Plagiarisme Rusak Dunia Pendidikan!
  • 206
  • 0
  • 0
  • 0

Isu plagiarisme yang menimpa seorang rektor di sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta telah tercium Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti). Belakangan, rektor tersebut dicurigai keras melakukan plagiarisme untuk disertasinya. Mengambil sikap atas kejadian tersebut, Kemenristek Dikti menyusun tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) yang bekerja dalam skala nasional setelah menemukan indikasi pelanggaran norma akademik di sejumlah perguruan tinggi. Salah satu yang disorot adalah rektor di Jakarta yang membimbing 20 mahasiswa S3 sekaligus.

 

Prof. Dr. Agus Sartono selaku Deputi Bidang Pendidikan dan Agama di Kementerian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menyayangkan tindakan tersebut. Guru besar Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada tersebut mengatakan, isu plagiariseme yang terjadi menjadi momentum untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh dan berkoordinasi dengan Kemenristek Dikti.

 

Ditanggapi Agus, apa yang dilakukan rektor plagiat itu, telah jauh melenceng jauh dari tujuan pendidikan. Pasca kejadian itu, Agus menilai dunia pendidikan kini digeser hanya untuk mencari gelar yang menghalalkan segala cara.

 

“Padahal tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang berintegritas. Orang yang tidak bisa menjaga integritas berarti dia mudah berbohong pada diri sendiri. Jika sudah mudah bohong kepada diri sendiri maka dia akan mudah membohongi orang lain. Tidak heran jika intergritas sudah hilang, maka korupsi bukan perkara yang sulit untuk mereka lakukan,” tegas Agus.

 

Menurut Agus, plagiarisme muncul antara lain karena kita terlambat mendidik anak-anak untuk menghormati norma dan etika sitasi atau pengutipan pendapat orang lain. Ia mengatakan hal tersebut harusnya telah ditanamkan dengan benar sejak anak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama hingga perguruan tinggi. “Kelihatannya sederhana memang, tapi ini menyangkut norma dasar kejujuran akademis,” tuturnya.

 

Agus mengimbau Kemenristek Dikti bisa menindak tegas kasus plagiarisme, agar tidak kembali terulang. "Bagi mereka yang terbukti plagiat, seharusnya gelarnya dicabut, agar masyarakat atau lembaga pendidikan bisa belajar dan tidak mengabaikan plagiarisme. Terlebih perguruan tinggi merupakan tiang utama penegakan pendidikan karakter. Jika dirusak dengan cara-cara seperti ini, lalu kepada siapa kita akan belajar integritas dan kejujuran ilmiah, kepada siapa lagi kita berharap jika lembaga pendidikan tinggi mementingkan hasil daripada proses,” tegas Agus. [Ar/dbs]

 

Sumber foto : thekharkivtimes.com