Pentingnya Penyelarasan Sistem Hak Kekayaan Intelektual
  • 331
  • 0
  • 0
  • 0

Peningkatan kecanggihan penelitian dan permintaan global untuk penelitian dan inovasi menuntut negara-negara di dunia untuk menyelaraskan secara regional sistem Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk menjadi bangsa yang mandiri. Karena hal itu, ITS mendapuk pakar dari Agora Institute untuk membekali para peneliti guna meningkatkan efektifitas praktik tersebut dalam Workshop Strategic Intellectual and Property Management for Effective Research and Inovations in Asian Higher Education (SPIRE), Senin, (27/11).


Bertempat di Ruang Sidang I Gedung Rektorat ITS, Alicia Blaya dari Agora Institute menjelaskan ada tiga kode praktik untuk universitas dalam kegiatan transfer ilmu. Yaitu menerapkan kebijakan HKI, kebijakan transfer ilmu harus melengkapi kebijakan HKI, dan prinsip untuk berkolaborasi dan kontrak penelitian.


“Dalam sistem HKI yang tepat, kita harus memiliki subjek pasar diantaranya penemuan, kekhasan dalam penemuan, penampilan produk, desain chip, dan berakhir dengan terciptanya karya yang nantinya menghasilkan hak cipta,” tutur wanita itu sembari tersenyum.

Dalam diskusi yang melibatkan 12 perguruan tinggi di Asia Tenggara tersebut, Alicia mengungkapkan bahwa Eropa selalu diakui lebih baik dalam menghasilkan pengetahuan tingkat tinggi daripada mengubahnya menjadi bermanfaat dalam bidang sosio-ekonomi.

“Karena selain publikasi dan pertukaran riset, universitas di sana diminta untuk secara aktif terlibat dalam kegiatan eksploitasi lainnya seperti kegiatan lisensi dan masih banyak lagi,” tutur Alicia merujuk pada negara di Eropa.

Suatu universitas membutuhkan hak untuk menggunakan kekayaan intelektual bagi kepentingan penelitian di masa depan. “Hal itu berguna untuk mempertahankan hak atas penelitian non-komersial. Dengan penyelarasan secara regional, praktik kekayaan intelektual tentu menjadi lebih efektif,” pungkasnya. [Ar/dbs]


Sumber foto : its.ac.id