Plester Luka Terbuat dari Rumput Laut Inovasi Baru Smk Farmasi Surabaya
  • 328
  • 0
  • 0
  • 0

SURABAYA – Melirik potensi sumber daya maritim yang besar di Indonesia, melalui bentuk Indonesia Mandiri, siswa SMK Farmasi Surabaya melakukan riset terhadap rumput laut.

Riset yang menjadi bagian dari karya ilmiah remaja (KIR) tersebut bahkan mampu menyabet juara dalam 2 olimpiade karya ilmiah tingkat nasional yang diadakan Universitas Airlangga.

Berlianda Rahma Salsabilah (17), Via Qurrota A’yun (18) dan Solehah Noer Amalia (17) merupakan siswa yang memulai riset dari literatur berbagai peneliti dalam memanfaatkan rumput laut.

Eucheuma spinosum adalah salah satu jenis rumput laut yang digunakan untuk obat dalam plester luka.

“Untuk membuat rumput laut bisa digunakan pada plester, kami hancurkan dulu dan direndam dalam air. Hasilnya akan kami dapatkan ekstrak flavonoid,” ujar Via.

Flavonoid bisa dimanfaatkan sebagai anti radikal bebas hingga meningkatkan kekebalan tubuh. Sehingga, bisa meningkatkan proses penyembuhan luka.

Para siswa ini membuktikannya dengan mengujinya menggunakan reaksi asam sulfat dan larutan besi klorida. Hasilnya menunjukkan ekstrak yang dihasilkan dari rendaman rumput laut memiliki flavonoid.

“Kami juga mengujinya pada mencit dengan 3 cara. Yang pertama hanya diberi plester, kemudian plester dengan larutan povidone iodine dan plester dengan ekstrak rumput laut,” lanjut Via.

“Hasil yang diperoleh yaitu tingkat kesembuhan luka pada mencit paling cepat dengan menggunakan ekstrak rumput laut yaitu 2 hari luka sudah menutup dan hari ketiga mulai muncul sel baru.” Tambah berlianda

Sedangkan plester dengan povidone iodine yang biasa digunakan dalam obat pertolongan pertama malah membutuhkan waktu 3 hari.

Selain mengolahnya menjadi plester, tiga sekawan ini juga melakukan riset untuk mengubah ekstrak rumput laut menjadi energi alternatif.

Untuk mengubah rumput laut hingga bertegangan listrik, Berlianda mengungkapkan rumput laut dilakukan inkubasi subtrat menggunakan tiga sampel. Sampel pertama rumput laut yang diinkubasi tanpa ragi, kedua menggunakan satu butir ragi dan sampel ketiga menggunakan tiga butir ragi. Masing-masing menggunakan rumput laut seberat 800 gram.

“Paling tinggi hasilnya yang sampel ketiga. Dari proses inkubasi selama tiga hari itu menghasilkan 6,5 volt. Setiap hari kami ukur hasil inkubasinya. Lampu yang paling terang menyala saat memasuki hari ketiga,” tambah Sholehah.

Guru pembimbing tim KIR SMK Farmasi Surabaya, Kristiana mengungkapkan, karya siswa binaannya sudah cukup baik. Namun, ada yang masih ada harus dikembangkan lagi. Khususnya untuk mengetahui kuat arus listrik yang dihasilkan.

“Riset anak-anak masih dalam rangka pembuktian. Selanjutnya mungkin bisa dikembangkan untuk meneliti kuat arus,” tutur perempuan yang juga guru mapel Fisika itu. [Is]

Sumber: http://surabaya.tribunnews.com/2017/12/05/siswa-smk-farmasi-surabaya-buktikan-rumput-laut-efektif-untuk-plester-luka