Kirim Buku Gratis, Pos Indonesia Dukung Gerakan Literasi Nasional
  • 289
  • 0
  • 0
  • 0

Gerakan Literasi Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 adalah gerakan untuk lebih meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia yang saat ini masih sangat rendah dan juga sebagai salah satu cara pemerintah untuk menangkal berita negatif, provokatif, atau Hoax.

“Masyarakat jarang mau baca, akibatnya mudah sekali mendapatkan informasi negatif, hoax dan konten lainnya tanpa lebih dahulu melakukan verifikasi kepada sumber yang shahih. Literasi ini sangat perlu terutama untuk masyarakat dengan level yang harus lebih ditingkatkan lagi,” ungkap Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di Kantor Pos Jakarta Timur.

“Ayo donasikan bukumu. Dengan semakin banya membaca baik buku, koran atau dari informasi yang shahih lainnya hal ini sekaligus untuk menangkal peredakan konten negatif atau hoax yang kian hari semakin menghawatirkan,” jelas Rudi seraya menambahkan pihaknya juga melakukan kerjasama dengan MUI, Mapindo dan organisasi lainnya untuk mencegah dan menangkal berita negatif serta provokatif.

Presiden Jokowi saat mengundang penggiat Literasi Nasional di Istana Negara telah memerintahkan PT Pos Indonesia untuk membantu berinovasi dengan mendistribusikan buku-buku yang telah terkumpul dan mengirimkannya kepada penggiat Ayo Baca Buku di seluruh Indonesia. Alasan presiden memilih Pos adalah jangkauan yang mencapai seluruh pulau-pulau Indonesia.

“Drop saja ke kantor pos, biar kami nanti yang akan mengantar ketujuannya, semuanya tidak dipungut biaya. Gratis” kata Direktur Utama PT Pos Indonesia, Gilarsi Wahyu Setijono setengah berpromosi.

Terkait dengan biaya pengiriman, Gilarsi menyatakan hingga kini semua biaya pengiriman di tanggung oleh Pos, namun jika kedepannya ada efek cost yang signifikan mempengaruhi botom line Pos tentu pihaknya akan berbagi dengan BUMN besar lainnya.

“Sementara ini kita mengalir dulu. Tapi jika nanti mempengaruhi efect cost, kita tentunya akan share dengan BUMN besar lainnya seperti Pertamina, PLN dan Bank-Bank BUMN serta BUMNlainnya pastilah mereka willing (peduli) dalam mencerdaskan bangsa. Pasti adalah yang bersedia dan juga peduli. Kami di Pos tidak perlu mempertanyakan (masalah biaya pengiriman). Kami Faham Indonesia butuh ini. Gerakan ini seharusnya telah berlangsung puluhan tahun lalu, namun meski terlambat namun gerakan semacam ini memang harus dilakukan. Targetnya semakin banyak anak Indonesia di bawah 15 tahun yang gemar membaca,” urai Gilarsi.

Pada kesempatan itu, Tompi yang didaulat untuk memberikan testimoninya menuturkan, kenangan pahitnya sewaktu pada masa kecilnya di Provinsi  Aceh. Ia kerap kali disuruh ibunya untuk membeli bumbu dapur antara lain cabai di warung.

Meski jarak warung dari rumahnya sebenarnya hanya lima menit, namun artis yang juga berprofesi sebagai dokter itu mengaku perlu waktu 45 menit untuk membeli cabai dengan bungkus koran itu, bahkan saudara yang lain harus menyusulnya untuk membawa cabai pesanan ibunya.

“Korannya saya baca dulu bolak-balik, jadi beli cabainya lama. Saya merasakan membaca itu manfaatnya sangat besar terutama untuk anak-anak. Saya menghimbau kepada masyarakat untuk mengirimkan buku setiap tanggal 17. Gerakan ini adalah gerakan yang sangat bermanfaat untuk membangun bangsa. Terutama untuk anak-anak diluar Jawa. Saya akan mengirimkan buku untuk anak-anak di Indonesia,” papar Tompi.[]