Danau Perintis, Destinasi Wisata Hasil Gotong Royong Warga Suwawa
  • 299
  • 0
  • 1
  • 0

Danau Perintis yang tetaknya di Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo ini dibendung oleh masyarakat pasca-kemerdekaan Indonesia. Fungsi awal danau ini yakni sebagai penampung air dan mengalirkannya ke sawah-sawah warga.

Seiring waktu, danau ini sering dikunjungi masyarakat luar Suwawa untuk memancing ikan namun kemudian beragam kepentingan bertemu di sini.

"Danau Perintis adalah aset masyarakat Suwawa, memiliki nilai sejarah karena para pejuang kita dulu sering rapat di sini untuk mengatur strategi melawan penjajah Belanda," kata Camat Suwawa, Achril Yoan Babyonggo.

Menyadari memiliki potensi wisata alam ini, Achril bersama staf kecamatan dan masyarakat setempat melakukan huyula atau gotong royong membenahi danau ini dengan membersihkan gulma air, rumput, enceng gondok, sampah, disingkirkan dari danau.

Achril mengaku bahwa awalnya kegiatan ini terasa sulit, karena tanaman dan sampah basah sulit diangkat, bahkan banyak stafnya yang mengeluh. Namun, Achril selalu meyakinkan mereka, ini adalah potensi wisata yang bisa memberikan pendapatan bagi masyarakat dan pemerintah jika dikelola dengan baik.

Berminggu-minggu masyarakat digerakkan untuk membersihkan danau. Tidak ada hari libur bagi mereka, Sabtu-Minggu tetap bekerja.

"Saat danau sudah terlihat indah, saya bersyukur karena masyarakat melihat sendiri hasil kerja mereka," ujar Achril.

Tidak hanya berhenti di sini, Danau Perintis yang sudah bersolek ini harus dikenalkan kepada masyarakat. Ini pekerjaan yang harus dibuatkan perencanaannya oleh Camat Suwawa. Bersama stafnya, Achril terus mendiskusikan cara mengenalkan dan menarik wisatawan agar datang ke destinasi baru ini.

"Akhirnya saya putuskan melalui media sosial. Murah dan efektif," tutur Achil.

Awalnya, ia melakukan pemotretan melalui ponsel, setiap sudut Danau Perintis didokumentasikan. Menurut dia, ini penting untuk menambah stok foto dan memberi nafas panjang promosi pariwisata. Tidak puas dengan kamera ponsel, ia kemudian menggunakan kamera DSLR, hasilnya lebih menawan sebagai bahan promosi.

Promosi yang gencar membuahkan hasil, perlahan-lahan Danau perintis sebagai destinasi wisata diketahui orang banyak. Kunjungan wisatawan, terutama pada akhir pekan mulai marak. Remaja, keluarga hingga rombongan sudah marak.

Dengan merogoh Rp 5.000, pengunjung bisa menaiki rakit bambu yang didorong mesin tempel untuk berkeliling menjelajahi pinggiran danau dan menyaksikan Gunung Tilongkabil.

Warung-warung makanan pun dibuka dengan menyajikan berbagai kuliner khas yang bisa dinikmati di pinggiran danau. Mulai dari kopi khas Bone Bolango, Pinogu dan Gabulu, pisang goreng atau sanggala dengan dabu-dabu, Milu (jagung) rebus atau bakar disajikan dengan sayur putung o(jantung pisang) yang dicampur parutan kelapa dan rempah-rempah, rasanya pasti lebih nikmat. Demikian juga bilendango atau ikan bela rica yang selalu menggoda untuk menyantapnya.

"Sudah ada masyarakat yang membuka warung makan khas Suwawa, silakan datang ke Danau Perintis," kata Achril Babyonggo.

Untuk masuk danau ini tidak dipungut biaya. Siapa saja bisa datang sambil menikmati udara segar yang diembuskan dari pinggiran hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Berkembangnya sektor pariwisata mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif, di Suwawa mulai digalakkan anyaman rumput mindu, untuk membuat upiah karanji, kopiah keranjang yang dulu sering dikenakan Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih Sandiaga Uno.

Rumput mindu yang selama ini hanya tumbuh liar di kebun warga, namun dengan kehadiran wisatawan bisa ditawarkan sebagai cendera mata yang menawan.

Masyarakat pinggiran Danau Perintis kini lebih optimistis menatap masa depan mereka. Rumput dan tanaman air yang selama ini tumbuh liar di sekitar danau sekarang bisa diubah menjadi uang, menjadi harapan untuk kehidupan yang lebih baik.[An]


Sumber: kompas.com