Ada Harmoni di Gedung Setan

Ada Harmoni di Gedung Setan

  • 26
  • 0
  • 0
  • 0

0%
jaga persatuan
0%
demi indonesia lebih baik

Praktik baik

Foto: (sumber: lorongdotcom-wordpress.com)

 

Ada Harmoni di Gedung Setan

 

Sarat akan nilai sejarah beserta cerita dan sengketa yang melengkapinya, gedung berkesan menyeramkan ini oleh para penghuninya justru telah lama menerapkan hidup penuh toleransi, keberagaman, dan tentu saja kerukunan.

 

Berdiri paling menjulang dari semua bangunan di sekitarnya dan sejak dibangun hingga kini kondisinya tidak banyak berubah kecuali karena menua termakan usia, ‘Gedung Setan’ hingga kini tetap terkesan kuno, kumuh, tidak terawat, angker, juga sarat akan nilai sejarah. Bangunan yang sejatinya berwarna putih itu akrab dikenal oleh Warga Kota Surabaya sebagai ‘Gedung Setan’ karena kesannya yang menakutkan.

 

Gedung Setan sangat familiar utamanya bagi mereka yang tinggal di perkampungan Banyu Urip, Sawahan atau alamat lengkapnya di Banyu Urip Wetan I A No.107, RT.001/RW.06, Banyu Urip, Kec. Sawahan, Kota SBY, Jawa Timur. Gedung bekas kantor VOC cabang Jawa Bagian Timur ini dibangun oleh Penguasa Sipil Tertinggi VOC, J.A. van Middlekoop pada 1809. Kemudian, setelah VOC meninggalkan Indonesia Gedung ini dimiliki oleh Dokter Teng Sioe Hie atau Teng Khoen Gwan atau Gunawan Sasmita. Gedung ini pernah dijadikan tempat pengungsian orang-orang Tionghoa pada tahun 1948.

 

Usai dibeli, gedung ini dialihfungsikan oleh sang dokter untuk bisnis transit jenazah yang akan dimakamkan. Karena memang pada zaman itu kawasan sekitar gedung ialah areal pemakaman Tionghoa, Kristen, dan Belanda. Gedung Setan saat ini lokasinya berdekatan dengan pasar sehingga dari luar sangat padat dan ramai. Banyak hilir mudik warga kampung yang berbelanja di sekitar gedung sementara akses  ke gedung seluas 500 meter persegi ini hanya akses satu pintu berukuran sedang.

 

Pada tahun 1948, Gedung Setan dijadikan tempat pengungsian bagi orang-orang Tionghoa yang berada di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah karena keadaan mereka yang dirasa belum aman. Setelah merasa kondisi cukup aman, orang-orang Tionghoa tadi pergi kembali ke daerahnya tapi juga ada yang memilih untuk menetap di Gedung Setan. Orang-orang Tionghoa yang tinggal di Gedung Setan saat ini adalah generasi keempat dari pengungsi Tionghoa tahun 1948. Jika tidak memiliki jalur keturunan dari pengungsi Tionghoa, tentu tidak diperbolehkan tinggal di Gedung Setan.

 

Sejarah perolehan nama gedung itu menjadi Gedung Setan berawal dari area di sekitar gedung yang dijadikan tempat pemakaman Tionghoa dan gedungnya dipakai untuk tempat sembahyang bagi keluarga orang-orang yang dimakamkan di area ini. Karena area pemakaman Tionghoa yang ada di sana cukup luas dan gedung ini adalah satu-satunya yang terhitung modern saat itu, masyarakat lalu beranggapan bahwa gedung itu adalah gedungnya setan. Gedung Setan diketahui telah beberapa kali diklaim kepemilikan oleh segelintir orang tetapi oleh penghuni dilawan dengan bukti legal berupa surat kepemilikan atau akta jual beli. Para Peng-klaim itu pun “menyerah” karena tidak mampu menunjukkan bukti legal tadi meski mendapat banyak dukungan dari aparat atau bahkan preman.

 

Menurut Ketua Pengurus Gedung Setan, Djijanto Soetikno, para penghuni tinggal di beberapa bilik semi permanen yang terbuat dari papan triplek. Mereka membaginya sesuai dengan kapasitas keluarga. “Ya kalau keluarganya banyak, ya ruangannya luas, disekat sendiri,” ujarnya kepada idntimes.com. Saat ini, Gedung Setan memiliki 40 ruang yang dijadikan sebagai kamar dengan struktur bangunan yang memiliki tembok dengan ketebalan hampir 50 cm. Gedung Setan diketahui telah berusia dua abad dan dinyatakan sebagai bangunan cagar budaya tetapi tidak dapat direvitalisasi Pemerintah Kota Surabaya karena secara hukum pernah menjadi milik pribadi.

 

Lambat laun, keluarga yang tinggal di Gedung Setan semakin menyusut. Areal pemakaman di sekitar bangunan perlahan menjadi perkampungan sejak tahun 1965. Saat itu banyak makam yang dirusak oleh pendatang seiring meletusnya tragedi PKI. “Kuburan mulai hilang tahun 1965 jadi perkampungan,” kata Tikno lagi. Meski begitu, Dia mengaku peristiwa PKI tidak berdampak kepada warga Tionghoa di Gedung Setan. Seiring berjalannya waktu, gedung yang semula menampung sekitar 300-an Kepala Keluarga (KK) mulai menyusut sampai 18 KK saja, lalu setelah mulai ramai lagi, jumlah KK bertambah menjadi 56 KK. “Saat ini ada suku Jawa, Madura, Bali, NTT sampai Ambon ada di atas (lantai dua gedung—red)” tambah Tikno.

 

Selain berbagai suku dan ras, Gedung Setan juga dihuni oleh warga dari berbagai agama. Tikno menyebut, ada tiga agama yang yaitu Kristen, Islam dan Konghucu. Namun, para penghuni itu tidak pernah bertikai terkait kepercayaan baik di dalam gedung maupun dengan warga kampung. “Semua harmonis, dengan orang kampung juga. Berbaur kok satu RT,” ungkap Tikno. Merawat hidup dalam harmoni kerukunan itu dilakukan dengan cara membuat tempat ibadah di lantai dua gedung. Ruangan berupa aula itu dapat dipergunakan bergantian untuk keperluan ibadah agama, juga untuk acara pertemuan besar lainnya. “Bisa dibilang ini miniatur Indonesia, di sini ada berbagai suku dan agama tapi tetap bersatu bertoleransi,” kata Tikno. “Karena banyak anak-anak sini yang menikah dengan orang dari luar daerah. Jadi mereka tinggal bersama di gedung ini sekarang.”

 

Mereka memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Kebersamaan sebagai keluarga besar senasib sepenanggungan dari pengungsi di zaman dulu berbuah kerukunan keturunan mereka yang terjalin kuat hingga kini. ”Tidak pernah berebut apa pun. Kami tinggal di sini ya rukun-rukun saja,” ujar Sutikno lagi. Misalnya, saat perayaan Tahun Baru Imlek. Suasana meriah pasti terlihat dalam gedung. Setiap rumah berhias dengan pernak-pernik ala Imlek. Anak-anak akan berkeliling dari satu rumah ke rumah lain untuk meminta angpao. Bukan hanya itu. Mereka juga biasa saling berbagi termasuk urusan penggunaan kamar mandi. Gedung itu hanya memiliki empat kamar mandi umum dan dapur di bagian belakang lantai 1. Karena itu, sering terlihat antrean kamar mandi utamanya saat pagi ketika penghuni akan berangkat kerja dan sekolah.

 

Sutikno maupun warga lainnya mengaku masih setia tinggal di gedung tua ini. Untuk kamar mandi, warga biasa menggunakan kamar mandi bersama. Para penghuni tidak ditarik biaya sewa. Hanya saja, warga perlu patungan Rp50 ribu per keluarga. Iuran bulanan ini hanya cukup buat biaya listrik, air, dan ongkos perbaikan gedung ala kadarnya.

 

Kesan menyeramkan seiring menuanya usia gedung nyatanya hanya kesan belaka. Hidup dalam keseharian di kota sebesar Surabaya terlebih dalam satu tempat dengan banyak etnis dan agama, tentu akan sangat indah bila keharmonisan itu tetap terjaga. Indonesia yang bersatu, hidup dengan rukun dapat mengambil contoh dari kehidupan di Gedung Setan ini. Selain semangat persatuan dan kesatuan, nilai dan semangat gotong royong juga terlihat tetap lestari di sini. Sungguh sebuah miniatur kehidupan asli Indonesia! (*)

 

Diolah dari berbagai sumber

 


#ayoberubah
#gerakanindonesiabersatu