ABS? Masih Nge-tren?

ABS? Masih Nge-tren?

  • 68
  • 0
  • 0
  • 0

0%
ayo ubah kebiasaan
0%
apakah siap berubah?

Leksikon

Foto: (Sumber: youtube.com)



ABS? Masih Nge-tren?

Banyak yang mengungkapkan kalau kebiasaan ini adalah “budaya” warisan penjajah yang lantas berkembang lalu semakin canggih hingga kini.

 

Apa nama grup band itu, menurut memoar Mangil Martowidjojo bertajuk ‘Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967’, awalnya memang masih gamang. Band ini dibentuk atas prakarsa Komandan DKP (Detasemen Kawal Pribadi, sekarang Paspampres—red) kala itu, Letkol Polisi Mangil Martowidjojo dengan alasan, sebagai “teman” Bung Karno di kala penat dan dapat menari Lenso atau cha cha kegemarannya di di mana dan kapan pun Sang Proklamator ini menginginkannya. Band yang anggotanya Pasukan DKP ini dipimpin oleh Mayor Polisi Iskandar Winata.

 

Band ini lahir dengan dalih kalau Bung Karno jarang cocok dengan band-band lain yang memainkan musik di sejumlah acara yang dihadirinya. Karena hanya band ini yang lantas diakrabi Bung Karno dan khusus main demi menghiburnya, pimpinan band pun lantas menamai band ini “Asal Bapak Senang” alias ABS. Namun, band ini justru diberi nama Band Die Brul Apen van BK yang artinya  ‘monyet-monyet yang terus mengerang dan cecowetan tanpa henti’ oleh Bung Karno. Meski pernah bertanya tentang nama band ABS ini, Bung Karno hingga akhir hayatnya diketahui tidak pernah tahu kalau ABS merupakan kepanjangan dari ‘Asal Bapak Senang.’ Demikian penuturan salah satu ajudan Soekarno, Letkol (KKO/sekarang Marinir TNI AL) Bambang Widjanarko, hendak menyerukan Band ABS untuk bersiap tampil.

 

“Istilah tersebut suci murni, tidak mengandung muatan politik sedikit pun. Band kami menjadi tersohor karena singkatan ini. Satu-satunya band yang dapat mengikuti kehendak Bung Karno hanya band polisi pengawal pribadi Sukarno,” kata Mangil Martowidjojo dalam Kesaksian tentang Bung Karno, 1945-1967.
Setelah peristiwa G30S, kekuasaan Sukarno mulai goyah, nasib ABS dan Cakrabirawa pun redup.

 

Nama ABS atau “Asal Bapak Senang” kemudian dijadikan istilah untuk menggambarkan sikap menjilat, mental bawahan yang doyan menyenangkan atasan dengan pamrih. Mahasiswa angkatan '66 yang ikut menjatuhkan Soekarno kerap menuduhkan mentalitas seperti itu kepada era Orde Lama. Seperti dicatat John Maxwell dalam Mengenang Seorang Demonstran (1999) dan dalam Soe Hok Gie Sekali Lagi (2009), Soe Hok Gie menilai orang-orang di sekeliling Soekarno sebagai pelaku korup dan culas sementara politisi terkemuka dan pimpinan partai waktu itu dianggap tidak lebih dari penjilat bermental ABS yang suka yes men.

 

Meski istilah ABS mulai populer setelah 1960-an, sikap ABS bukan sesuatu yang baru di Indonesia. ABS yang lahir dari budaya Kaum Feodal ini menurut Mochtar Lubis dalam Situasi dan Kondisi Manusia Indonesia Kini (1977:19), “telah berakar jauh ke zaman dahulu, ketika tuan feodal Indonesia merajalela di negeri ini, menindas rakyat dan memperkosa nilai-nilai manusia Indonesia.” Tuan feodal ini biasanya para tuan tanah atau raja-raja. Di masa lalu, mereka kerap dibisikkan kabar baik yang tujuannya hanya untuk menyenangkan Sang Tuan lalu terhindar dari kemarahan, sekaligus agar semakin disayang.


ABS Masa Kini

 

Istilah ABS di saat ini jadi budaya tersendiri bagi orang bekerja di manapun lembaga atau kantornya. Meski tidak semua, akan ada saja segelintir pekerja yang rela “menjilat” atasan. Entah karena ingin mendapat perhatian lebih dan terlihat menonjol di antara rekan-rekan kerjanya, ingin mempromosikan dirinya agar mendapat jabatan yang lebih tinggi, atau entah dengan maksud lain, aksi “menjilat” atasan terus dilakukan.

 

Modusnya beragam, “menjilat” demi menyenangkan hati atasan dapat dilihat dengan cara misalnya, hanya rajin dan gesit saat ada atasan; tidak terlalu cerdas tapi pandai memanfaatkan keterampilan rekan kerja; lebih tanggap membantu urusan pribadi atasan dan bukan urusan pekerjaan; merasa paling sibuk padahal tidak ada output pekerjaan yang berguna; menebar pencitraan dengan menceritakan kehebatan diri sendiri; gemar mengorek kesalahan sesama rekan kerja lalu melaporkannya ke atasan; pilih-pilih dalam bergaul dan lebih demi kepentingan pribadinya; merendahkan atau meremehkan sesama rekan kerja; dan sengaja mengulur waktu pulang hanya agar terlihat giat bekerja di mata atasan.

 

Menurut Pakar Sumber Daya Manusia, Adi Supriadi, perilaku semacam ini bisa berkembang karena kondisi dan lingkungan kerja tidak sehat yang kulturnya adalah bos (bukan pemimpin). Atasan dianggap sebagai ‘the one and only’ dan penentu hitam-putihnya nasib bawahan. “Atau, si bos yang memang memerankan dirinya seperti itu. Dalam kultur semacam ini, manajemen dan aturan main manajerial untuk menilai kinerja bawahan tidak ada. Atau, kalaupun ada, seringkali standar baku mutu kinerja bisa dikalahkan oleh perasaan si bos. Kalau aku senang, secara otomatis apapun yang ada di dirimu baik,” tulis Adi seperti dimuat Kompas.  

 

Praktik “menjilat” ini, tambah Adi, dapat membuka peluang untuk terjadinya kompetisi yang tidak sehat dan bukan lagi kinerja yang diutamakan. Bukan pencapaian dan prestasi kerja serta dampaknya bagi lembaga dan orang-orang yang ada di dalamnya yang diutamakan melainkan kemampuan untuk “berbisik” dan “membisikkan” sesuatu ke telinga si bos (sekali lagi, dia bukan pemimpin tetapi sosok yang senang dijilat)

 

Menurut  Psikolog lulusan Universitas Indonesia, Diah Primi Paramita, mengatasi rekan kerja penjilat ini memang gampang-gampang susah. “Seorang penjilat adalah seekor bunglon. Di hadapan teman-temannya dia sangat suka berpura-pura, pura-pura berbaur, pura-pura menawarkan diri menjadi sahabat terbaik siapa saja. Tapi di hadapan atasannya akan lain lagi ceritanya. Kehilangan kedekatan dengan atasan dan kehilangan jabatan buat seorang penjilat adalah musibah. Oleh karena itu sebelum musibah itu menimpanya, dia akan sekuat tenaga mencapai keinginan dan mempertahankan apa yang sudah diraihnya sampai titik darah penghabisan. Tak peduli usahanya itu berdampak merugikan orang lain. Seorang penjilat berprinsip tidak peduli dengan hak dan kepentingan orang lain. Hak dan kepentingan dirinyalah yang diutamakan,” paparnya lagi.

 

Diah berpendapat, masalah jilat menjilat atasan ini kembali kepada seorang atasan yang mampu mengelola dan menata bawahannya secara proporsi dan profesional berdasarkan penghargaan atas prestasi dan menjunjung tinggi kedisiplinan, kebersamaan, dan kekeluargaan. “Maka tidak akan ada tempat bagi si penjilat untuk dapat meningkat kariernya karena dengan seorang atasan yang berjiwa seperti itu, maka sudah dapat diyakini bahwa sang atasan adalah seorang yang tangguh, berwibawa, kharismatik dan tabu akan jilatan bawahannya,” tutup Diah seperti dikutip dari Kompas.

 

Perilaku menjilat dapat saja menjadi hambatan tersendiri utamanya bagi kinerja mereka yang punya kinerja atau etos kerja yang baik. Sosok atasan yang kurang sisi leadership-nya kemudian ditambah dengan “bisikan” bawahan penjilat, akan semakin membuat mereka yang lurus dan berprestasi tadi bekerja tanpa hasil atau tanpa pengakuan. Banyak orang menginginkan menjadi seorang pemimpin tetapi selain tidak memiliki pengetahuan tentang kepemimpinan, kondisi mereka diperparah lagi dengan tidak memiliki  keterampilan memimpin. Akibatnya, organisasi menjadi rusak, kacau balau, dan dipastikan tidak akan tiba atau bahkan pernah sampai ke tujuan yang diinginkan bersama dalam organisasi. Situasi lantas bertambah ironis lagi ketika Sang Pemimpin tidak pernah menyadari dan memahami bahwa sesungguhnya Dia tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menjadi seorang pemimpin. Lalu, karena dia sudah terpilih menjadi pemimpin, entah caranya dengan “tipsani” alias tipu sana tipu sini, menurutnya segala yang menjadi kebijakannya sudah benar. Alhasil, semakin lengkap dan semupurnalah kekacauan organisasi itu.

 

Saat layanan kepada masyarakat misalnya harus terus diperkuat dan dipermudah, budaya ABS dengan aksi menjilat ini bisa jadi ancaman tersendiri. Inovasi dan kreatifitas layanan dapat terus dibungkam hanya karena dalih suka dan tidak suka yang sangat subjektif dari atasan. Tentu ini tidak boleh terjadi, Semangat Indonesia Melayani harus ada terus! (*)

 

Diolah dari berbagai sumber