar oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila itu, Lestari juga mengharapkan terjadinya berbagai tahapan proses penyampaian materi dalam pembinaan ideologi Pancasila, mulai dari dialog, diskusi hingga kontemplasi atas materi-materi yang disampaikan. Sebab, tahapan ini meminta agar peserta sosialisasi untuk terlibat secara aktif dan bukan lagi hanya mendengarkan, pasif, lalu materi jadi terlupakan begitu saja. Maka, tujuan penyampaian materi pun jadi tidak tercapai.

 

“Dengan aktif dalam proses pemahaman ideologi Pancasila, diharapkan peserta tidak terjebak dalam pemahaman satu arah yang hasilnya hanya sekadar hafal tanpa memahami materi yang disampaikan,” ujar Lestari seperti dikutip dari lamppost.co

 

Paparan Lestari dalam diskusi itu lalu menyebutkan tentang metode sosialisasi dengan menggunakan metode ‘U Theory’ karya Otto Scharmer. U Theory menurutnya sangat baik untuk diterapkan saat sosialisasi karena peserta akan diajak untuk melakukan tahapan mulai dari observe, retreat-reflect, dan act. Sebagai langkah awal, metode ini memerlukan upaya optimal dengan meminta peran aktif peserta seperti mendengarkan setiap persepsi mereka saat merumuskan kebijakan. Ajang saling mendengarkan ini dapat berarti juga forum saling berbagi pengalaman dan coba mencari solusi bersama jika memang menghadapi masalah yang juga sama. “Perwujudan kebijakan pun bersumber dari hasil musyawarah, sehingga pembentukan sistem atau model aksi bisa diimplementasikan,” tambah Lestari lagi.

 

Kalau sudah mendapatkan banyak masukan, Lestari meminta Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dapat menyiapkan materi atau modul pembinaan ideologi Pancasila yang mudah dipahami dan mudah diaplikasikan oleh masyarakat luas. Ditambahkannya, upaya pembinaan ideologi Pancasila yang meluas dan menyasar lebih banyak kalangan sudah semakin mendesak, seiring dengan semakin banyaknya perilaku masyarakat yang terlihat semakin menjauh dari nilai luhur Pancasila, seperti mudahnya tersulut kerusuhan hanya karena kurang rasa toleransi, penegakan disiplin yang dianggap sepele, dan sebagainya. 

 

Selain itu, sosialisasi yang gencar dilakukan oleh BPIP juga akan berbentuk digital berupa peluncuran aplikasi “Si Pendekar Pancasila” yang akan berisi konten mengenai aneka kegiatan BPIP kepada masyarakat, di samping memang nantinya diharapkan dapat menjaring keterlibatan masyarakat secara langsung.

 

Meski baru akan diluncurkan sekitar Oktober – November 2020 mendatang, menurut Deputi Bidang Pengendalian dan Evaluasi BPIP, Rima Agristina, aplikasi ini masih terus menerima masukan dan akan ditindaklanjuti oleh pihaknya demi penyempurnaan. Dia juga menegaskan bahwa nama “Si Pendekar Pancasila” diambil dari istilah dasar hasil kesepakatan BPIP dan merupakan nama dari sebuah unit kerja BPIP yakni Sistem Pengendalian dan evaluasi kegiatan yang disingkat “Si Pendekar Pancasila.” “Itu merupakan susunan nama sendiri. Makanya ada nama sipendekar dan singkatan. Pendekar itu mampu menguasai medan dan menguasai aktifitas apa saja di sekelilingnya dan membantu semua pemangku kepentingan masyarakat.”

 

Harapannya, tambah Rima, aplikasi “Si Pendekar Pancasila” akan dapat semakin mendekatkan masyarakat terhadap Pancasila atas agenda-agenda yang sudah dilakukan oleh BPIP. Menurutnya, bicara Pancasila bukan hanya untuk memberikan pendidikan dan edukasi saja melainkan banyak aspek yang akan ditampilkan “Si Pendekar Pancasila” untuk kepentingan, kebutuhan serta keterbukaan kegiatan yang melibatkan masyarakat.

 

“Kegiatan itu nanti bisa kelihatan terkait kebijakan, peraturan perundang-undangan, kegiatan pembudayaan, atau juga seperti kegiatan sosialisasi. Maka pancasila dalam tindakan itu, menjadi ruang formal tetapi bisa sangat cair dalam aktifitas masyarakat,” kata Rima lagi seperti dikutip dari laman resmi bpip.go.id. Aplikasi “Si Pendekar Pancasila” nantinya akan tersedia di Play Store dan dapat langsung diunduh serta disimak apa saja informasi yang ada di dalamnya. (*)

 

Diolah dari berbagai sumber