Tokoh Lintas Agama Jelang Hari Santri Nasional 2017
  • 267
  • 0
  • 0
  • 0

Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia Nahdlatul Ulama (LESBUMI NU) menggelar acara diskusi kebudayaan dengan tema "Meneguhkan Kebudayaan Bangsa, Memperkuat Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia". Acara tersebut digelar untuk menyambut Hari Santri yang jatuh pada 22 Oktober 2017.

Dalam diskusi ini, turut hadir sejumlah tokoh lintas agama. Mereka adalah Wasekjen PBNU Suwadi P Pranoto, Sekjen Indonesian Conference in Region and Peace (ICRP) Romo Johannes Haryanto, Ketua Umum Matakin Kong Hu Cu Uung Sendana, tokoh Hindu I Made Suparta, Wasekjen Lesbumi NU Abdullah Wong, dan Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Ali Maskur Musa.

Dalam pemaparannya, I Made Suparta berharap masyarakat sadar betul dengan pentingnya menjaga kerukunan dan memelihara alam.

"Tirakat atau Tapabrata penting. Tugas kita dilahirkan menjadi manusia itu menjaga alam yang sudah indah menjadi indah. Menjaga masyarakat yang rukun terus menjadi rukun. Menyucikan seluruh semesta ini," tutur I Made Suparta di bilangan Condet, Jakarta Timur, Sabtu (21/10/2017).

Bangsa Indonesia kaya dengan perbedaan seperti isu terkini, yakni suku dan agama. Jika mau dipikir matang, Tanah Air memegang teguh demokrasi lantaran persatuan para pendahulu dan tokoh masa lalu.

"Kenapa memilih demokrasi padahal Islam terbesar di bangsa ini? Bukan karena Islam tidak bisa menopang, tapi dari sejarah kita. Inilah beruntungnya kita memiliki Sukarno yang mengerti bangsa ini. Ada gejala penyangkalan sejarah di masyarakat modern," jelas I Made Suparta.

Romo Johannes Haryanto menambahkan, terlalu banyak masyarakat yang termakan oleh isu agama sehingga mencoba memberikan pembeda antara satu dan lainnya. Contoh kecilnya adalah dengan salam.

"Di Indonesia ini kita punya problem mabok agama. Karena apa-apa harus dikembalikan ke istilah-istilah agama. Label itu begitu penting. Kalau muslim muslimah saling menyapa assalamualaikum, lalu orang Kristen merasa 'oh kita harus punya juga'. Maka menyatut punya orang Yahudi, Syalom. Ini nyatut," terang Romo Johannes Haryanto.

Menurut dia, itu merupakan salah kaprah yang akut. Dia mengistilahkan seperti seseorang yang sibuk dengan cashing-nya, tapi tidak mengetahui apa prosesornya.

"Kita lebih harus belajar peka dengan kehidupan orang lain," kata dia.

Sementara Ali Maskur Musa berbicara bahwa dalam hidup itu sangat penting untuk mengendalikan diri. Lebih lengkapnya ” Kalau manusia itu rakus artinya melebihi takarannya, maka yang terjadi hilangnya ekosistem. Kehidupan sekarang yang paling penting mengendalikan rasa, nafsu, dan akal. Manusia modern terkadang tidak menyeimbangkan rasa, nafsu, dan akal,”.

Semua tokoh lintas agama yang hadir di diskusi tersebut sepakat bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dijaga bersama-sama. Seperti nilai-nilai strategis untuk menyongsong revolusi mental dalam program gerakan Indonesia Bersatu, para warganya juga harus bersatu gotong royong untuk menjaga keutuhan NKRI.[]