Jiwo Pogog, Mahasiwa "KKN Zaman Now" Menghidupkan Perekonomian Sebuah Desa
  • 272
  • 0
  • 0
  • 0

Tidak perlu menunggu hingga menjadi kaya untuk berbagi. Mulailah kebaikanmu sekarang juga meskipun dilakukan dengan hal kecil. Prinsip tersebut merupakan bentuk karakter pilar Gerakan Nasional Revolusi Mental, yaitu Gotong Royong menjadikan Indonesia Mandiri, yang seakan terpatri dalam diri Jumali Wahyono Perwito.

Jiwo Pogog, panggilan akrabnya, mencerminkan kiprahnya berbagi tersebut. Pogog merupakan nama dusun tempat ia membuat pembaruan. Dusun tersebut berada di Desa Tengger, Kecamatan Puhpelem, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Nama Pogog ini sampai sekarang melekat menjadi nama belakangnya. Banyak award yang telah ia terima karena kegiatan pemberdayaannya terhadap warga ini.

Ia adalah penerima Danamaon-Social Entrepreneur Awards 2013, penerima Adhikarya Pangam Nusantara, APN Award 2014.

Kala itu, sebagai mawasiswa, ia menciptakan teori "The Power Of One" atau TPOO. Dan di desa Pogo inilah ia mempraktekkannya. Selama melakukan program pemberdayaan kepada masyarakat Pogog, Mas Jiwo telah melakukan perubahan besar.

Beberapa program yang telah dilakukannya adalah Pepayanisasi (2017), Durianisasi dan Desa Wisata Buah Durian Unggul (2009), Perpustakanisasi (2010, Asemisasi (2010), Bronjong Babi Sumur Resapan (2010), Ayamisasi (2010), Program Little Kalimantan In Pogog (2010), Pralonisasi (2011), Desa Pembibitan atau Bibitisasi (2011), Sangkarisasi (2013).

Mengutip dari Kompas.com, “Semua berawal dari kegalauan mas, daripada saya stress dan terbebani hidup saya, saya pergi ke Pogog,” ceritanya saat ditemui Kompas.com  di rumahnya, Desa Trangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Desa Pogog, Wonogiri merupakan daerah yang dikenal Jiwo tahun 1993 silam, saat  ia Kuliah Kerja Nyata  sebagai mahasiswa jurusan Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret Surakarta. Berada di wilayah pegunungan kapur, Desa Pogog tidak memiliki komoditas pertanian yang bisa diunggulkan.

Namun kondisi itu berubah ketika Jumali atau Jiwo datang ke desa tersebut untuk menenangkan diri, setelah bisnis mebelnya hancur terkena hantaman krisis global 2008. Krisis itu memaksa ratusan pengusaha mebel di Sukoharjo, harus gulung tikar, tak terkecuali usaha milik Jiwo.

Hal itu membuat Jiwo terguncang. Tekanan batin dan ekonomi membuat Jiwo memilih untuk menenangkan diri di desa Pogog, yang terletak sekitar 105 kilometer dari tempat tinggalnya.

Tidak hanya 1-2 hari, Jiwo yang saat itu terpuruk ingin mengobati jiwanya dengan menikmati ketenangan ala pedesaan. “Nah, disaat itu, krisis global ternyata tidak hanya dialami di area perkotaan, namun imbas krisis pun terasa di Pogog,” ucapnya.

Ia berkisah, kala itu banyak pemuda Pogog awalnya merantau di kota terpaksa harus pulang kampung karena perusahaan mereka bekerja gulung tikar.  Jiwo yang dikenal warga desa sebagai pengusaha mebel pun menjadi sambatan alias  tempat berkeluh kesah para warga desa.

“Saya justru dimintai solusi, karena mereka sudah kehilangan pekerjaan mereka,” ungkap ayah dua orang anak ini.

Dijadikan tempat curhat warga desa,  Jiwo yang bermaksud menenangkan diri itu, menjadi terpicu untuk membantu mereka. Suami dari Galuh ini berpikir keras untuk mencari solusi yang tepat dan bisa dikerjakan warga.

Akhirnya, ide itu muncul. Kebetulan, seminggu sebelumnya dia bersama keluarga baru saja ke desa penghasil pepaya di Boyolali. Di sana Mas Jiwo melihat langsung bagaimana pepaya bisa meningkatkan ekonomi warga. Kebetulan, latar belakang warga Pogog juga petani.

’’Jadi, sepertinya cocok. Spontan, saya langsung mengusulkan kepada warga untuk menanam pepaya saja karena ada uangnya,’’ ungkap alumnus Sastra Inggris UNS itu. ’’Tanaman buah kan sekali tanam bisa berkali-kali panen. Sedangkan tanaman singkong dan sayur-mayur sekali panen, ya sudah sekali saja,’’ imbuhnya.

Mendengar penjelasan Mas Jiwo, warga pun setuju. Tanpa banyak bicara, Mas Jiwo bergerak. Dia mendatangkan ribuan bibit pohon pepaya ke Pogog untuk dibagikan secara gratis kepada warga. Mas Jiwo juga mendatangkan tenaga ahli sambil sesekali mengirim warga Pogog untuk ’’sekolah’’ kepada ahlinya. Warga hanya perlu menanam bibit pepaya di lahan mereka dan merawat bibit tersebut sampai menghasilkan buah.

Pohon pepaya pun tumbuh subur sampai akhirnya berbuah. Panen pertama bisa dibilang sukses. Warga bisa merasakan hasil dari pohon pepaya mereka tersebut. ’’Pohon pepaya itu sudah seperti mesin ATM. Kalau butuh uang, tinggal petik buahnya, jual, jadi uang,’’ kata Mas Jiwo.

Namun, pada tahun kelima, Mas Jiwo dan warga Pogog baru menyadari bahwa pepaya bukan pilihan yang baik untuk warga Pogog. Pepaya yang butuh banyak air ternyata kurang tepat dibudidayakan di Pogog yang kering kerontang. Belum lagi hama white fly alias kutu putih yang menyerang tanaman pepaya. Maka, setelah dimusyawarahkan dengan warga, Mas Jiwo memutuskan untuk berhenti membudidayakan pepaya.

Pilihan berikutnya jatuh pada durian. Menurut survei yang dilakukan Mas Jiwo dan warga, pohon durian diyakini bisa tumbuh dan berkembang di dusun itu. Tak perlu lama, dia kembali bergerak mencarikan bibit pohon durian untuk dibagikan kepada warga. Dia memilih durian montong untuk dibudidayakan di Pogog.

Jika dibandingkan dengan jenis durian lain, durian montong dari Thailand punya nilai ekonomis yang lebih tinggi. Mas Jiwo pun mempresentasikan idenya itu kepada warga Pogog. Tanggapan warga beragam. Ada yang setuju, ada pula yang meragukan. Khususnya terkait dengan harga jualnya yang mahal.

’’Saya bilang kepada mereka, durian ini bisa dijual Rp 45 ribu per kilo. Mereka bertanya balik, dengan harga segitu, siapa yang mau beli,’’ tuturnya.

Tetapi, Mas Jiwo tidak menyerah. Dia tidak peduli dengan warga yang tidak berminat membudidayakan durian montong. Toh, masih banyak warga yang mau. Dia lalu membagikan bibit pohon durian setinggi 50 sentimeter seharga Rp 15 ribu kepada warga.

Tiga tahun kemudian (2015), pohon durian yang lantas dinamai durian Pogog itu mulai berbuah. Jumlahnya memang belum banyak. Tapi, kualitasnya super.

Panen pertama, tidak ada satu pun yang mengenal durian Pogog. Mas Jiwo kemudian menjualnya kepada teman-teman dekatnya. Salah satunya seorang pejabat di Bappeda Wonogiri. Pejabat itu langsung kepincut dengan durian yang punya daging tebal, biji kecil, kulit tipis, dan bercita rasa manis tersebut. Sejak itu, Mas Jiwo kebanjiran pesanan.

Panen kedua, nama durian Pogog mulai dikenal. Semakin banyak yang ingin mencicipi durian yang konon punya cita rasa yang jauh lebih enak daripada durian montong itu.

’’Durian Pogog umumnya matang di pohon. Sedangkan durian montong baru 70 persen matang sudah dipetik. Pokoknya, kalau sudah coba durian Pogog, nggak mau coba durian lainnya,’’ tegasnya.

Keraguan warga soal siapa pembeli durian Pogog yang mahal terpatahkan dengan banyaknya orang yang datang ke Pogog untuk membuktikan cita rasa durian varietas baru itu. ’’Setelah melihat potensi durian Pogog yang begitu besar, warga yang tertarik untuk menanam pohon durian pun bertambah banyak,’’ ungkap Mas Jiwo.

Dengan keunggulan rasa durian yang spesial, muncul ide Mas Jiwo untuk mengembangkan Pogog menjadi desa wisata durian. Apalagi, secara kasatmata, buah durian di pohon-pohon budi daya itu terlihat amat menarik. Pohonnya yang tidak tinggi, daunnya yang tidak terlalu lebat, dan buahnya yang besar membuat pengunjung bisa dengan mudah ber-selfie dengan latar buah durian yang siap dipetik.

Nantinya, kata Mas Jiwo, pihaknya menata Dusun Pogog dan melengkapinya dengan berbagai fasilitas yang bisa dimanfaatkan pengunjung. Mas Jiwo juga menyiapkan durian raksasa untuk dijadikan alat promosi desa wisata tersebut. Durian Pogog dua tahun berturut-turut mencatat rekor sebagai durian terberat se-Indonesia. Pada 2014 durian Pogog mencatat rekor dengan berat 9,2 kg. Rekor itu terpecahkan tahun lalu dengan berat 10,1 kg.

”Nanti kami siapkan 1–2 pohon untuk membuat durian berukuran raksasa,” terang Mas Jiwo.

Salah satu kunci kesuksesan budi daya durian Pogog adalah penyerbukan yang baik. Untuk masalah penyerbukan, warga Pogog menggunakan stingless bee alias lebah tanpa sengat. Selain membantu penyerbukan, stingless bee menghasilkan madu yang punya banyak khasiat. Madu itu kini juga menjadi komoditas Dusun Pogog.

Usaha Mas Jiwo dan warga Pogog bukan tanpa hambatan. Sebab, tidak sedikit yang memberikan penilaian miring terhadap Mas Jiwo. Mas Jiwo bercerita, Pogog yang berada di lereng gunung dikelilingi situs-situs mistis yang kerap dimanfaatkan orang-orang tertentu untuk mencari aji pesugihan. Dia pun ikut terkena tudingan negatif tersebut. Gara-gara tudingan miring itu, sebagian warga enggan menjalankan program budi daya yang disusun Mas Jiwo.

”Mereka ikut menanam pepaya dan durian. Tapi, tidak merawatnya karena takut jadi tumbal pesugihan,” ungkap dia.

Mas Jiwo menuturkan, sebagian warga Pogog memang mencurigai aktivitasnya di dusun tersebut. Pasalnya, Mas Jiwo rela merogoh kocek pribadi untuk membeli bibit pepaya dan durian, mendatangkan ahli pertanian, menyekolahkan warga untuk belajar, dan menyerahkan hasil pertanian itu 100 persen kepada warga. Mas Jiwo tidak mengambil keuntungan sepeser pun. Hal tersebut makin membuat warga curiga.

”Di Pogog kepercayaan terhadap hal mistis memang kuat. Ditambah lagi, ketika mereka bertanya apa untungnya bagi saya membantu mereka, saya bilang cuma untuk happy-happy. Mereka jadi makin curiga,” ujarnya.

Tidak berhenti sampai di situ. Mas Jiwo juga dicurigai telah melawan alam ketika hujan tidak kunjung turun. Menurut Mas Jiwo, warga berpikir bahwa tindakannya menanam ribuan bibit pohon durian sekaligus telah melawan irama alam. Akibatnya, hujan tidak turun.

”Padahal, saat itu dari Sabang sampai Merauke memang sedang tidak hujan,” kata Mas Jiwo, lantas tertawa.

Dalam mengembangkan Pogog, Mas Jiwo menolak bantuan dari pihak lain. Terutama untuk urusan dana. Setiap program yang diluncurkan dibiayai sendiri. Dia punya keinginan untuk membuktikan bahwa dalam kondisi bangkrut pun, dia bisa memberdayakan desa tandus. ”Ini ilmu the power of one ciptaan saya. Saya ingin membuktikan, kita sendirian saja bisa. Bahkan ketika sedang melarat. Jangan pernah takut untuk mencoba,” tandas dia. [Is]

Sumber Foto: kompasiana.com