Ni Luh Djelantik: Sepatu Lokal Yang Dipakai Selebritas Dunia
  • 331
  • 0
  • 0
  • 0

Semua berawal dari cinta. Sejak kecil, Ni Luh memang menaruh perhatian lebih pada alas kaki karena Ni Luh kecil tak pernah mendapat sepatu yang pas. Sebagai orangtua tunggal, ibu Ni Luh berjuang agar bisa menyekolahkan putrinya di tempat terbaik.

“Mama lebih fokus pada pendidikan, jadi [sepatu] harus diganjel sama kain karena dua atau tiga ukuran lebih besar,” kenang Ni Luh.

Kadang, sepatu Ni Luh keburu rusak atau berlubang saat ukuran mulai pas di kaki. Kesederhanaan itulah yang membuat Ni Luh berangan-angan untuk memiliki sepatu yang pas di kaki.

Setamat SMA, Ni Luh meneruskan pendidikan di Jakarta sesuai dengan keinginan ibunya. Ia kuliah di manajemen keuangan Universitas Gunadarma mulai 1994. Setahun di Jakarta, Ni Luh belajar mencari kerja agar bisa mandiri. Pekerjaan pertamanya adalah operator telepon di sebuah perusahaan tekstil asal Swiss. Mulai berpenghasilan, Ni Luh teringat hasratnya memiliki sepatu yang pas di kaki. Gaji pertama didapat, ia langsung membeli sepatu di kawasan Blok M, Jakarta.

Sepatu bertumit tinggi menjadi pilihan karena Ni Luh bekerja kantoran. Harganya Rp15.000 disesuaikan dengan kantong Ni Luh saat itu. “Sepatu pertama saya yang pas di kaki, gak nyaman dipakai,” ungkapnya.

Seiring membaiknya kondisi keuangan, Ni Luh mampu mendapatkan sepatu impian yang nyaman di kaki dan pas di hati.

Kemesraan Ni Luh di Jakarta buyar pada akhir 2001. Garangnya kriminalitas Ibu Kota menyergap perempuan kelahiran 15 Juni 1975 ini pada suatu senja di Bilangan Senen. Rasa takut membuat Ni Luh meninggalkan karier di Jakarta. Apalagi sang Ibu juga memintanya untuk kembali ke tanah kelahiran.

Di Bali, Ni Luh kembali mendapatkan pekerjaan di perusahaan fashion milik pengusaha Amerika Serikat, Paul Ropp. Ni Luh dipercaya untuk memegang kendali sebagai Direktur Marketing. Kerja kerasnya berbuah sukses, Paul Ropp berkembang pesat. Di tahun pertama yakni 2002, penjualan naik hingga 330%. Butik bertambah hingga 10 lokasi. Tapi, hasrat pembaca setia novel-novel karya John Grisham ini tak pernah lepas dari alas kaki.

Perjalanan bersama Paul Ropp tak berlangsung lama. Pekerjaan marketing harus ditinggalkan karena Ni Luh jatuh sakit saat tengah berada di New York pada awal 2003. Dokter meminta Ni Luh tak berpergian jauh sekurangnya dalam enam bulan. Padahal, profesinya menuntut Ni Luh untuk terbang ke sejumlah negara. “Dibuat mikir lagi,” lanjut Ni Luh, “Harus memutuskan tinggal di Bali atau New York.”

Ni Luh memutuskan kembali ke Bali, Ni Luh benar-benar terobsesi oleh “kekurangan” dia di masa lalu. Pada saat itu pula, Ni Luh bertemu Cedric Cador. “Kita bertemu, jatuh cinta.” Peluang pun tercipta karena Cedric memang terbiasa memasarkan produk Indonesia di Eropa. Prinsipnya bahwa tiap perempuan seharusnya bisa memakai sepatu dengan tumit setinggi 12 cm dengan nyaman akhirnya melahirkan produk sepatu bernama Nilou, yang tak lain adalah slang lafal Ni Luh di lidah bule. “Otomatis lahirnya dari cinta.”

Ni Luh fokus mendesain sepatu-sepatu cantik berbahan dasar kulit. Semua dikerjakan tangan agar kualitas tetap terjaga. Di awal pendirian, Ni Luh membutuhkan waktu hingga 2 bulan untuk menyelesaikan satu desain sepatu. Alokasi waktu paling lama untuk berdiskusi dengan pengrajin. Biasanya, Ni Luh menunjukkan sepatu mahal koleksinya ke tukang. “Saya tanya ke mereka, bisa nggak bikin yang lebih bagus dari ini,” kata penggemar alas kaki karya Manolo Blahnik dan Christian Louboutin ini.

Untuk membedakan dengan produsen sepatu lainnya, Nilou fokus ke pembuatan sepatu dengan tumit antara 10 cm hingga 12 cm. Menurut Ni Luh, sepatu tumit tinggi yang baik adalah sepatu yang tetap nyaman dipakai meski sudah dipakai selama 8 jam, bukan 10 menit.

Itu sebabnya, Ni Luh begitu peduli pada proses pembuatan. Satu tukang, jelas dia, bertanggung jawab untuk menyelesaikan sepasang sepatu. Dari memotong bahan, menjahit, hingga membentuk hak sepatu. Tak masalah jika dalam satu hari workshop-nya hanya bisa memproduksi satu pasang sepatu. Sebab, kualitas produk jauh di atas kuantitas.

“Kalau saya melihat lima pasang sepatu yang berjajar di etalase, saya tahu siapa pembuat masing-masing sepatu itu,” kata Ni Luh. Sebab, antara satu tukang dan tukang lain memiliki gaya yang berbeda, meski hal itu hanya akan tampak di mata Ni Luh seorang.

Tak disangka, koleksi pertama Nilou langsung booming di Prancis. Pesanan pun membanjir. Hingga 4.000 pasang. Pada 2004, Ni Luh mendapatkan kontrak outsource dari jaringan ritel Topshop yang berpusat di Inggris. Pintu perdagangan ke Eropa kian terbuka lebar. Di tahun yang sama, seorang perempuan berkewarganegaraan Australia berkunjung ke gerai Nilou di kawasan Seminyak, Bali. Perempuan yang kemudian dikenal dengan nama Sally Power ini mengaku terkesan dengan sepatu Nilou dan menawarkan diri untuk menjadi distributor di Negeri Kanguru.

Nilou semakin tenar. Pada saat bersamaan, desainer-desainer internasional yang berproduksi atau mencari inspirasi di Bali ikut memakai produk Nilou. Dari situlah Ni Luh memulai hubungan profesional mendesainkan sepatu untuk perancang-perancang busana dunia seperti Nicola Finetti, Shakuhachi, Tristanblair, dan Jessie Hill. Sejumlah selebriti Hollywood papan atas, seperti Uma Thurman, supermodel Gisele Bundchen dan Tara Reid, dan Robyn Gibson (mantan istri Mel Gibson) merupakan sebagian perempuan yang fanatik memakai sepatu Nilou.

Sepatu made in Bali ini kini dipajang di ratusan etalase di 20 negara di dunia, selain di kantor pusat Nilou di Denpasar. “Kalau Uma beli sepatu Nilou di Saint Barth.” bisik Ni Luh, merujuk ke sebuah pulau kecil di Kepulauan Karibia.

Kalau di awal pendirian Ni Luh hanya mampu memproduksi 3 pasang sepatu, itupun hanya barang pajangan, Nilou memiliki kapasitas produksi hingga 200 pasang sepatu per bulan. Dahulu, hanya memiliki dua karyawan, Nilou dibantu 22 karyawan dan 3 asisten kepercayaan. Jika toko pertamanya jauh dari kesan eksklusf dengan tembok kusam, dan berdinding anyaman bambu (gedhek), Nilou telah membuka 36 butik di 20 negara.

Ni Luh mengakui inspirasi merancang sepatu didapat dari mana saja. Ide-ide yang muncul ini biasanya langsung Ni Luh berikan konsepnya kepada sang shoes maker dan mereka langsung menerjemahkannya menjadi sepasang sepatu yang cantik. Sepatu-sepatunya kebanyakan memakai bahan baku kulit asli, dikombinasikan dengan karung goni, kuningan, kayu, hingga manik-manik. Atas nama eksklusivitas, Nilou menghargai sepasang sepatunya hingga Rp4 juta. Omzet perusahaan yang diraih pun terbilang besar, mencapai Rp800 juta untuk setiap bulan.

Di tengah kesuksesan, cobaan kembali datang. Pada 2007, Ni Luh mendapat tawaran dari agen di Australia dan Prancis untuk melebarkan sayap. Nilou diproduksi secara massal di Cina dengan iming-iming sejumlah besar saham. Dengan tegas, Ni Luh menolak. Dia tak ingin cintanya yang melekat setiap pasang sepatu yang dihasilkan dari workshop-nya tergantikan oleh mesin atas nama kapitalisme. “Saya tak mau apa yang dibina dari nol dibawa ke luar negeri. Berkah dari Tuhan kembali ke anak-anak [pengrajin],” kilas Ni Luh.

Namun, keputusan itu harus menjadi pil pahit. Nilou yang sudah mendunia ternyata sudah didaftarkan pihak lain. Penolakan Ni Luh tak membuat bergeming. Kongsi pecah. “Mereka tetap jalan dengan mass production bermerek Nilou berbasis di Cina,” ujar Ni Luh.

Karena alasan itu pula, dia terpaksa membunuh Nilou, brand yang lahir dan tumbuh dari cintanya. Ni Luh kembali ke belakang layar dengan berkonsentrasi memproduksi sepatu untuk desainer asing. “Yang penting mesin jahit tetap jalan, anak-anak tetap bareng aku, kita gak misah.”

Tak ingin terlalu lama tenggelam dalam kegamangan, Ni Luh kembali mencoba peruntungan di bisnis sepatu. Kali ini ia berjuang sendiri. Awal 2008, pecinta shopping dan travelling ini kembali membangun usahanya dengan memproduksi sepatu bermerek “Ni Luh Djelantik”. Agar tak terulang, brand Ni Luh Djelantik langsung dipatenkan.

Setahun kemudian high heels buatannya sudah melanglang buana kembali di berbagai negara Eropa, Australia dan Selandia Baru.“Julia Robert memakai produk saya, ketika pembuatan film ‘Eat Pray Love’ di Bali kemarin,” ujar Ni Luh.

Label baru ini bahkan telah menembus Globus Switzerland pada 2011, yang merupakan salah satu retailer terkemuka di Eropa. Sepatu-sepatu ini mulai dipasarkan pada musim panas 2012. Ni Luh belum lama ini juga bekerja sama dengan retailer terkemuka untuk membuka Ni Luh Djelantik di Rusia.

Atas kerja kerasnya, Ni Luh meraih Best Fashion Brand & Designer The Yak Awards in 2010. Dinominasikan sebagai Ernst & Young for Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women 2012 Awards. Sebagai persembahan bagi pecinta high heels, Ni Luh membuka butik Ni Luh Djelantik seluas 250 meter persegi di Bali pada pertengahan Maret 2012.

Kisah jatuh bangun bersama high heels dikubur dalam-dalam dan menjadi pembelajaran untuk bangkit bersama Ni Luh Djelantik. Dia tak pernah menyesali keputusan menolak dan membenamkan Nilou. Keputusan yang memiliki dua konsekuensi, yakni bangkrut karena melawan perusahaan yang lebih besar atau justru berhasil.[]