Dengan Alat Ciptaan Siswa SMA Ini, Tunanetra Bisa ‘Dengar’ Warna
  • 280
  • 0
  • 0
  • 0

Buta warna adalah gangguan yang bagi sebagian orang mungkin terlihat sepele, tapi sebenarnya tidak demikian. Mereka yang mengidap kondisi ini tidak dapat mengetahui warna-warni alam maupun menikmati indahnya lukisan. Tetapi dibalik terbatasnya penglihatan, penderita buta warna biasanya memilki sensitivitas terhadap suara yang jauh lebih baik.

Hal tersebut dimanfaatkan oleh Jane Carolyne Hantanto, siswa kelas XII SMAK Penabur Gading Serpong, Jakarta. Dirinya membuat alat yang mampu mengonversi warna menjadi gelombang suara. Bukan melihat, tuna netra dan buta warna dapat mengetahui warna dengan ‘mendengarkan warna’.

“Perbedaan warna menghasilkan perbedaan gelombang yang ditangkap dan bunyi yang dihasilkan melalui speaker,” kata Jane saat memamerkan penelitiannnya di Indonesia Science Expo (ISE) 2017 yang diadakan oleh Lembaga Imu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Balai Kartini, Jakarta.

Penelitian Jane berangkat dari pengalaman kakak kelasnya yang gagal dalam ujian kimia. Saat itu, seniornya harus mampu membedakan warna larutan kimia.

Alat buatan Jane bukanlah yang pertama. Sebelumnya mahasiswa Universitas Cornell, Deyu Liu dan Kevin Lin, telah membuat alat yang mengubah warna menjadi suara. Alat mereka mampu mengenali dan mengubah sembilan warna menjadi suara. Jane mengklaim alat buatannya mampu mengenal lebih banyak warna. Warna merah muda, merah tua, dan merah tidak dijadikan satu suara seperti pada buatan Deyu dan Kevin.

“Secara teori, dari alatnya itu bisa membedakan 16 juta warna. Jadi akan terbentuk 16 juta suara,” kata Jane.

Alat konversi suara buatan Jane terdiri dari arduino, LED RGB, fototransistor, pengeras suara, dan baterai yang dirangkai ke dalam satu kotak kecil.

Pertama, LED RGB diarahkan kepada bidang berwarna. Ketiga warna dasar (merah, hijau, biru) ini berkedip bergantian dalam kecepatan 1 milimeter per detik sehingga terlihat ketiga warna berkedip bersamaan.

Kemudian, intensitas pantulan warna dari LED RGB akan dihitung oleh fototransistor dan dianalisis. Hasilnya masuk ke dalam arduino untuk memodulasi gelombang. Lalu, pengeras suara mengeluarkan suara yang berbeda dari setiap warna yang dipantulkan.

“Jadi nanti bukan lihat lukisan tapi dia mendengarkan lukisan. (Tapi) visualisasinya harus benar-benar hebat. Misalkan suaranya sama, sama, sama, beda. Nah ketika beda berarti ada garis. Memang butuh latihan ekstra ya, apalagi kalau gambarnya sudah kompleks,” kata Jane.

Dalam membuat alat itu, Jane dibantu oleh guru fisika dan pembimbing LIPI Dr. Esa Prakasa M. T. Prosesnya memakan waktu sekitar delapan bulan, dari Februari hingga September 2017. Bulan Oktober digunakan untuk penyelesaian akhir.

Kemampuan alat tersebut diujikan kepada teman sekolahnya. Dari dua puluh warna, delapan warna berhasil dijawab dengan benar.

“Harapannya, tuna netra bisa membedakan warna. Khsususnya yang buta warna dan hanya bisa lihat hitam dan putih. Untuk ke depannya, orang disabilitas warna bisa melukis atau masuk ke jurusan yang mengharuskan menggunakan warna, mendesain sesuatu dengan warna,” kata Jane.

Cerminan integritas dan etos kerja yang dimiliki Jane patut pula dimiliki oleh pemuda Indonesia lain. Agar nilai Indonesia Mandiri senantiasa terwujud.


(Sumber foto: Kompas)