Penyaring Limbah Logam Berat Dengan Abu Vulkanik Karya Remaja Solo
  • 275
  • 0
  • 0
  • 0

Letusan Gunung Kelud, Jawa Timur, bulan Februari tahun lalu meninggalkan sampah abu vulkanik yang mengotori daerah Kediri, Malang, hingga Solo. Tak sengaja melihat manfaat abu vulkanik, Luca Cada Lora pun mendapat ide untuk menggunakan abu vulkanik sebagai alat penyaring limbah beracun.

Luca pun mencari referensi soal hal tersebut di internet. Ternyata, dalam sebuah jurnal ilmiah peneliti luar negeri sudah berhasil menemukan manfaat tanah vulkanik (vulcanic soil) yang terletak di kaki gunung sebagai alat penyaring limbah.

"Kalau pakai tanahnya saja bisa, bagaimana jika pakai abu vulkanik murni? Itu yang mendasari penelitian saya," ujarnya.

Luca-pun meneliti soal manfaat abu vulkanik untuk menyaring limbah industri logam berat khususnya limbah chronium hexavalent (cr-6) yang biasanya digunakan industri sebagai campuran pembuatan logam stainless steel. Limbah CR-6 sendiri diketahui merupakan limbah berbahaya karena bersifat karsinogen atau bahan penyebab kanker.

Alat yang dibuat Luca pun sederhana. Limbah berbahaya tersebut disedot dengan mesin pompa air yang dipasangi pipa utama juga pipa tambahan yang berguna sebagai pengatur debit air dan pipa pembuangan. Setelah air yang berisi limbah dialirkan ke tabung pertama yang berisikan serat fiber yang berfungsi untuk menyaring limbah yang berpartikel besar. Setelah melalui tabung pertama, baru air yang berisi limbah cairan dialirkan ke tabung kedua yang berisikan abu vulkanik.

"Abu vulkanik ini sifatnya menyerap CR-6 tadi. Jadinya zat CR-6nya tersangkut atau tertahan di abu vulkanik. Hasilnya akhirnya, limbah yang keluar sudah bukan limbah berbahaya dan dapat dibuang dengan aman," sambungnya.

Dalam acara pameran yang dilaksanakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Luca mengaku sudah ada beberapa pihak yang ingin membeli alat ini namun ia tolak dengan alasan agar alat ini dapat dimanfaatkan semua orang.

"Kemarin memang ada yang mau beli alat ini. Tapi saya nggak mau. Kalau soal paten juga nggaklah. Jadi misalnya nanti ada letusan gunung di tempat lain misalnya ada yang mau buat alat ini silahkan. Cuma tolong kredit ide pembuatannya tertulis nama saya," sambungnya lagi.[An]


sumber : detik.com