Kisah Anak Petani Padi dan Palawija Meraih Doktor Termuda IPB
  • 304
  • 0
  • 0
  • 0

Keterbatasan bukan alasan untuk tidak memperoleh pendidikan. Sebab, berkat etos kerja yang tinggi dan seakan telah tertanam jiwa Indonesia Mandiri dalam dirinya, Ihsan Nurkomar, peraih gelar doktor pada usia 26 tahun, telah membuktikannya.

Ihsan merupakan mahsiswa doktoral yang lulus dari Program Studi Entomologi, Jurusan Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) batch I dari Kemristekdikti. Ia juga terekam sebagai doktor termuda yang pernah diluluskan IPB.

Selain capaiannya yang gemilang, sejatinya, Ihsan Nurkomar tidak berbeda dengan kebanyakan orang. Ia tidak lahir dari keluarga besar, tidak pula mendapat perlakuan spesial.

Seperti dilansir dari laman Ristekdikti, Sabtu (9/12/2017), setiap satu atau dua minggu sekali, Ihsan kembali ke tempat ia memulai mimpi, yakni Desa Wanayasa, Kabupaten Purwakarta. Di sana, ia ditempa oleh seorang petani padi dan palawija sebagai ayah, juga seorang guru agama sebagai ibu.

Kedua orang tua Ihsan tidak mewariskan pengetahuan tinggi-tinggi; hanya semangat, kerja keras, juga kesederhanaan yang tidak pernah hilang makna.

Dengan bekal kehidupan yang mereka berikan, Ihsan mulai membentuk tujuan sebagai akademisi di bidang pertanian. Sawah warisan kakek tempat Ihsan kecil bermain, kini telah menjadi ladang amal baginya. Sawah juga menjadi tempatnya berbuat kebaikan yang berguna.

Sebab, pengembangan ilmu, bagi Ihsan, tidak hanya berguna untuk ilmu itu sendiri, tetapi juga harus membawa perubahan yang berarti. Sejalan dengan keyakinan itu, Ihsan terus meneliti. Dan, dalam setiap penelitiannya, adalah iman dan takwa kepada Sang Pencipta yang selalu ia temukan.

Kini, sebagai penyandang gelar Doktor di Bidang Entomologi, Ihsan banyak melakukan supervisi kepada adik-adik tingkat yang mengalami kesulitan dalam penelitian. Ia juga masih melanjutkan aktivitas penelitiannya di ‘rumah kedua’, laboratorium IPB.

Setelah berhasil menyumbang peningkatan publikasi ilmu pengetahuan Indonesia di dunia internasional, bukan berarti perjuangannya selama 10 tahun sebagai ilmuwan telah usai. Akan ada hari-hari yang harus Ihsan lalui untuk bersiap menjadi dosen di kampusnya sendiri, tempat ia meningkatkan kepakaran dalam bidang proteksi tanaman, tempat Ihsan memulai abdinya kepada masyarakat Indonesia. (Is/Sus)

Sumber: https://news.okezone.com/read/2017/12/08/65/1827228/kisah-anak-petani-padi-dan-palawija-meraih-doktor-termuda-ipb