Pengabdian Guru Muda di Pedalaman Borneo
  • 339
  • 0
  • 0
  • 0

Apa yang telah kamu lakukan di usia seperempat abad? Sebagian besar dari kita mungkin masih menghabiskan waktu menikmati keseruan masa muda dengan berbagai aktivitas bersama kawan-kawan. Berbeda dengan Ovianus Madang (25), empat tahun sudah ia mengajar di daerah pedalaman Borneo. Ia yang hanya lulusan SMA Barong Tongkok, Kutai Barat itu mengemban tugas sebagai guru bagi siswa SD 004 Filial Long Isun, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam, Kalimantan Timur.

“Bangunan ini merupakan satu-satunya sekolah di kampung Long Isun. Tak ada yang mau mengajar di sini. Saya berani mengajukan diri, karena kasihan anak-anak di Isun Lama jika tidak ada yang menjadi guru bagi mereka," tutur Ovianus.

Sebelum sekolah dasar filial itu dibangun, anak-anak dari Isun Lama harus menyeberang dengan ces (sampan khas Dayak –red.) sekitar 30 menit, membelah aliran sungai Mahakam ke Datang Suling, tempat SD 004 Long Isun berada. Kondisi itu tentu memberatkan anak-anak apalagi yang masih duduk di bangku kelas 1 hingga kelas 4. Warga Isun Lama kemudian berembuk mencari jalan keluar, hingga kemudian mereka secara swadaya mendirikan bangunan sekolah yang sederhana.

Bangunan itu dari bahan kayu dan papan. Persoalan muncul, karena sulit mencari guru yang bisa tinggal secara menetap di sana. Sementara guru di SDN 004 Long Isun juga terbatas. Mendengar kondisi itu, Ovianus tergerak hati lalu bersedia mengabdi untuk anak-anak di Isun Lama.

"Saya sebenarnya bercita-cita menjadi polisi. Tapi ini lebih penting, saya orang asli di sini, dan merasa ikut bertanggungjawab dengan masa depan anak-anak," kata Ovianus.

Berbekal ilmu pengetahuan yang dia dapat sewaktu duduk di bangku SMA, Ovianus kemudian menjadi guru tunggal bagi murid-murid di SD 004 Filial Long Isun. Empat kelas sekaligus!

Ovianus terus bertekad memberikan yang terbaik bagi seluruh murid yang mereka bina, agar masa depan mereka cerah. Mereka tak ingin, anak-anak suku Dayak ini tertinggal dalam ilmu pengetahuan.

"Kami memang bermimpi ada bantuan berupa paket buku dan peralatan sekolah agar proses belajar mengajar di sini bisa lebih layak lagi. Bagi kami, melihat anak-anak bisa mencerna seluruh pelajaran dan tidak tertinggal dari anak-anak Indonesia lainnya, sudah lebih dari cukup," harap Ovianus.

Kini, walau terkendala dalam hal komunikasi dan akses transportasi, Ovianus mencoba meraih gelar sarjana lewat kuliah di Universitas Terbuka. Dinas Pendidikan Kabupaten Mahakam Hulu memberi syarat kepadanya, jika ingin menjadi PNS, dia harus menjadi sarjana.

Inilah bukti bahwa Indonesia belum kehabisan sosok muda yang memiliki integritas dan etos kerja yang tinggi. Dengan tulus mereka mampu menunjukkan bahwa gerakan Indonesia Mandiri dan Indonesia Melayani bisa dilakukan oleh semua orang. [An]


(sumber: Kompas.com)