Indonesia Kiblat Restorasi Gambut Dunia
  • 312
  • 0
  • 0
  • 0

Bentuk kekayaan Indonesia yang patut disyukuri dan dibanggakan oleh rakyatnya ialah hutan rawa gambut yang terhampar luas. Secara umum, gambut dikenal sebagai endapan organik yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan atau jasad hewan yang membusuk dan tertimbun selama ribuan tahun. Perlu diketahui bahwa luas lahan gambut yang ada di Indonesia merupakan terbesar keempat setelah Canada (170 juta ha), Uni Soviet (150 juta ha), serta Amerika Serikat (40 juta ha). Namun di antara negara tropis, Indonesia adalah pemilik lahan gambut terbesar.

Lahan gambut ini tersebar di tiga pulau besar yaitu Sumatera, Kalimantan dan Papua. Apabila dijumlahkan, maka luas lahan gambut yang ada di Indonesia sekitar 14,9 juta hektar atau sedikit lebih luas dari pulau Jawa. Dari luas tersebut, 875 ribu hektar mengalami kerusakan karena terbakar pada tahun 2015, 2,8 juta hektar merupakan kawasan kubah berkanal, 3,1 juta hektar merupakan lahan gambut budidaya dengan kanal dan 6,2 juta hektar merupakan kawasan kubah gambut yang belum terbuka.

Menghadapi permasalahan tersebut, untuk mewujudkan Indonesia Mandiri dan Indonesia bersih, tentunya Indonesia tidak diam begitu saja. Berbagai pihak meliputi pemerintah (pusat maupun daerah), pengelola proyek atau program rehabilitasi, pengusaha hutan, akademisi, praktisi lapangan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan masyarakat luas kemudian berkolaborasi mewujudkan lahan gambut yang produktif dan lestari melalui berbagai program restorasi gambut. Upaya untuk merestorasi gambut meliputi tiga hal, yaitu pembasahan kembali lahan gambut salah satunya dengan sekat kanal, penanaman kembali menggunakan tanaman ramah gambut (paludikultur), dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat..

Bentuk perwujudan nilai-nilai revolusi mental dalam mencintai dan menjaga kekayaan alam Indonesia ini membawa hasil Baru-baru ini, Indonesia kembali menuai decak kagum dari berbagai negara di dunia. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa “United Nations Environment Programme” (UNEP) menyatakan Indonesia merupakan negara yang menjadi contoh bagi dunia dalam upaya merestorasi gambut. Indonesia merupakan negara pertama yang menjalankan restorasi gambut secara masif dan berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca hingga mencapai 1 giga ton. Oleh karenanya, Indonesia dianggap yang paling memenuhi Perjanjian Paris COP21 dalam menurunkan emisi gas dibandingkan negara lain. COP atau Conference of Parties menjadi forum bagi 195 negara dan satu blok ekonomi (Uni Eropa), untuk saling bertemu dan mendiskusikan rencana kemanusiaan memerangi perubahan iklim.

Indonesia juga ditunjuk menjadi salah satu anggota dalam Global Peatlands Initiative yang diluncurkan pada Konferensi Perubahan Iklim di Maroko (UNFCCC COP22) tahun 2016 lalu. Kemudian pada bulan Mei 2017, Indonesia, tepatnya Provinsi Riau menjadi tuan rumah dalam pertemuan mitra GPI yang kedua. Dalam pertemuan itu pula, berbagai perwakilan dari Republik Kongo, Republik Demokratik Kongo dan Peru serta anggota lainnya hadir dan belajar langsung bagaimana sistem tata kelola gambut di Indonesia.

Keberhasilan Indonesia dalam restorasi gambut juga menjadi sorotan dalam COP23 di Bonn, Jerman, bulan November 2017 lalu. Indonesia dinilai mampu melakukan lompatan dan capaian tak biasa dalam tata kelola gambut, di tengah ancaman perubahan iklim yang kian menantang negara-negara dunia. Dari Indonesia, dunia belajar bagaimana restorasi gambut yang baik.

Perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut menjadi penting bukan hanya karena peran ekologis semata, melainkan juga peran ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat setempat. Masyarakat banyak bergantung pada lahan gambut karena keanekaragaman hayati yang dimilikinya menjadi mata pencaharian sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Sudah saatnya pula kita sebagai bangsa Indonesia ikut menjaga kelestarian lahan gambut karena menjaga gambut, berarti menjaga Indonesia. [Is]

Sumber: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/12/02/indonesia-jadi-contoh-restorasi-gambut-untuk-dunia