Dukung Kesetaraan Sekaligus Asian Para Games 2018 dengan "Run for Difabel"
  • 257
  • 0
  • 0
  • 0

Event Run For Difabel yang mengusung tema “Humanity in Diversity” berlansung di Jakarta, Minggu (3/12). Acara ini diharapkan mampu meningkatkan dukungan kesetaraan bagi teman-teman difabel di tengah masyarakat sekaligus mensosialisasikan penyelenggaraan Asia Para Games. Asian Para Games 2018 sendiri akan berlangsung pada 6-13 Oktober tahun depan, dimana masyarakat bisa menyaksikan para atlet difabel dari seluruh negara di Asia berlaga dalam 17 cabang olahraga dengan 582 kategori pertandingan.

Lomba lari ‘Run for Difabel’, selain sebagai pembuka ajang Asian Para Games, sekaligus sebagai acara perayaan Hari Difabel Dunia dengan tujuan agar diskriminasi yang terjadi bisa dihilangkan dengan meningkatkan kesetaraan untuk peyandang difabel. Tepat di depan panggung, penonton dan pengunjung yang memakai kursi roda, tongkat, kaki palsu, atau yang berdiri dengan dua kaki, saling bergandengan dan menebarkan senyuman satu sama lain. Tak ada yang berbeda di antara mereka.

“Perbedaan kemampuan seharusnya bukan menjadi penghalang untuk bekerja sama, sebaliknya perbedaan justru harus menjadi alasan untuk bekerja sama. Melalui ‘Run for Difabel’ kami berhadap dapat meningkatkan dukungan akan kesetaraan bagi teman-teman difabel di tengah masyarakat,” ujar Raja Sapta Oktohari, Ketua Indonesian Para Games Organizing Committe (INAPGOC) selaku penyelenggara Asian Para Games 2018.

Kesetaraan, tutur Okto, menjadi nilai yang diusung oleh gerakan Paralympic Internasional. Dengan acara berlari bersama, perbedaan yang kasat mata antara peyandang difabel dan non-difabel dapat memudar oleh aktivitas yang sama. Sebab, lanjut Okto, yang mesti dibanggakan bukanlah perbedaan melakinkan semangat untuk hidup bersama.

“Nilai itu juga yang ingin kami kampanyekan dalam kegiatan ini,” lanjut Okto.

Di tempat yang sama, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Olahraga Masal dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), I Nyoman Winata, menyambut baik dan mengapresiasi acara ini. Ia mengatakan, berlari bersama dapat menjadi tanda bahwa ada persamaan yang sedang diusahakan, dan ada posisi yang setara di mata Negara antara penyandang difabel dan non-difabel. Dan itu yang sedang dilakukan oleh Pemerintah dengan menyamakan semua kebutuhan atlet penyandang difabel.

“Pemerintah sangat senang, dan bahkan Presiden menyamakan bonus-bonus yang didapatkan oleh atlet penyandang difabel dan non-difabel. Jadi, intinya tidak membedakan, Pemerintah menyamakan baik itu bonus dan kedudukan atlet atlet difabel. Di samping itu juga pelatihan pelatihan disamakan,” ucap I Nyoman Winata.[An]



Sumber:  kumparan.com  // indotimes.co.id