Uskup Agung Semarang Ajak Warga Saling Hargai Perbedaan
  • 324
  • 0
  • 0
  • 0

Indonesia merupakan negara yang majemuk, dari berbagai suku, agama, ras, dan aliran kepercayaan. Oleh karena itu, masyarakat diajak saling terbuka menghadapi perbedaan. Gereja katolik juga diajak untuk tidak eksklusif.

Hal itu diungkapkan Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko Pr saat meresmikan paroki Santo Yusuf, Bandung, Playen, Gunungkidul. "Kehadiran paroki saya berharap tidak hanya untuk orang katolik tetapi terbuka bagi masyarakat sekitar," ujarnya.

Menurut dia, gereja seharusnya bermanfaat bagi sesama, sehingga tidak eksklusif dan harus terbuka bagi siapa saja. Di tengah masyarakat yang terdiri dari berbagai umat beragama, diharapkan tetap bersatu sebagai bangsa Indonesia.

"Marilah kita srawung (berhubungan dengan masyarakat), tidak menjadi kelompok eksklusif," ucapnya.

Mgr Robertus mengatakan, persatuan umat beragama di Gunungkidul tak lepas dari campur tangan pemerintah, termasuk berdirinya paroki mandiri di wilayah barat ini.

"Kami ucapkan terima kasih, mendukung kami bahkan memfasilitasi," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul Badingah berharap gereja menyiapkan generasi muda yang berkualitas untuk mendukung pembangunan Gunungkidul.

"Gereja hendaknya juga menjadi mitra pemerintah dalam menanamkan dan membangun kareakter generasi muda yang menjunjung tinggi nilai etika dan moral, memiliki etos kerja yang baik dan berdaya saing sehingga menjadi sumber daya manusia yang berkualitas membangun Gunungkidul," katanya.

Selain itu, lanjut dia, lembaga keagaamaan ikut berpartisipasi bersama pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan.

"Saya berharap lembaga keagaaman, termasuk gereja Katolik santo Yusuf, Bandung juga turut berpartisipasi dalam pelayanan pemberdayaan masyarakat baik bidang kemanusiaan, sosial kemasyarakatan, pendidikan hingga perekonomian," katanya

Sementara itu, panitia pelaksanaan, Yosafat Kusiyat Sutopo mengatakan, paroki Bandung awal 1990 mulai terpisah dari Proki Wonosari. Lalu tahun 1998 ditingkatkan menjadi paroki administratif, tahun 2012 kuwasi paroki. Tahun 2017 ditetapkan sebagai paroki mandiri.

Saat ini ada sekitar 3.218 orang, yang tersebar di 35 lingkungan, di 6 wilayah, yang berada di 8 kecamatan di Gunungkidul. Acara puncak sendiri dihadiri berbagai tokoh, mulai dari Dandim, hingga Ketua DPRD Gunungkidul Suharno.

Sebelumnya digelar perayaan Misa dipimpin oleh Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko, Pr. "Puncaknya gelaran wayang kulit oleh dalang Romo Tri Wijayanto pr," katanya. [An]


sumber : kompas.com