Wujudkan Kesetaraan Penyandang Disabilitas dalam Revolusi Mental
  • 359
  • 0
  • 0
  • 0

Relevansi Posisi Disabilitas Dalam bahasa yang lebih lugas, relevansi disabilitas, dan revolusi mental  bisa ditegaskan sebagai sikap pemerintahan Jokowi-JK untuk mengarusutamakan persoalan hak penyandang disabilitas dan mengintegrasikannya dalam kebijakan yang menjadi turunan visi misi  revolusi mental di berbagai bidang kehidupan. Upaya melakukan dekonstruksi persepsi terhadap penyandang disabilitas sesungguhnya memang sangat relevan dengan konsep revolusi mental Jokowi karena revolusi mental harus dimulai dari perubahan persepsi. Apa pun persepi yang salah terhadap berbagai hal (gender, warna kulit, agama, status sosial, dan lain sebagainya) harus didekonstruksi. Persepsi masyarakat yang tidak benar dan tidak tepat itu harus diruntuhkan sampai ke akarnya yang terdalam.

Dalam hampir semua bidang kehidupan, hak asasi penyandang disabilitas telah lama termarginalkan dan terdiskriminasikan. Ini terjadi karena penyandang disabilitas adalah kelompok subaltern  dalam masyarakat kita yang mengalami diskriminasi atas dasar stereotipe yang melekat pada diri mereka.

Cara pandang masyarakat terhadap kelompok disabilitas terbentuk melalui sistem sosial-budaya-agama, yang kemudian diterima sebagai kebenaran dalam tata nilai masyarakat sekalipun cara pandang atau persepsi ini sangat diskriminatif. Bagaimana kita bisa mengubah persepsi ini? Dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional setiap 3 Desember, rasanya penting untuk bersama-sama merenungkan hal ini karena penyandang disabilitas adalah bagian dari masyarakat kita yang seharusnya memiliki hak dan martabat yang sama.

Kali Ini, Gelaran Jambore TIK 2017 Disabilitas Bagi Remaja dan Dewasa di Wilayah Jayapura  merupakan upaya Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk memberikan akses setara terhadap teknologi informasi dan komunikasi kepada penyandang disabilitas.

"Diharapkan dengan adanya kompetisi dalam jambore ini kita akan mengurangi kesenjangan terkait dengan kehidupan para disabilitas. Dengan TIK harapannya merupakan salah satu hal yang membuat mereka lebih menjadi dimanusiawikan dan juga menjadi sama. Setara dengan mereka yang nondisabilitas," kata Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Informatika Sri Cahaya Khoironi saat membuka Kegiatan Jambore TIK 2017 di Jayapura, Rabu (18/10).

Kolaborasi antara Badan Litbang SDM Kominfo dengan Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI) itu telah berlangsung sejak tahun 2015. Tahun 2017 ini mereka yang unggul dalam kompetisi di beberapa wilayah akan mengikuti kompetisi akhir di Jakarta. “Kemarin pada tahun 2016 kita mendapat juara I, II, dan juara III untuk anak-anak. Pada 2015 kita ketempatan kegiatan JICT bagi penyandang disabilitas, Indonesia mampu menjadi juara umum, dan yang juga sangat membanggakan," papar Sekretaris Balitbang SDM Kominfo.

Lebih dari itu, menurut Sekretaris Balitbang SDM, peserta jambore ada yang dapat memiliki sertifikasi SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indoesia) Bidang TIK. "Merekapun diuji dengan hasil luar biasa, 100 % semua peserta lulus. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak kalah dengan teman-teman nya yang lain bahkan lebih punya potensi unggul karena mereka sangat memungkinkan dengan kebutuhan khususnya,” tuturnya.

Sri Cahaya Khoironi menyebut untuk pengembangan masa depan mereka, akan ada kerjasama dengan kementerian lain seperti dengan Kementerian Sosial dan Kementerian Ketenagakerjaan. “Semua kementerian diamanatkan untuk penerimaan CPNS baru dengan mengakomodir para penyandang disabilitas. Ini merupakan salah satu kemajuan besar didalam kita mengapresiasi dan menempatkan mereka didalam Seleksi CPNS," tambahnya.

Direktur Umum BP3TI Kementerian Kominfo Fadhillah Mathar mengharapkan melalui jambore TIK setiap peserta akan dapat memanfaatkan TIK untuk meningkatkan kompetensi mereka. "Melalui Jambore TIK para penyandang disabilitas bisa menikmati layanan telekomunikasi dan informatika dan TIK itu adalah suatu senjata serta keunggulan yang bisa membuat para disabilitas itu sejajar dengan non disabilitas," jelasnya.

Hal itu selaras dengan program pemerintah untuk menyediakan akses bagi seluruh warga  negara. “Intinya bagi Kominfo selain infrastruktur kita memastikan bahwa akses disabilitas ini menjangkau semua lapisan masyarakat bukan hanya kaitan dengan sinyal tapi juga dengan pemberdayaan ekosistem infrastruktur yang sudah ada," katanya.

Direktur Fadhillah Mathar menyatakan kompetisi dalam Jambore TIK bukan tujuan akhir, melainkan awal untuk belajar dan mengembangkan diri. "Sarana awal untuk belajar dan TIK ini adalah pintu bagi mereka agar bisa sejajar dengan kawan-kawannya, juga memanfaatkan semua hal untuk mereka belajar lebih berkreasi serta TIK bisa secara produktif untuk mencari nafkah," tegasnya.

Ia mengungkap Indonesia belajar dari negara tetangga untuk mendorong para penyandang disabilitas agar mampu berkreasi di Bidang TIK. "Seperti halnya di Korea, mereka sudah bisa coding karena mereka sangat tekun. Inilah yang belum kita explore dari para disabilitas, sebenarnya mereka jauh lebih baik dari kita yang nondisabilitas," ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala Bagian Kepegawaian Sekretariat Badan Litbang SDM Kemkominfo Ahlan Muntarno melaporkan Jambore TIK bagi Remaja dan Dewasa dengan Disabilitas Tahun 2017 yang berlangsung di Wilayah I Kota Jayapura akan dilaksanakan selama tiga hari.

Jambore itu diikuti 100 orang peserta disabilitas yang berusia remaja (15-24 tahun) dan usia dewasa (25–35 tahun) dari Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara. "Mereka dari sekolah luar biasa, panti asuhan, komunitas dan yayasan yang menaungi kalangan disabilitas. Dan telah lolos seleksi dalam proses pendaftaran secara online," lapornya.

Adapun materi pelatihan yang diberikan antara lain Microsoft Office Excel, Word, Powerpoint, Internet, Design Grafis dan Public Speaking. Kompetisi dalam Jambore sendiri akan dibagi menjadi dua yaitu Kompetisi Kategori Individu dan Kompetisi Kategori Kelompok dan Kompetisi kategori individu: Microsoft Office (Excel, Word, Powerpoint), Internet, Desain Photoshop & Publik Speaking serta  Kompetisi kategori kelompok: Desain Sampul dan Desain Presentasi.

Jambore TIK Tahun 2017 memurut Ahlan, ditujukan untuk meningkatkan e-literasi remaja dan dewasa penyandang disabilitas. "Memberikan wawasan mengenai peluang TIK dalam memanifestasikan potensi mereka untuk produktif, dan meningkatan informasi dan pemahaman keluarga tentang peluang TIK bagi remaja dan dewasa penyandang disabilitas dalam inklusi aktivitas sosial dan budaya, dan inkusivitas pembangunan serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya inklusivitas pembangunan," jelas Ahlan.[Is]